Samudera Biru

Samudera Biru
Promo Kara & Elang


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Heh, Santen! Lagi apa lo? Bolos sekolah ya?"


"Kamu?!" Pekik Kara yang tahu siapa yang tadi menyapanya kurang sopan tersebut.


Elang, ia menarik kursi di samping Kara lalu duduk meski gadis itu belum memberi izin. Kara yang merasa Elang sedang memperhatikannya tentu langsung mengalihkan pandangan agar wajahnya tak terus jadi pusat perhatian Elang.


"Lo abis nangis? Kenapa?"


"Gak apa-apa, bukan urusan kamu!" Jawab Kara sedikit ketus. Ia tak suka jika ada orang asing yang memaksa ingin tahu hal pribadinya.


"Pasti berantem sama temen-temen cewek lo rebutan cowok kan?" Tebak Elang sambil terkekeh geli.


"Enak aja, aku gak serendah itu sampai bertengkar hanya karna laki-laki. Jadi tolong jaga ucapanmu!" Tegas Kara.


Rasa sakitnya seolah bertambah saat satu tuduhan kembali tertuju padanya. Apa ia sungguh menjijikkan di hadapan orang lain sampai selalu di pandang sebelah mata, tanpa mendengar penjelasan ia langsung di cap aneh oleh sebagian orang.


Kara meremat baju bagian dadanya, ia mendongakkan wajahnya ke atas berharap air mata tak lagi jatuh, tapi baru beberapa detik ia melakukan hal tersebut tangannya langsung di tarik oleh Elang sampai ia harus mendadak bangun dari duduk.


"Eh apa-apaan sih!"


"Dari pada nangis, mending ikut gue jalan-jalan" Jawab Elang, ia memakaikan helm di kepala Kara dengan pelan berbeda dengan sikapnya barusan yang sedikit kasar.


"Ayo naik"


"Mau kemana dulu?" Tanya Kara.


"Udah cepetan. Nanti gue anter pulang pokonya selamet dan utuh"


Kara yang awalnya nampak ragu tapi saat melihat senyum Elang yang begitu manis ia pun seolah terhipnotis lalu mengangguk pelan. Elang yang naik lebih dulu langsung mengulurkan tangannya agar Kara bisa dengan mudah naik ke atas motor sport berwarna merahnya.


"Pake nih, buat nutupin paha lo. Jangan sampe tujuan gue jadi belok ke hotel ya" Ucap Elang sambil membuka jaket yang sedari tadi melekat di tubuh tingginya.


"Eh, gak usah"


"Cepetan! Lo jadi cewek ngebantah mulu" Paksa Elang, Kara pun akhirnya mengambil jaket pria itu untuk menutupi pahanya yang memang terekspos cukup jelas. Roknya yang tiga jari di atas lutut memang otomatis akan tertarik lebih keatas saat duduk di atas motor.


"Udah, pegangan ya"


Kara tak menjawab, ini pertama kalinya ia berboncengan dengan seorang pria yang bukan tukang ojek. Jadi tak salah jika Kara hanya mencengkram pinggir kaos hitam tipis Elang.


"Bukan gitu, Santen!"


Elang yang gemas malah menarik kedua tangan Kara agar melingkar di perutnya. Dagu gadis cantik itu kini ada dibahu Elang sedangkan dadanya sudah menempel di punggung Elang yang siap menarik gas motornya.

__ADS_1


Perjalan pun di mulai, Elang melajukan kendaraan roda duanya itu dengan kecepatan cukup tinggi sampai Kara harus memejamkan matanya karna takut, pengalaman pertama yang cukup menguji adrenalin nya. Angin yang berhembus kencang seolah menusuk sampai ke tulang.


🌹🌹🌹🌹


"Pantai---" Lirih Kara saat ia membuka mata ketika merasa motor Elang berhenti.


"Cepet turun, pegel nih"


"Ah, iya. Maaf"


Kara yang di pegangi Elang, langsung turun dari motor. Kakinya sedikit bergetar dan lemas, Elang yang peka hal itu pun langsung merengkuh tubuh Kara.


"Lo gak apa apa?" Tanya Elang sedikit cemas.


"Enggak, cuma gak nyangka aja bakal liat laut lagi" Jawab Kara lirih bahkan ia menggigit bibir bawahnya sendiri.


Elang hanya diam, entah apa yang di alami oleh gadis itu sampai ia merasa bebannya cukup berat karna lagi dan lagi Kara seolah menahan cairan bening di matanya.


"Yuk" Ajak Elang, ia menurunkan tangannya dari bahu Kara dan langsung menarik tangannya untuk lebih dekat ke bibir pantai.


Kara hanya mengikuti jejak langkah Elang, matanya tak lepas menatap pemandangan di depannya.


"Jadilah seperti karang yang kuat meski selalu di terpa air laut, ia kokoh, kan?"


"Jadilah juga seperti hujan yang tak pernah mengeluh meski berkali-kali jatuh"


"Tapi aku punya hati--" Kara menoleh, tapi ia lekas membuang muka saat tahu Elang sedang menatap dirinya juga.


"Elang, lupa ya?" ujarnya seolah tahu kalimat apa yang tak di teruskan oleh Kara


"Elang, burung ya? Kenapa gak sekalian cucakrowo?"


"Hey, gue yang sudah baik hati begini malah lo ledek, gue tinggal, mau?" Ancam Elang.


"Eh jangan!! Maaf, gak gitu kok"


"Hem..."


Mereka kembali diam, menikmati keindahan yang kini mereka lihat di depan sana.


"Boleh main air?"


"Terserah, tapi gada baju ganti" Jawab Elang mengingat kan.


"Enggak kok, cuma mau main becek becekan aja"

__ADS_1


Kara melepas genggaman tangannya dari Elang, ia membuka sepatunya lalu berjalan terus sampai kaki putihnya ditabrak oleh ombak kecil. Senyum pun terukir jelas di wajah cantiknya yang tak semurung tadi. Sedangkan Elang masih di tempatnya memperhatikan dari belakang sambil melipat tangan di dada. Ia biarkan gadis sebelah rumahnya itu bermain dengan air.


"Jangan ketengah, nanti baju lo basah!" Teriak Elang.


Kara menoleh sambil tertawa kecil, matanya yang memang masih sembab sampai terlihat begitu kecil karna tawanya itu dan entah kenapa malah membuat dada Elang seolah berdesir hebat.


Elang yang takut Kara lupa diri saking senangnya akhirnya mendekat. Ia peluk tubuh Kara dari belakang yang tentu membuat gadis itu cepat menoleh.


"Punya kuping gak sih? Gue bilang jangan makin ke tengah. Lo gada baju ganti, Santen!" Bisik Elang, ia juga memainkan telinga Kara dengan ujung hidungnya yang mancung.


"Geli, Elang"


"Panggil gue El.. " Pintanya yang semakin mengeratkan pelukan sampai Kara tak lagi leluasa bisa bergerak.


"El... Gimana kalau aku panggil Bang El" Tawar Kara dengan sorot mata melihat kearah tangan Elang.


"Terserah lo, gue gak perduli."


"Aku cuma mau sopan aja kok, gimana juga Bang El lebih tua dariku" Bela Kara.


"Hem, iya, lo kan bocil" Kekeh Elang meledek.


Mendengar kata Bocil, Kara langsung memutar tubuhnya sampai mereka saling berhadapan, tangan Elang yang tadinya berada di perut Kara kini justru berubah melingkar di pinggang nya.


"Lo mau apa, Santen?!" Tantang Elang dengan senyum seringai.


"Jangan panggil aku Bocil, aku udah gede!" Protes Kara.


"Gede apanya? Ambeknya pasti" Cibir Elang tapi sorot matanya malah melihat kearah gundukan daging kenyal yang terbungkus seragam putih sekolah.


"Enak aja!" Kara yang tahu kemana arah tatapan pria itu, mulai salah tingkah. Ia meronta tapi Elang tak juga mau melepaskan pelukannya.


.


.


.


"Diem, atau lo gak gue ajak pulang" Ancam Elang.


#SelimutPanasTetangga


#YukMampir


#PakIJo...

__ADS_1


__ADS_2