
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Kalian tuh kenapa?" tanya Reza sambil terkekeh dengan tangan mengusap kepala Sam yang barusan ikut memanyunkan bibirnya tak mau kalah dengan dengan sang putri.
"Mulut ikan, kan?"
"Appa kan cuma mau liat mulut Bul-Bul bukan dede" kata Reza yang tahu jika cucunya kini sedang merajuk padanya.
"Tapi kan dede juga bisa, emang Appa gak mau liat. Gak kalah seksi dari Bul-Bul" sahutnya kembali merengut.
Terkadang Reza sengaja membuat Sam marah jika sedang rindu masa kecil si tutut jajah jika bisa di banding kan tentu ia lebih dekat dengan cucunya saat balita daripada si kembar. Karna saat Sam Lahir tentu Reza sudah tak bolak balik ke kantor setiap hari, ia benar-benar meluangkan waktu dua puluh empat jamnya hanya demi Samudera ErRainly Rahardian Wijaya.
Reza hanya ingin setiap detik tingkah lucu menggemaskan anak cucu dan cicitnya itu terus terekam di kepalanya. Ia ingin pergi dengan segudang kenangan yang membuat ia bisa menutup mata dengan tenang tanpa ada yang mengganjal dalam hatinya.
"Bubuy tantik, Phiu nda" rengek Bul-Bul yang tak suka Sam mengikutinya karna gaya bibir ikan tentu hanya milik Embun RaLiana Rahardian Wijaya.
Perdebatan kecil anak dan Ayah itu berhenti saat Hujan datang membawa nampan berisi kue yang di bawa Samudera dan Embun sore tadi tak lupa buah pisang yang sudah di pisah kan dari tandannya juga. Melisa sampai mengernyitkan dahi saat melihat kue kue tersebut di letakkan di atas meja.
"Dari mana ini?" tanyanya yang yakin jika ini semua tak mungkin orang rumah yang membuatnya.
__ADS_1
"Biru abis malakin yang nikah, Amma" jawab Samudera dengan seringai di bibirnya.
"Hah? gimana, sih?"
"Gak tau, mereka tadi pulang bawa beginian banyak banget, Mah" timpal Hujan sambil meraih satu kue yang di bungkus oleh daun pisang, kue berwarna ungu yang di dalamnya ada campuran kelapa dan gula merah.
"Tadi kita ke acara nikahan Sekertarisnya Phiu, belum nikah sih. Besok acaranya. Tapi pas pulang di kasih beginian banyak banget" jawab Biru, hatinya sedang berdoa jangan sampai sang suami mengatakan alasan yang sebenarnya di hadapan keluarga.
"Ante tantik banak buna buna halum" balas Embun sembari menyuapkan agar agar hijau ke mulut mungilnya.
"Tapi tetep cantikan Bul-Bul kan?" sahut Air yang langsung mengangkat tubuh mungil sang cucu keatas pangkuannya. Embun yang terkekeh lalu menyuapkan sisa agar untuk sang papAy.
"Enak nda?"
"Memang kenapa gak besok aja kesananya? kenapa harus hari ini kalau belum apa-apa" tanya Melisa yang ikut juga mencicipi dan ternyata rasanya cukup pas di lidahnya yang memang jago membuat aneka masakan dan kue.
"Besok rame, takut Kepala ku pusing jadi lebih milih hari ini aja deh" selak Biru tiba-tiba takut Sam menjawab lebih dulu.
Samudera yang tahu jika Istrinya sedang membuat drama persembunyian tentu sedang memikirkan siasat ampuh.
__ADS_1
Sampai waktu istirahat tiba akhirnya semua masuk kamar masing-masing. Embun yang masih ingin bersama Reza akhirnya memutuskan untuk tidur dengan pria baya itu. Hal yang tak akan di sia siakan oleh Sam selagi sang putri tak tidur bersama mereka.
Biru yang sudah merebahkan diri diatas ranjang langsung di hampiri suaminya yang sedang tersenyum menggoda.
"Kenapa?" tanya Biru saat Sam duduk di tepi ranjang.
"Tadi kenapa gak jujur aja kalo kesana mau numpang duduk dipelaminan?" Sam malah balik bertanya.
"Gak apa-apa, aku bohong dikit" kekehnya sedikit panik.
"Gak boleh bohong nanti bibirnya panjang" sahut Sam.
"Mana ada bibir panjang, Aneh!" timpak si ibu hamil sambil mencibir.
.
.
.
__ADS_1
"Cih, gak percaya. Terus ini apa?"