
Ta Buy, bobo yaaaa..
Rain terus saja mengganggu kakaknya yang sedang terlelap di ranjang. Sudah berkali-kali Biru memindah kan Rain agar Sang putra sedikit menjauh tapi tetap saja bocah itu selalu kembali untuk menarik rambut Embun, mencium pipinya sampai memasukkan jari kedalam hidung Sang kakak perempuan hanya demi berharap Embuh bangun dan bermain dengannya lagi.
"Aduuuuuuh, sakit" teriak Embun yang akhirnya bangun sebab merasa terganggu.
Ta buy, auh ya.... ain utel utel yuk...
Dengan mata yang belum semuanya terbuka, Embun menggelengkan kepalanya tanda menolak ajakan Rain untuk main dokter-dokteran.
"Ngantuk, Ih"
Biru yang tahu Embun sudah bangun karna terpaksa akhirnya menggendong Rain. Ia akan membiarkan putrinya melanjutkan mimpi tak perduli kini hari beranjak semakin sore. Aktifitas Embun di sekolah sampai Les yang hampir setiap hari tentu sangat menguras tenaga dan otak anak perempuan cantik itu.
"Keluar yuk, main sama Mhiu"
Ta buy inggal, nda buweeh
"Gak apa-apa, kakaknya mau bobo. Kasihan ya"
Iyaaaah...
Rain pun akhirnya menurut. Ia dibawa ke lantai bawah menggunakan lift. Tangan mungilnya akan bertepuk tangan saat pintu kotak besi itu terbuka.
Triiiiing....
__ADS_1
.
.
Biru menolak saat Rain justru ingin mengulang naik lagi ke lantai atas. Wanita itu memilih tetap melanjutkan langkahnya ke ruang tengah berharap ada siapa saja disana.
Appaaaaaaa..... Appa Bum ya.
Reza yang duduk bersama Khumairahnya pun langsung menoleh, Pria baya yang terlihat masih saja tampan di usia yang jauh dari kata muda itu merentangkan tangannya siap untuk menerima pelukan dari cicit laki-laki kesayangannya.
"Bum mau mana?"
Na ya...
Ketiganya pun tertawa, bocah itu malah balik bertanya saat ditanya oleh Tuan besar Rahardian membuat siapapun akan gemas melihatnya.
Iyaaah, banak ya...
"Memang habis kalau banyak?" tanya Melisa, gemas.
"Susu apa?" tambah Reza sambil terkekeh.
Susyu Miong, nak loooooh.
"Bum anak Miong dong?" goda Reza dan Melisa lagi. Bocah itu benar-benar menjadi kebahgiaan untuk mereka di akhir hidup yang mungkin tak akan lama lagi.
__ADS_1
Miyuuuuh..
"Masa anak mhiu minum susu miong?" ledek Melisa.
Nyeh Miyuh, piyuuuh ya....
Biru yang baru datang langsung merah kedua pipinya. Ia sangat malu dengan apa yang di ucapkan oleh Rain di hadapan Tuan dan Nyonya besar Rahardian.
"Ajaran si Tutut nih" kekeh Reza yang tak lagi bisa menahan tawanya.
"Sam tuh selalu aja bilang gitu kalau Rain mulai deket deket aku.. "Nyeh Mhiu punya Phiu ya sekarang" kan Raun jadi keinget terus" oceh Biru sambil menyodorkan botol susu kepada putranya.
"Kan emang punya si Tutut. Bum-Bum cuma pinjem ya. Tapi kemarin pinjemnya kelamaan tuh lebih dari waktu yang seharusnya" kata Reza, ie memeluk Rain agar bocah itu nyaman saat menyusu.
"Iya susah banget lepasnya, sampai harus fitnah si Ireng" sahut Biru yang tertawa kecil. Ada saja drama menggemaskan di keluarga Sang suami yang membuatnya begitu nyaman tinggal di rumah utama.
"Kalian ini emang tidak punya PriPerkucingan. Apalagi tuh si Tutut markentut" sahut Reza seraya membelai pipi gembil cicitnya yang seperti nya mengantuk karna kedua mata Rain mulai menyipit seolah siap menembus alam mimpi.
.
.
.
.
__ADS_1
Eh... kalian lagi pada ngomongin dede ya...