
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rumah utama yang nampak begitu sepi membuat pasangan suami istri itu langsung masuk kedalam kamar , Sam yang hanya mengantar harus segera kembali ke kantor meski sudah sangat telat dari jadwal rapat yang di tentukan.
"Aku kantor lagi ya, kalau mau apa-apa bilang aja. Kamu minta pelayan buat ambilin atau bikinin karna semua lagi pada pergi" pesan Sam saat keduanya duduk di tepi ranjang.
"Aku sendiri lagi?"
"Cuma sebentar, nanti juga Amma sama Appa pulang soalnya Moy masih di rumah sakit" jelas Sam yang tahu jika istrinya itu tak suka sepi.
"Ya udah, tapi jangan pulang malem malem ya"
"Iya, nanti kita makan malam sama-sama" kata Sam yang langsung membuat perasaan Biru lega.
Sepeninggal suaminya, Biru hanya berguling di tengah ranjang tapi karna bosan ia pun beranjak keluar kamar menuju lantai bawah. Tangga mewah yang berputar ia tapaki satu demi satu dengan perasaan takjub bagaimanapun ini adalah pengalaman yang tak pernah ia duga, masuk kedalam keluarga kaya raya di ibu kota.
"Nona muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pelayan saat berpapasan dengan Biru.
"Bantu apa? aku lagi gak ngapa ngapain" jawabnya.
Si pelayan langsung tersenyum simpul, ia yang sudah bekerja selama lima tahun tentu tentu tak menyangka dengan kedatangan Nona muda barunya itu.
"Dapur dimana?" tanya Biru.
"Ada di belakang, Nona. Nona ingin sesuatu?"
Biru menggelengkan kepalanya sambil menarik tangan si pelayan untuk menunjukan dimana tempat favoritnya itu. Hidup sederhana dan apa adanya membuat Biru sangat mandiri belum lagi memang hanya dia yang di andalkan untuk membantu ibu dirumah.
__ADS_1
"Ini tempat masaknya?"
"Bukan, Nona. Ini dapur bersih khusus Nyonya besar yang memasak."
"Nyonya besar itu siapa?' Amma, kah" tanya Biru lagi.
"Iya Nyonya besar Melisa" jawab si pelayan tadi yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Biru. Ia berjalan mengekor di belakang menuju dapur kotor tepat dimana para koki sedang menyiapkan hidangan untuk makan malam.
"Wah, rame ya disini. Seru banget" ucapnya yang sontak membuat seluruh ART dan pelayan juga koki berdiri memberi hormat pada Nona Muda mereka.
"Boleh aku disini?" tanya Biru yang tak mendapat jawaban karna semuanya masih menunduk saling melirik satu sama lain.
"Kalian kenapa?"
"Nona, ada perlu apa sampai datang ke dapur kotor" suara serak sorang wanita tua menganggetkan Biru.
Wanita tua yang rambutnya hampir semua putih itu mengulum senyum, ia adalah orang yang selama puluhan tahun ini mengurus seluruh ART dan para pelayan di Rumah utama, namanya Bu Maria.
"Di sini kotor, Nona. Mari ikut dengan saya"
Biru yang merasa tak enak hati akhirnya ikut keluar dari dapur kotor bersama Bu Maria tapi baru sampai dapur bersih nyatanya mereka bertemu dengan Reza dan Melisa yang baru datang dari kediaman Pradipta.
"Amma, Appa" sapa Biru sambil meraih punggung tangan orang tua dari mertuanya, ia cium dengan hormat dan takzim.
"Sudah lama di sini?" tanya Melisa, kini ketiganya sudah duduk di ruang makan sedang Bu Maria sibuk menyiapkan minuman.
"Enggak, baru beberapa jam" jawab Biru.
__ADS_1
Reza yang tahu alasan cucu mantunya datang pun mulai memberi petanyaan pada Biru karna ia juga mulai merasa khawatir dengan keselamatan istri si Tutut.
"Apa dia melukaimu, Bi?" tanya Reza.
"Enggak, kami hanya duduk di sofa, aku hanya mendengarkan dia bicara"
"Dia mengancam mu?" kini Melisa yang bertanya.
"Enggak juga, Dia hanya menakutiku jika Sam akan menjadikanku Janda, tapi nyatanya Sam tak akan melakukan hal itu" jelasnya lagi sambil menyesap jus jeruk yang sangat manis dan melegakkan tenggorokannya.
"Kenapa?" tanya Reza dan Melisa berbarengan.
.
.
.
.
.
Sam gak mau jadi Duda juga, katanya belum di iyup aku!
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Dijamin ngantri Ngelebihin antrian minyak goreng dah kalo Tutut jadi Duren 🤭🤭🤭
__ADS_1