
Kayanya banyak yang salah paham ya sama bab sebelumnya yaitu "Rumah apa?" tak gak sedikit juga yang paham sama maksud teteh, Alhamdulillah..
Namanya masih Ongoing jadi wajar kalo masih banyak pro dan kontra. Yuk ah di lanjut 😋😋
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Rumah mertua" cetus Sam masih bersandar di punggung ranjang.
Plak...
Satu pukulan mendarat di paha kanan Sam yang berselonjor diatas ranjang. Biru kesal dengan jawaban suaminya yang menurutnya itu sangat tak masuk akal.
"Loh, kamu kenapa sih? makin kesini makin galak"
"Emang kenapa rumah ibu kok di bilang serem, Bee!" protes Biru lagi dengan tanduk kecil yang mulai keluar menghiasi kepalanya.
"Serem! banyak suara jangkrik sama kodok. Akunya suka merinding, Sayang" jelas Sam mencoba meraih tangan lembut istrinya yang sedang merajuk.
"Alesan!"
"Sumpah, Bee. Aku ngebayangin tidur tengah hutan kalau disana"
Sebagus apapun rumah orang-tua angkat Biru di renovasi oleh Sam bahkan kini sudah menjadi bangunan berlantai dua tetap saja, lingkungan Kampung yang sepi membuat pria itu tak nyaman berlama-lama disana. Rindangnya pohon rambutan dan pohon durian semakin menambah kesan horor untuknya. Meski di rumah utama pun begitu banyak pepohonan tapi rasanya jauh berbeda.
"Kita pulang! kalau kamu gak mau, biar aku sama anak anak aja yang pergi"
"Cih, anak kecil ngancem" kekeh Sam.
Perdebatan beberapa hari ini akhir nya membuat Sam mengalah, ia mau ikut asal cukup dua hari satu malam disana mengingat pekerjaannya yang sangat menumpuk juga di kantor.
.
__ADS_1
.
Esok hari Persiapan pun sudah di selesai di lakukan oleh Biru, ada dua koper berisi baju salin yang akan ia bawa selama di kampung. Perlengkapan anak anak-anak lah yang jauh lebih banyak di banding ia dan suami.
"Bum-Bum mau mana?" tanya Reza yang sudah menunggu di ruang tamu.
Uwang apun ya....
"Cie... yang punya kampung" ledek Air seperti biasa.
Dadadadah.. uwang uwang ya...
Celotehan Rain tentu akan di rindukan oleh semua penghuni rumah utama, hanya bocah laki-laki itu yang berpamitan karna Embun tertidur dalalm gendongan Sam.
"Hati-hati dijalan, hubungi Moy jika sudah sampai" pesan Hujan saat melepas anak, menantu dan dia cucu kesayangannya.
"Iya, Moy, kami pergi dulu" pamit Sam bergantian dengan Biru.
.
.
Semakin Embun menangis, Rain tak akan melepas cengkramannya atau gigitannya.
"Udah, dong. Lepas gak?" tegas Biru.
Nda..
Kesempatan menjawab itulah yang di gunakan Embun untuk menarik tangannya dari gigitan Rain.
"Syakit, Phiu" adu Embun pada Sam.
__ADS_1
"Cup, sini sayang"
Embun pindah ke atas pangkuan Sam setelah ia menepikan mobilnya sejenak.
Dirasa Embun sudah sedikit tenang, perjalanan pun di lanjutkan.
Tak sampai satu jam kendaraan mewah Samudera terparkir di halaman luas rumah bertingkat ibu dan bapak angkat Biru.
"Sepi ya, Bee" ucap wanita ber dress polkadot hitam putih tersebut.
"Tiap hari pagi, siang, sore apalagi malem juga sepi terus" jawab Sam sambil mengedarkan pandangan.
"Ish, kamu tuh"
Biru keluar dengan menggendong Rain, sedangkan Embun turun sendiri dan berlari menuju kandang kelinci yang tiga bulan lalu di belinya bersama sang kakek.
"Bee, aku masuk duluan ya, kamu liatin Bul-Bul awas nanti ke sumur" pesan Biru yang di iyakan oleh Sam.
Pria itu berjalan mendekat kearah sang putri setelah ia menaruh koper ke teras rumah.
"Bul, sini ih, banyak nyamuk loh nanti" panggil Sam di samping pohon rambutan yang sedang tak berbuah.
Ehem..
"Nah, kan.. Suara apa tuh?!"
"Beeee... lontooooooooong!!!"
Si tutut Sawan 🤣🤣🤣..
__ADS_1
Awas loh di toel sama yang ehem.. ehem..