Samudera Biru

Samudera Biru
penolakan


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Asik... asik?"


"Joss!"


Cahaya dan Embun bertepuk tangan secara bersama membuat Air hanya bisa menghela napas dalam-dalam sambil menggelengkan kepala.


Perintahnya tadi lewat sambungan telepon bagai angin surga untuk si bungsu Rahardian.


"Segini gak ada adek gede, Bisa gempa dadakan nih kalo dia juga ikut. Untungnya udah jadi nenek nenek" gumam Air, ia tak bisa membayangkan jika adik papanya itu tahu kalau saat ini ia sedang memerintah kan untuk Mall tutup sementara demi kelancaran si Bul-Bul shoping.


Karna sekarang yang bisa melakukan hal itu hanya Air Rameza Rahardian Wijaya saja.


"Abicin kalang?" tanya Embun.


"Iya, dong. Pamit dulu dan bilang terimakasih sama papAy" titah Cahaya.


Embun langsung mengangguk paham, ia rentangkan lagi kedua tangannya untuk meminta di gendong.


"Matacih ya paPay danteng, Bubuy mahu beli baju lagi ya" Ucapnya yang lalu mencium pipi kiri dan kanan Air.


"Sama-sama cantik, jangan pulang sore sore ya"


"Puyang na tunggu usil bapak pampam"


"Gak! cukup Onty sama grand mommy aja yang sering bikin malu di usir satpam terus, Bul" sahut Air. kejadian yang serupa dan berulang-ulang bagai turun menurun bagi para tuan putri Rahardian.


Cahaya yang mendengar sindiran kakaknya hanya bisa mencibir kesal karna memang kenyataannya seperti itu, Ia tinggal tunjuk apapun yang di mau tanpa harus berpikir dua kali. Semua akan langsung di kirim kerumah tanpa harus susah payah membawanya.


.


.

__ADS_1


.


Target selanjutnya kini ke kantor pusat, Dimana Samudera ErRainly Rahardian Wijaya berada. Entah ada atau tidak Cahaya dan Embun tetap terus melangkah masuk kedalam gedung mewah pencakar langit itu.


"Selamat siang, Nyonya" sapa dua sekertaris Sam yang langsung berdiri dari duduk mereka.


"Siang, Dirut ada?" tanya Cahaya.


"Belum keluar dari ruang rapat, Nyonya. Mungkin lima belas atau dua puluh menit mendatang"


"Hem, baiklah. Saya tunggu didalam ya"


Cahaya yang masih menggandeng tangan mungil Embun langsung masuk kedalam ruangan sang keponakan sekaligus musuhnya jika sedang bersama Reza, mereka selalu saja berebut pria baya itu sampai salah satunya menangis kesal.


"Phiu mana?"


"Phiunya masih kerja, kita tunggu di dalam ya"


Ceklek


"Bubuy mahu liat mobil" Balita cantik itu langsung berlari ke arah jendela besar, ia memang senang melihat kendaraan di bawah yang tentunya terlihat kecil jika di lihat dari atas.


.


.


"Loh, Onty, Bul-Bul!"


Cahaya dan Embun sontak menoleh kearah suara di belakang mereka.


Sam yang terkejut pun langsung berjongkok saat putri kecilnya menghampiri.


"Sayangnya Phiu, ngapain? Mhiu mana?"

__ADS_1


"Nda entut, macak macak apul aja nda mahu entut Bubuy coping abicin uwit banak banak" adunya pada Sam.


"Mantap! patut di contoh itu, sayang" tukas Sam dengan lirikan tajam kearah adik papAynya sama seperti yang Air lakukan tadi.


"Cih! anak sama bapak samanya!" cetus Cahaya.


"Bubuy mahu inta uwit banak, Bubuy mahu beli baju buyat buyat dong, buyeh nda?" tanyanya dengan memasang wajah se imut mungkin, ia memang paling jago dalam hal merayu para pria Rahardian untuk mengikuti semua maunya.


"Nda!" jawab Sam langsung.


"Apa?" tanya Embun lagi.


"Kan udah dapet dari Appa sama papAy" sahut Sam


"Kok tahu?" Cahaya dan Embun bertanya secara bareng.


.


.


.


.


.


.


Hah... emang @pawangRahardian aja yang sering ghibah


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Mampus ðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠ

__ADS_1


Kalian juga suka kena Ghibah ðŸĪĢðŸĪĢðŸĪĢ


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2