
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Ini, boleh?" tanya Embun saat tubuh mungilnya berdiri di depan rak boneka di salah satu Mall luar kota.
"Boleh, tapi cukup satu" tegas Biru.
"Iya, satu kan?" ia balik bertanya dengan senyum manisnya yang kemudian di balas anggukan kepala.
Biru mengusap kepala putrinya, ia hanya ingin lebih paham jika sesuatu yang berlebihan itu tak baik.
Embun mengambil satu boneka yang tak terlalu besar lalu berkeliling lagi mencari apa yang ia inginkan, begitu saja seterusnya sampai ia bosan sedangkan Biru dan Sam yang menggendong Rain hanya mengekor di belakang sang Ratu bertugas menganggukkan kepala tak jarang keduanya sedikit berdebat karna berbeda pendapat. Biru yang memang mengurus anaknya sendiri tentu tahu barang apa yang di miliki putrinya berbeda dengan Sam yang selalu mengiyakan semua yang di minta Embun.
"Rain belum ngerti ya, kalo udah ngerti pasti ikutan heboh nanti kita pisah ya, kamu ke rak boneka sedangkan aku ke rak mobilan" kekeh Sam yang sepertinya sedang mengkhayal dan berharap hari itu tiba.
"Itu sih maunya kamu, Bee."
Sam tertawa kecil, ia yang sedari dulu selalu di turuti semua maunya tentu akan melakukan hal yang sama pada putra putrinya kelak. Karna jika sudah besar nanti hanya tanggung jawab yang akan mereka pikul karna ada puluhan jiwa yang hidupnya bergantung dari perusahaan yang dikelola.
.
.
__ADS_1
Puas berbelanja dan makan malam, kini saatnya Sam dan biru juga dua anak mereka pulang ke hotel untuk beristirahat apalagi Rain yang mulai rewel karna lelah.
"Bentar lagi sampe ya, ganteng" rayu Sam pada Putranya yang merengek di atas pangkuan sang istri sedangkan Embun asik di kursi belakang dengan mainan barunya.
"Bum-Bum butuh kasur kayanya, capek banget setengah hari ini di gendong terus."
Sam mengusap pipi bulat putranya dengan pelan, dan lima menit kemudian mobil sampai di lobby hotel milik Pradipta.
Bangunan mewah bertaraf internasional yang turun kepada Mitha, putri pertama Ricko dan Almh Bunga.
"Yuk turun, Bul-Bul Sama Mhiu ya" titah Sam karna ia yang akan menggendong Bul-Bul ke dalam kamar hotel mereka.
Ketiganya berjalan secara beriringan dengan dua orang Porter di belakang mereka yang membawa barang belajaan yang hampir semuanya milik Embun. Entah apa saja yang gadis kecil itu selama berkeliling di Mall tadi.
"Sama-sama, Tuan. Permisi"
Rain yang di baringkan di kasur langsung di buka semua baju dan diapersnya untuk di ganti begitu pun dengan Embun. Setelah semua rapih kini tinggal Biru dan Sam yang melakukan hal yang sama secara bergantian.
"Bubuy mahu mainan, buka boleh ya Mhiu?"
"Boleh, Sayang. Tapi jangan semua ya. Yang mau kamu mainin aja yang di buka" jawab Biru sambil mengingatkan, ia yang duduk di sofa tetap memperhatikan putrinya sembari menyu sui Bum-Bum yang belum juga terlelap padahal sempat rewel dan menangis.
__ADS_1
"Bee... " teriak Sam dari kamar mandi.
"Iya.Kenapa?" sahut Biru masih di posisinya tak kalah berteriak.
"Sini doooooong!"
Biru menoleh ke arah pintu kamar mandi yang memang tertutup rapat, entah apa maksud suaminya berteriak dari dalam sana.
"Bee...... "
"Apaan sih! berisik banget!" jawab Biru lagi mulai kesal.
"Sini dulu, Ini aku gimana?"
Biru menghela napas kasar, ia akhirnya paham dengan apa yang di maksud suaminya sekarang. Biru bangun dan membaringkan Rain di atas kasur bayi dan meminta Embun untuk menjaganya sejenak.
.
.
Bubuy tunggu disini dulu ya , temenin Bum-Bum. Mhiu mau sentil Tutut Jajah yang nakal dulu, ok. .
__ADS_1