
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aku pamit, Jaga ana-anak ya" pesan Samudera sambil memeluk istrinya yang sudah selesai membereskan semua keperluannya selama di luar kota.
"Iya, Bee. Hati-hati di jalan dan kabari aku saat sampai disana" balas Biru yang sebenarnya enggan melepas suaminya ke luar kota.
"Aku tahu perasaanmu berat, sayang. Tapi ada tanggung jawab lain di pundakku"
"Aku paham, Pergilah dan cepat kembali saat urusanmu selesai"
Sam mengurai pelukannya, ia angkat dagu sang istri yang matanya sedang berusaha menahan air mata. Ia tahu ada hal lain yang memang sedang mereka pikirkan dan belum punya solusinya sampai saat ini.
"Jangan khawatir, akan ku usahakan datang untuk kalian. Aku tak mungkin mengecewakan putri cantik kita, Sayang"
"Aku ingin kamu berjanji"
"Bee...."
"Ku mohon" Biru menangkupkan kedua tangannya di depan dada berharap sang suami menyetujuinya tanpa beralasan apapun lagi.
"Aku akan berusaha, percayalah" ucap Sam meyakinkan.
__ADS_1
Sam mendaratkan bibirnya agar Biru sedikit tenang, ia melu mat lembut dengan mata terpejam tanpa melakukan hal lain lagi. Sam hanya fokus menikmati ciumannya saat ini. Sam menggigit sedikit bibir istrinya agar lidahnya bisa masuk dan bermain tapi sayang wanita cantik itu tak melakukannya.
"Aku tak pernah seberat ini melepasmu, Bee. Aku harap tak ada sesuatu yang terjadi padamu disana" lirih Biru sambil meremat baju bagian dadanya.
"Jangan berpikir yang macam macam. Aku disana bekerja, Sayang".
"Aku tahu"
Sam yang merasa ini sudah waktunya akhirnya menggandeng Biru keluar kamar. Ia sengaja memilih hampir tengah malam karna tak sanggup harus mendengar rengekan buah hatinya saat berpamitan. Embun yang pasti menangis sedangkan Rain pasti banyak bertanya dengan wajah menggemaskan tentu membuat ia enggan pergi.
Cek lek..
Sam membuka pintu kamar Embun yang kebetulan sedang tidur berdua dengan adiknya. Sam tersenyum kecil melihat para malaikat nya itu terlelap dengan sangat lucu. Ia usap kening mereka satu persatu lalu di ciuminya secara berganti. Rasa berat mulai hinggap di hati pria tampan yang memakai jaket hoodie hitam tersebut.
Biru berjalan dengan bergelayut di lengan suaminya, akan ada dua minggu ia lalui tanpa Samudera di rumah utama dan seingatnya selama berumah tangga sepertinya ini adalah yang paling lama mereka berpisah.
"Bee"
"Iya, Sayang. Katakan" jawab Sam sebelum ia masuk kedalam mobil yang di dalamnya sudah ada supir yang siap mengantarnya ke bandara.
"Boleh aku datang bersama anak-anak saat akhir pekan. Aku tak sanggup merindukanmu" pinta Biru yang sebenarnya ragu ia utarakan.
__ADS_1
"Tentu sayang, nanti aku kabari ya"
Biru mengangguk senang, ia tak menyangka jika sandaran hatinya itu tak akan keberatan dengan keinginananya barusan.
Sam tersenyum kecil, ia gemas dengan raut wajah sang pemilik hati yang berbinar senang. Binar mata wanita itu selalu saja membuat ia jatuh cinta setiap detik dalam hidupnya. Tak merelekan tubuh langsing itu tersentuh oleh siapapun.
"Aku pergi, langsung tidur ya. Jangan tunggu kabar dariku karna aku akan meneleponmu esok pagi" pesan Sam, ia tak ingin Biru sampai tak tidur hanya ingin sebuah kabar darinya.
"Baiklah, aku akan ingat semua pesanmu"
"Aku mencintaimu, Bee" ucap Sam yang kembali memeluk dan menciumi setiap inci wajah cantik alami seorang Berliana Biru Rahardain Wijaya.
"Aku berkali-kali lipat mencintai, dan... "
"Dan apa?" tanya Sam.
.
.
.
__ADS_1
.
Semakin aku mencintaimu aku semakin benci perpisahan.. Karna setelah adanya perpisahan akan ada rindu yang sulit di tenangkan.