Samudera Biru

Samudera Biru
Perampokan


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂.


Selalu saja ada gelak tawa saat melihat tingkah menggemaskan dari bocah berumur tiga tahun itu.


Memperagakan mulut ikan salah satunya. Jangan tanya siapa yang mengajari, tentu Si Gajah lah biang dari kelucuan cicit kesayangannya.


Bul-Bul yang mendapat card unlimited nampak bingung saat menerima benda kecil itu, ia melirik ke arah Cahaya yang tersenyum puas.


"Uwit na mana? ini apa?" tanya Bul-Bul polos mirip dengan Biru saat Sam memberinya card awal menikah siri dulu.


"Katanya mau beli baju bulat bulat, nanti bayarnya pakai ini" jawab Reza sambil menangkup wajah cantik sang Ratu Rahardian.


"Bubuy mahu uwit, nda mahu ini. Ini cicit banet" katanya lagi sembari mengembalikannya pada Reza.


"Ya ampun, Bul. Kecil begini tapi isinya luber tumpah tumpah. Sampe satpam ngusir kita pun gak bakal abis, Sayang" timpal Cahaya, ia langsung merebut card tersebut dari tangan Embun.


"Ntal topelnya ocong, Bubuy mahu uwit cetopel"


"Pakai itu aja, sama aja ya" rayu Reza lagi.


Bul-Bul akhirnya mau tak mau menurut meski ia sendiri tak paham. Ia memang sering melihat Phiunya selalu memberikan benda kecil seperti itu ketika membayar tapi kali ini ia sedang ingin uang yang banyak karna ia akan memasukkannya ke dalam koper.


"Mama nih yang biasanya simpen uang cash" seru Cahaya saat melihat Bul-Bul tak Seantusias tadi.

__ADS_1


"Ada tuh, mau?" jawab Melisa. Ia memang lebih senang menumpuk lembaran uang dirumah, entah dalam tempat sampah atu juga dalam panci besarnya yang berwarna ungu.


Card dapat uang pun dapat, Rasa senang Cahaya pun jadi berlipat-lipat, meski ia sendiri kaya raya tapi ada kepuasan sendiri jika masih mendapat jatah uang jajan dari orangtuanya. Langit pun tak bisa melarang karna ia tahu seperti apa gadis yang dulu ia perjuangkan untuk di nikahi. Sebanyak apapun harta dan aset yang ia miliki tentu tak sebanding dengan apa yang dimiliki Cahaya secara pribadi.


.


.


"Mau kemana?" tanya Biru saat berpapasan dengan Cahaya juga Embun di depan salah satu kamar di lantai dua.


"Mahu abicin uwit Appa dede. Bubuy mau coping agih nih" jawab Bul-Bul yang langsung membuat Biru menautkan kedua alisnya.


"Mau shoping lagi? kan udah"


Dulu ia sering mengajak Biru untuk Shopping tapi kali ini Cahaya punya mangsa baru yang sealiran darah dengannya, tentu jiwa Embun akan ia asah menjadi jiwa sosialita tingkat dewa.


"Yuk ikut" ajak Cahaya.


"Haha, enggak deh! mending aku masak daripada muter muter Mall" tolak Biru langsung yang membuat Cahaya mencibir lalu tertawa.


"Iya, kamu masak aja nanti Onty pulang anter si Bul-Bul tinggal makan ya"


"Beres! tapi jagain anakku ya" pesan Biru sambil terkekeh.

__ADS_1


.


.


Cahaya kembali menggandeng tangan mungil Embun menuju pintu utama karna ada satu mobil mewah yang sudah siap mengantar mereka ke salah satu Mall milik Rahardian Group di pusat kota.


Embuh terus berceloteh sepanjang jalan, begitu banyak yang ia ceritakan dan juga ia tanyakan termasuk saat kereta mewah yang ia tumpangi ini masuk area perkantoran yang sudah sangat Embun hafal.


"Apain cini?" tanya Embun menatap bingung Cahaya.


.


.


.


.


"Kan tadi udah ngerampok Appa sama Amma. Sekarang giliran kita ngerampok PapAy juga Phiu, Ok"


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Racun dasar ðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠðŸĪŠ

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2