Samudera Biru

Samudera Biru
sikap aneh Biru


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Tiga bulan berlalu, semua masih sama dan aman yang berbeda hanyalah Hujan yang kini sudah tak sesibuk dulu. Wanita karier yang dulu memiliki segudang kesibukan itu kini lebih fokus menemani suaminya atau juga Biru di apartemen.


Sama seperti hari ini, Ia tengah sibuk membuat beberapa bingkisan untuk di berikan ke beberapa orang orang yang kurang mampu di salah satu perkampungan pinggir kota.


Kegiatan sosial turun temurun yang keluarga Rahardian lakukan hingga detik ini.


"Abis bagi bagi bingkisan kita ke panti jompo papAy ya, katanya ada yang baru pulang dari rumah sakit, Kita jenguk kesana" ajak Hujan, seperti yang semua tahu jika Air memang memiliki tempat singgah untuk para Lansia yang tak lagi memiliki keluarga atau sanak saudara. Dan itu sudah berjalan jauh sebelum Air menikahi Hujan.


"Iya, Moy. Aku ikut aja" jawab Biru, gadis yang beberapa waktu lalu sudah genap berumur delapan belas tahun itu.


Obrolan ringan keduanya bincangkan, Hujan selalu memperlakukan Biru sebaik mungkin seperti Melisa dulu memperlakukannya tanpa membedakan antara ia dan Kahyangan ataupun Cahaya.


Ketiganya mendapatkan kasih sayang sama rata tanpa ada perbandingan.


.


.


.


"Moy, Aku ke mobil ya, kepala ku sakit banget" bisik Biru saat Hujan sedang mengobrol dengan beberapa orang.


"Kamu sakit?"

__ADS_1


Biru menggeleng kan kepalanya, keringat dingin mulai keluar dari kening juga tengkuknya.


Entah ada apa dengan dirinya karna ini sungguh mendadak ia rasakan yang awalnya tentu baik baik saja.


"Ya sudah, kamu ke mobil duluan nanti Moy nyusul ya"


"Gak apa-apa, gak usah buru buru, Moy, Aku cuma mau tidur sebentar di mobil"


Biru yang sebenarnya tak enak hati akhirnya tetap berjalan gontai menuju mobil yang terparkir di dekat kantor balai desa setempat. Namun, langkahnya berhenti saat ia melihat salah satu pedagang sedang di keliling oleh beberapa anak kecil yang duduk berkerumun.


"Apaan sih, rame banget" gumam Biru yang membelokkan langkahnya karna penasaran.


Sampai di tempat yang di tuju, Biru hanya memperharikan apa yang ia lihat sampai akhirnya senyum terukir di sudut bibirnya yang ranum.


"Abang, aku mau satu ya" pinta Biru pada si pedagang yang hanya di balas anggukan kepala karna sibuk melayani yang lainnya juga.


"Ini, Neng" ucap si pedagang sambil menyodorkan es yang di serut lalu di padatkan didalam cetakan berbentuk kura-kura kemudian di berikan pewarna agar terasa manis dan segar.


"Makasih ya, Bang" sahut Biru sambil menerima pesanannya beserta uang.


"Ambil aja kembaliannya, Bang" tambahnya lagi yang langsung mendapatkan banyak ucapan terimakasih kasih.


"Udah lama gak makan kaya gini, rasanya masih sama tapi makin kecil ya" kekeh Biru sambil terus menikamati es serutnya.


Ia yang duduk di tepi mobil terus menunggu mama mertuanya datang, Biru tak berani masuk karna takut jika mobil mewah Hujan akan kotor dengan sisa es yang berjatuhan.

__ADS_1


"Bi, katanya pusing?" tanya Hujan yang membuat Biru terlonjak kaget..


"Iya, Moy. Udah enggak kok" jawabnya sambil mengelus dada.


Keduanya langsung masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lainnya tapi saat ditengah jalan Biru meminta Hujan untuk menepikan mobilnya sesaat.


"Ada apa, Bi?" tanya Hujan bingung.


.


.


.


.


.


.


.


Ada yang rame rame, aku mau liat, Moy!


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

__ADS_1


Miss kepoo 🤣🤣🤣🤣


__ADS_2