
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Pindah rumah?" Biru yang kaget langsung menoleh dengan tatapan tak percaya dengan apa yang di dengar suaminya barusan.
"Itupun kalo kamu mau, Bee" kata Sam dengan santai sambil melepas handuk yang membelit tubuh bagian bawahnya.
"Kamu serius, ada apa?" Biru menghampiri dan masih terus menyelidik.
"Enggak sayang, aku cuma nawarin loh. Kan kamu tahu, aku punya banyak apartemen dan rumah. Kalau kamu mau kita pindah ya aku sih Ok aja" jawab Sam dengan tangan menangkup wajah alami si pemilik hati.
"Aneh aja, lagian aku yakin Moy, papAy, Amma apalagi Appa gak akan izinin, Bee"
Sam tersenyum sambil mengangguk, jika Reza bisa egois tentu sejak dulu ia ingin semua anak dan menantunya berkumpul di rumah utama. Tapi Bumi punya cara pandang lain yang ingin istrinya tinggal dengan nyaman karna ada Air yang bukan muhrimnya. Dan si bungsu Cahaya yang mau tak mau ikut dengan Langit yang seorang anak tunggal kaya raya Biantara.
"Kita tak pernah bicara kan ini sebelumnya. Bukan berarti aku tak perduli perasaan mu. Ada beberapa menantu wanita yang sering berselisih pagam dengan mertuanya"
"Mertuanya yang seperti apa dulu? semua menantu pasti nyaman jika memiliki mertua seperti MiMoy dan Amma, Bee" sahut Biru dengan nada kesal karna ia merasa sedikit tersenggung.
Sam langsung mengusap wajahnya kasar, ia tatap punggung wanita halalnya yang kini sudah hilang di balik pintu kamar mereka.
.
.
__ADS_1
Biru yang tak suka dengan obrolannya pagi ini harus tetap bisa tersenyum saat sampai di ruang makan lantai bawah. Disana sudah ada dua anaknya yang sedang bermain dengan sang Gajah sebelum sarapan.
"Mhiu, Bubuy hari ini nda kuncir dua ya"
"Kenapa? mbak Rini gak kuncirin?" tanya Biru yang melihat si sulung hanya memakai bandana.
Embun nampak berbeda, Sudah menjadi ciri khasnya jika gadis kecil itu selalu di kuncir dua di sisi kanan dan kerinya. Bahkan Rain sudah hapal betul jika dua itu adalah kuncir rambut kakaknya.
"Buy yang nda mahu, Buy pake bandana aja" sahutnya sambil berputar seolah memberi tahu betapa cantiknya ia hari ini.
"Ya sudah, Bul-Bul sudah besar jadi bisa pilih sendiri apa yang Bul-Bul suka" ucap Biru, tak lupa ia juga mencium pipi kanan dan kiri putrinya
Iyum, miyuuuuuuh...
Kecupan di wajah Rain secara berkali kali malah membuatnya tertawa geli.
***Apun miyuuuh...
Gili Bum***.
Gelak tawanya begitu renyah menggema ke seisi ruang tengah, Sam yang baru turun dari kamarnya saja sampai ikut tersenyum simpul melihat anaknya.
.
__ADS_1
.
Usai sarapan Sam dan Embun pun berpamitan, di susul Air dan Hujan. Kini tinggal Biru dan Rain yang akan menemani pasangan baya Reza dan Melisa di rumah utama.
Sang pewaris Rahardian itu pun di ajak ke tempat ia bermain bersama kakaknya.
"Jangan di lempar ya mainan kak Embun, nanti rusak" pesan Melisa dari sofa.
Iyaaah.. ucak ucak ya.
Reza dan Melisa tersenyum kecil, mengasuh Rain seolah mengingatkan mereka saat Samudera kecil yang begitu menempel pada Appanya.
"Bum, lagi apa?" tanya Biru yang baru datang dengan nampan berisi cemilan untuk Tuan dan Nyonya besar Rahardian.
.
.
.
Acak Ael....
__ADS_1