Samudera Biru

Samudera Biru
Arti Rainerly.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Hujan yang membawa Rain keluar dari kamar orangtuanya, langsung di urus dengan sangat cekatan. Sekaya apapun keluarga Rahardian tetap harus bisa mengurus anak-anaknya sendiri, bukan tak mau menyewa jasa pengasuh tapi mendekatkan diri dengan anak itu hal penting dan kebersamaan itu tak akan pernah setara dengan kekayaan. Karna harta yang sesungguhnya tentu adalah KELUARGA.


Rainerly Rahardian Wijaya yang artinya adalah AirHujan, nama yang sama dengan papAy dan miMoynya. Sam sengaja memilih nama itu karna ia ingin anaknya kuat seperti air hujan yang jatuh berkali-kali namun ia tak pernah menyerah, itulah yang diharapkan Sam untuk putranya. Anak laki-laki nya harus kuat, sabar dan tentunya menenangkan siapapun orang-orang di sekelilingnya.


"Dingin gak?" tanya Hujan saat cucunya berendam di dalam bathup.


Yah. Nin.


Celotehan Rain sungguh sangat menggemaskan siapapun yang mendengarnya. Sedikit sedikit ia sudah bisa menjawab apapun yang di tanyakan padanya. Di banding dengan Sam saat kecil, Rain memang tak sebawel Phiunya saat balita.


"Udah yuk, kalau dingin, kita pakai baju ya" ajak sang MiMoy sambil mencoba meraih tubuh polos Rain.


Nda...


"Loh, katanya dingin. Kita makan ya, Moy suapin, Ok"


Rain menepis tangan Hujan sambil menggeleng kan Kepalanya ke kanan dan ke kiri menolak ajakan wanita baya yang duduk di tepian tempat ia berendam.


"Gak mau udahan? tadi katanya dingin" kekeh Hujan, bayangan Sam kecil terlintas begitu saja. Meski ia begitu dekat dengan sang mertua bukan berarti Hujan tak mengurusnya sama sekali.


Sepuluh menit sudah ia masih sabar menemani Rai berendam memainkan semua botol sabun dan shampoo sampai akhirnya bosan dan Rain pun merentangkan tangannya.


"Udah? bosen ya"


Iyaah...

__ADS_1


Hujan meraih tubuh mungil sang cucu keluar dari kamar mandi, ia dudukkan Rain di atas ranjang dengan handuk yang membungkus tubuhnya



Moy...


Hujan yang di panggil tentu langsung menoleh, tawa kecil ia dan Rain cukup menggema ke seisi kamar sang pewaris Rahardian.


"Duh.. duh.. duh... si ganteng lucu banget, anak siapa sih?"


Piyuh..


"Eh pinter ya, Phiu siapa?" tanya Huja lagi sambil membalurkan minta telon di tubuh Rain agar hangat dan pastinya harum.


Piyuh Entut..


"Gak boleh yah, Piyuh. Jangan pake Entut" kekehnya lagi


Piyuh


"Pinter!"


Mengobrol sambil memakaikan baju kini telah selesai Hujan lakukan, saatnya ia kembali membawa Rain keluar kamar tapi kini tujuannya adalah lantai bawah yaitu dapur bersih.


"Bum-Bum mau makan? laper ya?"


Iyah.

__ADS_1


Hujan mendudukkan Rain di kursi bayinya sambil menyiapkan makanan untuk sang cucu, bubur dengan kaldu daging kini siap Rain santap dengan lahap.


Satu suap dua suap hingga lima suap semua berjalan lancar dan aman tapi suapan selanjutnya tak lagi beres saat Rain meminta sendok makannya dari tangan Hujan.


"No, sayang" tolak Hujan, ia tak ingin makanan yang masih tersisa separuhnya justru berantakan.


Moy


Jurus andalan Rain pun keluar, ia merengek dan terus memaksa Hujan untuk memberikan sendoknya.


"Habisin dulu, jangan di buang buang nanti di omelin Appa"


Appa.. Nah?


"Appa bobo, yuk habisin dulu makannya nanti kita ke


Appa ya" rayu Hujan lagi sambil menyuapkan sisa makan siang Rain.


.


.


.


Appa Ajah.


__ADS_1


__ADS_2