
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Temenin dede Mandarin ayam bertelor yuk, pAy?!" ajak Sam sambil menarik tangan Air menuju halaman belakang rumah utama. Tak adanya Reza dan Melisa membuat bangunan bak istana itu nampak begitu sepi.
"Kamu jadi nyari ayam? dimana?" tanya Air saat keduanya sudah duduk di Gazebo.
"Gak tau, nyari nyari aja tadi. Di tiga pasar gak ada, akhirnya dede masuk kampung buat nanya yang punya ayam bertelor, akhirnya ada yang kasih tau plus ngaterin juga" jawab Sam, ia begitu kesal pada si Ayam karna tak hentinya berkokok.
"Terus beli?" tanya Air lagi yang di jawan gelengan kepala.
"Dede barter, ayamnya di kasih cuma cuma asal dede mau ngelus perut hamil anaknya yang punya ayam" jelas Sam, keduanya mengobrol layaknya teman.
"Terus boleh sama Biru?"
"Boleh gak boleh, mau gak mau sih meski bibirnya harus manyun lima centi" kekeh Sam yang malah membuat Air tertawa lucu karna ia juga membayangkan menantunya itu pasti sama seperti istri dan mamanya saat cemburu.
Sam langsung di bantu oleh Air memindahkan si Ayam ke kardus baru yang sudah di alasi oleh beberapa kain agar lebih nyaman, semua yang mereka lakukan tentu hasil ajaran pak Nono, tak lupa pria baya itu juga mengatakan jika jangan terlalu dekat karna biasanya si Ayam akan sangat galak juga sensitif.
__ADS_1
"Kalau di tinggali nanti gak ketauan udah bertelor apa belum" ucap Sam yang serba salah.
"Ya udah tungguin aja, gak lama lagi juga bertelor kali" sahut Air.
Ayah dan anak itu pun memilih berbaring di Gazebo dengan si Ayam berada di bawahnya tapi tetap berada dalam kardus. Keduanya mengobrol tentang banyak hal, mulai dari urusan kantor, keluarga hingga masa depan seperti apa yang di inginkan Samudera.
Air yang hanya memiliki satu putra tentu melimpahkan semua perhatian, cinta, kasih sayang termasuk harta berlimpah hanya untuk Sam, tak ada lagi yang bisa ia andalkan kecuali pria yang kini berada di sisinya itu. Terlebih kini diusianya yang sudah masuk setengah abad tentu tak banyak lagi waktu yang tersisa untuk mengurus semua perusahaan miliknya. Jauh di dalam lubuk hatinya ia ingin bersama dengan Hujan yang sedari muda sudah cukup sibuk mengejar mimpinya, ia ingin saatnya untuk mereka berdua menikmati masa tua bersama.
Obrolan Sam dan Air terhenti saat salah satu pelayan datang mengatakan jika makan malam sudah siap, tapi saat tahu jika Hujan belum pulang dan Biru pun belum bangun, keduanya malah menyuruh si pelayan membawa makan malam mereka ke Gazebo, tentu perintah tersebut langsung di penuhi. Dan lima menit berselang, tiga pelayan pun datang lagi membawa sajian yang sangat menggugah selera.
"Kenyang banget, de" ucap Air sambil mengusap perutnya.
"Iya, apalagi aku, kayanya cuma sarapan sama ngemil doang tadi" sahut Sam sembari menyandarkan tubuhnya.
Sam melirik lagi kearah si Ayam, ia turun dan mendekat untuk memeriksa bagian bawah hewan berkali dua itu.
"Udah ada telornya belum? jangan jangan kamu di tipu ini bukan ayam yang mau bertelur, De"
__ADS_1
"Masa sih?" jawab Sam tak percaya, ia bangun dari jongkoknya sambil menggendong si Ayam betina.
"Eh, mau di bawa kemana tuh Ayam? " tanya Air saat melihat putranya pergi begitu saja.
.
.
.
.
.
.
Mau dede bawa ke dokter ...
__ADS_1