
"Awas jatuh!" teriak Samudera pada Embun saat anak perempuan cantik itu naik ke sisi kolam ikan milik tuan besar Rahardian.
"Buy, mahu tangkap satu boleh?"
"Janji gak minta di goreng ya?" timpal Reza yang tiba-tiba datang di tuntun oleh putra sulungnya di disisi kanan sedang si tengah di sisi kiri.
"Buy udah makan, Appa...."
"Appa masih dendam ikan Platinumnya di goreng" kekeh Samudera sambil membantu anaknya turun dari sisi kolam.
"Padahal udah papAy gantiin tuh" cibir Air.
"Tapi yang satu di minta sama Arsy" Jawab Bumi.
Gelak tawa tiga orang itu pecah kecuali Reza yang merengut kesal karna hewan peliharaannya satu per satu di bawa oleh cicitnya.
"Abang pulaaaaaang" seru Langit yang muncul dari pintupintu belakang rumah utama.
Para pria Rahardian itu memang sedang berkumpul, mereka di tinggalkan oleh para istri istri shopping ke butik milik Cahaya yang baru di buka hari ini.
"Sudah di antar semua?" tanya Reza pada menantu laki-lakinya, Langit.
"Sudah, Pah. Udah anteng gak inget kita kayanya"
"Eh, ini Ratu shoping tumben gak ikut?" tanya Langit saat melihat Embun di gendongan Air.
"Ada papAynya mana mau ikut dia" cibir Samudera.
__ADS_1
"Cucu Buaya" timpal Bumi dengan tawa kecilnya.
"Calon Buaya Betina ini" bisik Air namun masih di dengar oleh putranya, Samudera.
Semua berkumpul di gazebo halaman belakang dengan makan dan minuman yang tak henti datang silih berganti dari pelayan. Banyak yang mereka bincangkan tapi tentu bukan masalah perusahaan karna ini bukan waktu yang tepat membahas hal tersebut.
"Si Adek kaya mendadak hari ini" ucap
Air saat ia memperlihatkan foto istrinya sedang menenteng banyaknya barang belanjaan.
Langit pun tertawa, bukan keuntungan yang di cari tapi kebahagiaan sang istri yang paling utama, Melihat binar mata Cahaya yang senang adalah kepuasan tersendiri bagi Langit.
"Tapi papa bangkrut dadakan" sahut Reza.
Bagaimana tidak, Si bungsu memakai card unlimited papanya untuk membayar semua tagihan belanja ipar, keponakan, serta mamanya. Cahaya tahu, mereka akan berpikir dua kali jika bayar Sendiri dengan alasan tak tega.
Ada saja cara mereka untuk sekedar berkumpul, tahu diri jika kini semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Mama kalian yang paling kasihan"
"Kenapa?" tanya Air, Bumi dan Langit
"Adek itu cuma jual pakaian, mana ada wajan disana" sahut Reza sambil terkekeh, ia tahu kebiasaan istrinya yang hanya antusias belanja keperluan dapur saja.
"Tar aku bikin deh, biar Mama betah" ujar Bumi dengan senyum yang di kulum membuatnya semakin tampan.
Obrolan para pria Rahardian itu terhenti saat melihat Biru datang menggendong Rain. Bocah itu langsung merentangkan tangan di hadapan Samudera.
__ADS_1
"Kok pulang?" tanya Sam.
"Cuma anterin Bum-Bum. Rewel banget pengen ke kakak" jawab Biru yang langsung berpamitan lagi membuat semuanya hanya melongo melihat tingkah cucu menantu Rahardian tersebut.
Ta Buy, ain ain yaaaa..
"Sini, main sama kakak " ajak Embun, anak perempuan itu memang sedari tadi anteng di pojokan bersama mainannya.
Rain yang turun dari gendongan bukan berjalan kearah Embun, ia malah memutar kearah para lelaki dewasa yang sedang berkumpul, ia ikut duduk lalu memperhatikan Air dan Bumi secara bergantian.
.
.
.
.
.
PapAy Bum, uwa uwa yaaaa
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
Masih bingung aja si entong bedain Buaya Cengeng sama Anak bawang 🤣🤣🤣🤣🤣
__ADS_1