Samudera Biru

Samudera Biru
Celoteh Bul-Bul.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Gimana?" tanya Melisa dan Hujan yang bertanya secara berbarengan saat sang menantu sudah tiba di rumah utama.


"Positif hamil, Moy, Amma" jawabnya yang kini di apit oleh dua wanita kesayangan sang suami.


Alhamdulillah


"Berapa bulan?" tanya Hujan semakin penasaran, ia tak lagi bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Sembilan minggu, dua bulan lebih semingguan lah" jawabnya lagi masih menunduk.


"Kamu harus jaga kesehatan, jangan banyak pikiran dan gak boleh angkat barang berat termasuk gendong Bul-Bul" pesan Melisa sama seperti saat Biru hamil Embun dulu.


"Iya, Amma. Aku masih bener bener gak percaya, rasanya ini mimpi aku hamil lagi" kata Biru yang seakan ragu dengan pernyataan dokter.


"Jangan begitu, kamu bukan tak percaya hanya saja sejak awal kurang menyadarinya jika kamu sedang hamil, di tambah tak ada satupun ciri ciri bumil kamu rasakan." jelas Hujan, ia yang masih trauma dengan kehamilan kedua yang di luar dugaan hingga berakhir keguguran tentu tak ingin itu semua terjadi pada Biru, ia akan menjaga cucu dan menantunya itu sebaik mungkin.


"Sam dan Embun yang rewel mana bisa kita duga kalau itu semua ternyata efek dari kehamilanmu. Mengingat mereka memang tingkat kemanjaannya diatas rata-rata orang pada umumnya." tambah Melisa.


"Hem, bener. Tapi kalo di inget inget sih emang beda mah. Apalagi pas si Tutut hampir seminggu cuma mau makan dirumah Adek sampe dia musuhin Abang karna istrinya goreng telor terus" kekeh Hujan yang merasa lucu mengingat kejadian itu.


Sam akan jauh jauh datang kerumah Cahaya membawa satu telir ayam hanya untuk di goreng disana dan setelah perutnya terisi penuh ia akan pulang dan tidur, dan itu berlanjut sampai berhari-hari.


Semua orang tentu tak menyadarinya karna berpikiran jika Sam hanya mengangggu dan menjahili Ontynya saja seperti biasa.

__ADS_1


"Untungnya adek nurutin terus meski Abang sampe nangis nangis mohon buat adek gak nyalain kompor lagi ya,mah hahahaha" gelak tawa Hujan membuat Biru dan Melisa tersenyum simpul, Sebegitu takutnya Langit melihat Cahaya terluka sampai harus mengingatkan istrinya itu untuk hati hati.


"Bucinnnya udah luber banget" sahut Biru yang ikut terkekeh.


******


Usai mengobrol di ruang tamu, Biru masuk kedalam kamarnya di lantai dua. Satu hal yang sebenarnya malas Biru rasakan adalah mudahnya ia lelah jika habis melakukan kegiatan apapun di trimester awal dan akhir kehamilan.


"Bee, kenapa?" tanya Sam saat ia mendekat ke arah istrinya.


"Gak apa-apa, aku cuma sedikit lemes aja." jawabnya sambil mengusap wajah bulat putrinya dalam gendongan Samudra.


"Bubuy ntal puna bayi?" tanya Embun.


"Iya, Bubuy jadi Tata, Ok"


"Anak pintar, sayangnya Phiu dan Mhiu ya." ucap Sam. Keduanya mencium pipi bulat sang putri dibagian kiri dan kanan secara berbarengan.


"Bayinya belapa? banak nda?" tanya nya lagi.


"Hem, gak tahu deh. Bul-Bul memang mau yang banyak bayinya?" Biru balik bertanya


"Nda, tatu ajah. Nda mahu banak ntal pucing"


Sam dan Biru pun langsung tertawa, mereka membawakan Embun ke sofa agar lebih nyaman mengobrol dengan bocah tiga tahun itu.

__ADS_1


"Pusing kenapa?"


"Pucing nanis telus, ntal minan bubuy ambil mua mua na"


"Enggak dong, mana mungkin ambil semuanya. Nanti sama Bul-Bul pinjemin ya mainnannya" kata Biru memeberi pengertian.


"Beyi don, nanan minan Bubuy"


"Loh, kenapa?" tanya Sam.


.


.


.


.


Minan Bubuy nda enak, acin.



🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Dasar pelit 😝😝😝😝😝😝 Mirip appanya 😓😓😓

__ADS_1


__ADS_2