
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Sam kecelakaan!" tutur Air dengan mata berkaca-kaca. Hatinya sudah bisa di pastikan hancur berantakan saat ini.
Lalu bagaimana dengan Reza?
Pria baya itu duduk langsung menyandarkan punggungnya. Dunia langsung gelap seketika ia rasakan
Embun paham, tapi ia tak berani bertanya sebab ruang makan seketika hening tanpa suara.
Hujan yang tangisnya pecah langsung tak sadarkan diri ia hampir saja jatuh jika Air tak merengkuh bahunya.
Suasana kacau saat Biru menangis histeris, semua Pelayan dan ART pun datang saat Air berteriak.
Pria itu langsung menelepon Bumi dan Langit untuk ikut dengannya kerumah sakit sedangkan istri-istri mereka di minta untuk tetap di rumah utama menjaga Biru dan Hujan termasuk Reza juga Melisa yang shock.
"Aku ikut, pAy. Ku mohon" lirih Biru dengan tangan menangkup di dada.
"Biar papAy sama Uncle yang ke rumah sakit. Kamu diam tunggu disini. Kasiahan anak-anak."
Air tak lagi menghiraukan rengekan sang menantu, ia bergegas pergi menuju rumah sakit umum dekat putranya kini di bawa.
.
.
__ADS_1
"Dimana putraku?" tanya Air saat turun dari mobilnya. Para pasukannya tentu tetap berada di sana sambil menunggu kedatangannya.
"Ruang UGD, Tuan"
Air menarik napasnya, ia memejamkan matanya sejenak sebelum melanjutkan langkah.
Di temani empat orang suruhannya, Air berjalan sedikit tergesa sampai ia berhenti di sebuah pintu berwarna putih dengan ada sedikit kaca transaparan di tengahnya.
"Tuan muda sedang diperiksa, ada satu dokter dan dua perawat di dalam" jelas satu orang yang menjaga di depan pintu UGD.
"Baik lah, Terimakasih kalian sudah bertindak cepat" ucap Air saat ia berhadapan dengan lima orang yang bertugas menjaga putra semata wayangnya.
"Selamat malam, Tuan"
"Bagaimana, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Air langsung, Lima orang tadi pun sedikit menjauh agar bisa memberi ruang pada satu orang yang baru saja datang usai menyelidiki kasus kecelakaan Samudera.
"Apa ada hal lain?"
"Tidak, Tuan. Tuan muda sepertinya dalam keadaan mengantuk" jelasnya lagi yang tahu jika Pria baya di hadapannya sedikit menaruu curiga.
"Kita tunggu penjelasan dari dokter"
Baru saja Air selesai berucap, pintu UGD terbuka. Muncul satu dokter dengan jas putihnya sebagai ciri khas dengan dua wanita di belakangnya.
"Dengan keluarga korban?"
__ADS_1
"Betul, saya ayahnya. Bagaimana keadaan putra saya?" tanya Air dengan wajah sangat khawatir.
"Tidak begitu parah, Tuan. Hanya butuh istirahat total untuk pemulihannya" jawab sang dokter dengan senyum ramah di wajah yang tak lagi muda.
"Bisa saya masuk?"
"Tentu, pasien dalam keadaan sadar tapi mohon untuk tidak banyak di ajak bicara lebih dulu karna masih dalam pengaruh obat" pesan dokter lagi.
"Baik, terimakasih" balas Air sambil mengangguk paham.
Cek lek.
Air masuk seorang diri, langkahnya bagai melayang di atas lantai saat melihat putranya terbaring lemas.
"De' ini papAy"
Sam menoleh sedikit karna lehernya terpasang gips, alat penyangga di lehernya.
"Pay... Sakit" lirih Sam pelan, ada cairan bening di ujung matanya yang akhirnya lolos begitu saja. Bayangan keluarga terutama anak dan istrinya terus ada di pelupuk matanya. Bahkan saat sadar Sam begitu takut untuk tidur.
.
.
.
__ADS_1
Pembatas nya nakal ya, tabrak dede...