Samudera Biru

Samudera Biru
Rumah sakit


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Air mendekat kearah Embun, cucu kesayangannya itu masih saja terlelap dengan tenang, Ia hanya bangun sebentar karna rasa mual dan langsung di minumi obat, selebihnya Embun kembali terbuai


ke alam mimpi.


Dengan sentuhan lembut, Air terus mengusap kepala Embun. Hatinya ikut sedih apalagi saat ada ruam merah di tubuh putih mulus cucunya. Padahal selama ini ia selalu di jaga bahkan semut pun tak berani mendekat tapi si nyamuk dengan sangat kurang ajarnya malah mengigit sang Ratu Rahardian.


"Cepet sembuh ya, cantik. papAy sedih loh liat kamu kaya gini. Kita pulang ya, Bul-Bul mau apa kalau sudah sembuh?" guraunya di sisi Embun, meski tahu tak ada jawaban tapi Air terus berbicara.


Embun yang selalu datang setiap pagi ke kamarnya biasanya langsung naik keatas perut jika Air masih berbaring di ranjang atau ia akan naik ke pinggungnya jika baru saja keluar usai membersihkan diri. Tapi pagi ini gadis kecilnya tak datang ia yang di kira masih mengantuk nyatanya justru sedang menahan sakit.


.


.


"Kak..." suara Bumi si adik kembarnya membuat Air menoleh, ia hapus cairan bening yang tergenang di ujung matanya.


"Embun kenapa?" tanya Kahyangan yang ikut mendekat, wanita yang lebih tua satu tahun dari mereka langsung mencium kening anak dari keponakannya.


"Kena DBD, harus di rawat beberapa hari disini" jawab Air dengan nada lemas, bahkan ia kini malah sudah bersandar pada si tengah.

__ADS_1


"Lalu Sam dan Biru mana?" tanya Bumi karna hanya ada kakaknya didalam ruangan bak hotel bintang lima ini.


"Mereka pulang, Rain mungkin sedang rewel ingin menyu su"


Bumi dan Kahyangan mengangguk paham, mereka pun dulu begitu saat si kembar Ala dan Ola sakit bergantian atau justru berbarengan. Berbeda dengan Air yang memang hanya memiliki satu putra yaitu hanya Samudera jadi semua perhatian saat sehat maupun sakit hanya tertuju padanya.


.


.


.


"Masih tidur?" tanya Sam pada Air yang tak beranjak sama sekali dari sisi sang cucu.


"Udah, tadi bangun sebentar, agak rewel tapi tidur lagi" jawabnya, untung ada Kahyangan yang sedikit ikut menenangkan Embun karna Air pasti akan ikut menangis saat merasakan tubuh mungil Embun yang kembali demam.


"Dokter udah periksa lagi belum?" tanya Hujan.


"Sudah, kak. Udah makan juga tadi sedikit lalu minum obat" timpal Kahyangan.


"Makasih ya, Yang. Udah mau dateng dan ikut jagain Embun" ucap Hujan, adik kakak ipar itu sslalu terlihat kompak dan tak pernah sekalipun bertengkar selama puluhan tahun sama-sama menjadi menantu Rahardian.

__ADS_1


"Iya, tenang aja. Embun juga kan cucuku"


Biru yang kini duduk di sisi Embun terus mencium kening panas putrinya, kening yang biasa berkeringat karna Embun selalu aktif bergerak tapi kini terasa lain dari biasanya.


"Bul, bangun dong cantik. Mhiu kangen Bul-Bul" lirih Biru dengan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan.


Sam yang merangkul bahu istrinya terus saja menguatkan agar lebih ikhlas tapi semua itu teralihkan saat ia menoleh kearah Air yang juga terisak.


"PapAy kenapa?" tanya Sam.


"Sedihlah" jawab putra sulung Rahardian itu.


"Terus itu ngapain, malah sibuk maen ponsel?" tanya Sam lagi.


.


.


.


PapAy lagi nyuruh pasukan Gajah papah buat nangkep tuh NYUMAK....

__ADS_1


__ADS_2