
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kakak lemes, loh" ujar Air yang tak lagi berdiri setelah Reza pergi meninggalkan anak-anaknya di dalam kamar mayat.
Pria humoris yang masih saja cengeng itu berjongkok sambil memeluk kaki Langit, ia menangis sesegukan karna merasakan takut yang luar biasa. Air yang paling anti dengan semua yang berbau kematian malah justru di hadapkan pada satu hal yang paling mengerikan.
"Bangun, kak. Nanti kalo papa dateng malah di tambah gali kuburan" ucap Bumi yang sama pasrah nya, ia bahkan hanya sesekali membuka matanya karna memilih banyak berdoa dalam hati agar hal yang tak di inginkan tak terjadi.
"Gimana bangunnya, lemes begini" sentak Air kesal.
Langit hanya bisa membuang napas kasar, ini memang salah mereka yang asik bermain ludo sampai lupa memberi kabar pada orang-orang di rumah utama. Perasaan lega dan santai ketiganya rasakan saat melihat keadaan Sam baik dan tak ada yang perlu di khawatirkan. Ide konyol pun muncul seketika di otak masing-masing.
.
.
Pagi menjelang, Senja dan Ola datang bersama Embun juga Rain. Tak lupa dua gadis itu pun membawa sarapan untuk semua yang menginap di rumah sakit.
Satu orang yang terluka, tapi semua anggota keluarga ikut menemani. Itulah Rahardian Wijaya.
Suka, duka, sakit dan sehat mereka selalu bersama, salin menggenggam sudah jadi kebiasaan dalam keadaan apapun itu.
"Mas, kamu gak liat anak anak dulu" ujar Melisa yang baru ingat pada Air, Bumi dan Langit.
__ADS_1
"Ah, aku lupa" jawab Reza saat ia memangku Rain si atas pahanya.
Reza bangun dari duduknya sambil menuntun Rain keluar ruangan menuju tempat tiga anaknya kini sedang di hukum, Kamar mayat.
Na?
Rain mendongakkan wajahnya sambil bertanya kemana ia dan sang Gajah akan pergi. Mata bulat bocah itu terlihat sangat polos namun penuh rasa penasaran.
"Mau liat Buaya, anak bawang sama si Bonteng" jawab Reza sambil tertawa, bahkan satu orang penjaga yang mengekor di belakang sang Tuan besar pun ikut tersenyum kecil.
PapAy Bubuuuuuum...
Air, Bumi dan Langit yang terkapar di lantai sedang terbuai mimpi langsung bangun saat Rain mengganggu tiga orang tersebut. Tangan mungil sang pewaris terus saja memainkan hidung, mata dan mulut ketiganya. Bahkan tak segan Rain mengigit tangan dan pipi.
Tingkah si sulung benar-benar membuat Reza tak bisa menahan tawa. Mana mungkin cucunya sendiri dianggapnya malaikat penghuni kamar mayat.
"Hey! bangun kalian!" Reza menjewer satu persatu telinga anak dan menantunya.
"Papa!" seru mereka berbarengan.
"Pah, kakak. mau pulang. Ampun! jangan suruh kakak gali kuburan ya" rengek Air memeluk kaki Reza. Ia yang ketakutan terus saja merengek ingin pulang.
"Pulang dalam keadaan seperti ini? bersihkan diri kalian lebih dulu" titah sang Tuan besar yang di balas anggukan lalu tawa karna melihat wajah yang masih berantakan karan tinta hitam.
__ADS_1
"Si Kakak mukanya parah" ujar Langit
"Iya, di yang banyak kalahnya" timpal Bumi sambil mencibir.
Ini apa? papAy jiyeeeeek.
"Huaaaaa... masa papAy di katain jelek sih" protes Air yang langsung menggendong cucu laki-lakinya itu.
Rain tertawa karna semuanya langsung menciumi dan bercanda dengannya.
Atut iiihhhh...
Rain berlari lebih dulu, di ikuti oleh lima pria dewasa di belakangnya. Seperti biasa, bocah itu akan terus mengoceh.
.
.
.
Bum.. njek-njek Ba'aya yaaa...
awang awang... onteng
__ADS_1