Samudera Biru

Samudera Biru
Mam apa?


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


Cek lek...


Biru yang berniat memanggil suaminya langsung masuk kedalam kamar, Ia membuang napas kasar saat melihat Dan justru tertidur di sofa dengan memeluk bantal kecil yang biasa di gunakan untuk sandaran. Wajahnya begitu tampan dan bersih.


"Wajar rasanya jika aku sangat takut kehilanganmu. Kamu pria sempurna sedangkan aku hanya seorang upik abu yang kamu angkat menjadi cinderella. Maaf jika dua hari ini sudah membuatmu tak nyaman, tapi bukankah kamu sudah tau jika aku seorang wanita yang tak bisa menyembunyikan rasa cemburu" lirih Biru sambil mengusap pipi suaminya.


Sam bergeliat kecil, ia begitu nyaman dengan sentuhan tangan yang di berikan Biru. Sayup-sayup ia mendengar apa yang di bicarakan tapi ia enggan untuk membuka mata. Biru bisa menyembunyikan rasa kagum dan cintanya tapi saat sandaran hatinya terusik tentu ia tak akan tinggal diam.


.


.


"Bee, ayo bangun. Saatnya makan siang"


"Hem"


"Bee, ayo... pesananmu sudah matang. Jangan sampai semua habis di makan oleh Rain" ucap Biru sambil bangun dari duduknya di bawah sofa.


Tangan Biru yang di cekal secara mendadak membuat ia kembali ke posisi semula. Kini kedua netra teduh mereka saling bertemu untuk menyampaikan kerinduan.

__ADS_1


"Cium aku" Pinta Sam.


Biru yang awalnya mengernyit kan dahi kini tersenyum kecil. Ia cium kening Sam sesuai permintaan suaminya barusan.


"Lagi..."


"Hey!" protes Biru.


"Ayolah, aku dari kemarin gak di cium kamu loh. Senyum kamu pun gak sama sekali" kini Sam pun mulai melayangkan protesnya.


Biru yang tersudut, akhirnya menurut. Bukan hanya kening tapi dua pipi dan ciuman bibir sekilas pun wanita cantik itu berikan.


"Aku mau lebih, Sayang" ujar Sam lagi, pria itu bagai tak tahu di untung.


Sam langsung bangun dari baringnya. Senyum merekah begitu saja bersama isi otak yang entah sedang melanglang buana kemana. Ia melirik kearah jam lalu bersandar lemas.


"Nunggu malemnya jam berapa?" tanya Sam, ia tahu pasti Rain akan tidur lebih dari jam sembilan malam. Anak itu sulit sekali memejamkan mata saat tak lagi ASI.


"Ya pokonya saat semua aman" sahut Biru. Ia benar-benar bangun lalu keluar dari kamar meninggal kan suaminya yang mendadak pusing dan frustasi sendiri.


.

__ADS_1


.


Biru kembali ke ruang makan, ia mengajak Rain lebih dulu untuk membersihkan tangan dan mulutnya sebelum makan siang. Anak itu begitu anteng jika sudah berdua dengan si Ireng bahkan sampai lupa dengan segudang mainnya sendiri. Rain juga sering bernyanyi dan mengobrol bersama Kucing peliharaannya. Tapi jika sudah kesal karna di abaikan, bocah tampan itu pun akan menangis dan memarahi si Ireng. Sulit untuk Biru memberi penjelasan jika hewan berbulu itu yang bisa menimpali ucapannya.


"Bum, makan siang dulu ya, kita cuci tangan sama ganti baju dulu, Ok" ajak Biru. Ia yakin jika anaknya pasti sudah sangat kotor karna sejak pagi terus bermain di lantai. Apapun kini ia makan untuk selingan sebelum jam makan siang.


Bendem?


"Enggak, sayang. Kita bersih-bersih aja, Yuk"


Yuk.. nda andi ya.. icih icih aja keh..


Mendengar celoteh Rain, Biru pun langsung gemas dan mencium pipi putranya.


"Loh, kamu makan apa ini, Bum?"


.


.


.

__ADS_1


Mam, Miong...



__ADS_2