
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Yuk, kita ke kamar mayat!!"
Semua mata tertuju pada Reza, pria baya yang terlihat sangat kesal itu kembali keluar tanpa menanyakan kabar lebih dulu pada cucu kesayangannya.
"Apa?!" pekik tiga pria yang hanya melongok kan kepalanya dari balik punggung istri mereka masing-masing.
"Papa tunggu lima menit, kalian harus sudah sampai di kamar mayat" tegas Tuan Muda Rahardian lagi..
Air, Bumi dan Langit saling pandang, tak ada kata apapun yang keluar dari mulut mereka kecuali tatapan tak percaya, takut dan tentunya saling menyalahkan.
"Cepet sana!" titah Melisa yang kali ini bicara tanpa senyum seperti biasa.
"Mah... kakak takut" rengek si sulung yang bergelayut manja di lengan Melisa.
"Dosa, Mah. Kamar mayat itu bukan buat mainan loh. Kita gak boleh ganggu mereka" timpal Bumi yang melakukan hal yang sama dengan sang kakak kembaran.
"Betul, Nanti Abang kalau pingsan gimana? Buna juga kan yang nangis" sambung Langit, si anak angkat yang merangkap menjadi menantu bungsu Rahardian.
"Ikuti papa kalian, jangan sampai hukumannya. justru bertambah jadi gali kuburnya juga"
Brraaak..
Praaaang..
Buugh.
__ADS_1
Ketiganya langsung bangun dan berebut keluar dari kamar rawat inap Samudera. Para wanita hanya bisa menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya kasar. Para lelaki itu memang pantas mendapat kan hukuman dari sang Gajah.
.
.
.
Reza kembali ke kamar sang cucu kesayangan, hatinya perih bagai tercabik saat melihat Sam terbaring lemah di ranjang pasien. Pria baya dengan mata berkaca-kaca itu seolah bisa merasakan sakitnya, ia ciumi seluruh wajah Sam dengan lembut penuh kasih sayang dengan pancaran sorot mata khawatir.
"Maaf, udah bikin Jajah dede nangis" lirih Sam satu kedua tangan Reza menangkup pipinya.
"Siapa yang nakal?".
"Kata papAy pembatas jalannya yang nakal, dia deketin dede loh" jawab Sam terkekeh.
"Nanti Appa laporin polisi, Keh?"
Semua orang tertawa mendengar percakapan Gajah dan sang Tutut. Wajah yang begitu mirip seakan Reza dan Sam melihat dirinya sendiri.
"Anak-anak kamu apakan, Mas?" tanya Melisa pada suaminya.
"Berdiri di depan kamar mayat"
"Hem, kamu ingetin aku sama papah" bisik Melisa.
"Ya, aku memang sedang merindukannya. Aku seakan mengulang kenangan itu saat melihat mereka berjejer rapih" kekeh Reza yang mendapat cubitan pelan di tangannya.
__ADS_1
Hujan yang berada di samping putra satu satunya itu merasakan sedikit lega saat melihat langsung Samudera tak seperti yang ia bayangkan. Anak kesayangannya itu hanya mengalami memar sedikit tanpa terluka sama sekali.
"Lain kali, menepi dulu jika mengantuk, de" pesan Khayangan yang sama khawatirnya. Ia yang sangat dekat dengan sang keponakan tentu sangat cemas saat mendapat kabar Samudera kecelakaan.
"Orang pembatas jalannya yang nakal" timpal Cahaya sambil menguap. Matanya terpejam sambil bersandar di sofa panjang.
"Hust, kak Ay jangan di tiru!" sambung Melisa.
Mereka yang sudah sangat lelah akhirnya mengatur posisi masing masing disofa kecuali Biru yang tetap di sisi ranjang pasien.
Waktu yang sudah memasuki subuh, membuat semuanya memilih beristirahat sejenak setidaknya sampai pagi menjelang.
.
.
Cek lek..
Gala datang dan membuka pintu dengan sedikit pelan, ia melihat satu per satu orang di dalam ruangan sedang tertidur pulas.
"Kak, kok bisa gini, kenapa?" tanya Gala yang kini sudah berdiri di sisi sepupunya tersebut.
"Gak apa-apa, cuma ngantuk aja pas pulang dari kantor" jawab Samudera. Dua pria itu langsung menoleh secara bersamaan saat pintu kembali terbuka, Ara masuk dengan berjalan menghampiri.
.
.
__ADS_1
Huft..
Alhamdulillah, Ara udah takut gantengnya kakak hilang, loh...