
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sam yang sudah di izinkan pulang hari ini tinggal menunggu pemeriksaan terakhir dari dokter. Ia yang kini jauh lebih baik sudah bisa memangku Rain maupun Embun. Dua buah hatinya yang beberapa hari ini sulit sekali ia rengkiuh.
"Sekarang kita pulang ya" kata Sam pada putranya yang duduk di atas pahanya.
Puwang, keh.
"Iya, Ok sayang" balas Sam sambil terkekeh. Bocah itu menjawab sambil mengangguk kan kepalanya membuat Sam maupun Biru begitu gemas padanya.
"Terimakasih sudah melahirkan anak yang begitu baik, tampan dan pintar ya, Bee" ujar Sam pada istrinya.
"Iya, anak kita semuanya terbaik"
Lima belas menit berlalu, akhirnya dokter datang bersama dua perawat guna memeriksa Sam sebelum pria itu pulang kerumah utama.
"Semuanya baik, Tuan. Semoga lekas sembuh" ujar dokter saat ia memasukkan tetoskop kedalam saku jasnya yang berwarna putih.
"Terimakasih, dokter" ucap Sam dan Biru berbarengan. Kini keduanya hanya tinggal menunggu Air dan Hujan datang menjemput mereka.
.
.
.
__ADS_1
Sampai di rumah utama, Sam langsung di bawa ke kamarnya. Ia masih di minta untuk istirahat total tanpa melakukan kegiatan berat termasuk banyak beban pikiran. Jadilah Gala dan Awan yang membantu sedikit pekerjaaanya di Rahardian Grup pusat.
"Istirahat lah, aku akan buatkan sesuatu untukmu" ujar Biru yang duduk di tepi ranjang setelah meletakkan Rain dalam boxnya. anak itu terlelap dengan sangat nyenyaknya selama perjalanan pulang barusan.
"Gak usah, disini aja temenin aku" tolak Sam sambil meraih tangan halus istri yang terlihat sedikit lelah.
"Kamu gak laper?"
"Laper, tapi rasa lapernya beda. Aku justru ingin memakanmu" jawab Sam dengan seringai di ujung bibirnya. Biru yang paham hanya bisa menelan salivanya kuat-kuat.
"Makan akunya nanti ya, kalau udah sehat banget"
Satu kecupan pun mendarat di kedua pipi Sam, pria itu merengut kesal karna sama saja Biru menolak ajakan cumbuan nya.
"Kenapa kalo sekarang? Tutut aku kan normal! masih bisa bajak sawah kamu, Bee" protes Sam.
"Berarti kamu yang bajak, aku Terima beres, gimana?" tawarnya yang sambil menaik turunkan alisnya.
Biru tetap menggelengkan kepalanya setelah menoleh kearah Rain yang memang masih terlelap tapi ia sudah tahu jika beberapa menit mendatang anaknya itu pasti bangun.
"Enggak, nanti Rain buka mata, bahaya liat kita" tolak Biru.
"Bentar aja, Bee" rayu Sam lagi, ia letakkan tangan Biru pada si Tutut yang sudah keras bagai pentungan kayu.
"Gak, mana bisa sebentar kamu tuh"
__ADS_1
"Bisa, kali darurat!" kekeh Sam.
"Ngaco! lagian gak enak" timpal Biru yang bangun dari duduknya lalu pergi keluar dari kamar menuju dapur bersih untuk mengupas beberapa buah.
Ia yang sendirian di dapur bersih di kagetkan oleh Melisa yang baru datang, wanita baya baik hati bertutur kata lembut itupun langsunu duduk di bantu salah satu pelayan.
"Rain masih tidur? lalu Sam bagaimana?" tanya sang Nyonya besar Rahardian.
"Iya, Rain tidur, Amma. Ini aku lagi bikin cemilan buat Sam" jawab Biru, keduanya duduk berhadapan di meja makan.
"Ya sudah, cepat bawakan buahnya ke kamar" titah Melisa yang masih menyimpan rasa khawatir. Begitu besar rasa sayang wanita itu pada cucu laki-laki pertamanya.
"Iya, Amma."
Biru bangun dari duduk kemudian bergegas menuju kamarnya di lantai dua dengan di ikuti si Ireng dari belakang, hewan berbulu hitam keabuan itu pasti sangat merindukan Rain yang sejak semalam bersamanya di rumah sakit.
Dan benar saja, saat Biru masuk kedalam kamar si Ireng langsung naik meloncat masuk kedalam box sang pewaris Rahardian Group.
.
.
.
Miong akal, Bum bobo ih....
__ADS_1