Samudera Biru

Samudera Biru
Rengekan Rain.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Rain tertegun, wajar jika ia bingung dengan apa yang di lihatnya kini. Bagaimana mungkin Phiunya yang tampan bisa melakukan hal konyol dengan mengkucir dua rambutnya seperti sang kakak.


Nih.. Piiiiiiiyuh!!


Ucapan tegas Rain membuat Sam tertawa, ia sangat paham dengan protesnya sang putra saat ini sambil menggeleng kan kepalanya.


Mahu Taaaaa Buy, Na iiiiih??....


"Anak Phiu yang ganteng, Kakaknya pulang, sayang. Main sama Phiu aja ya"


Nda.!!!


Bocah dua puluh tujuh bulan itu turun dari ranjang, kaki mungilnya berjalan buru buru menuju pintu, Sam yang memanggil pun tak ia hiraukan sama sekali


Butaaaaa.


"Udah tahu gak nyampe pegang kenop, di panggil malah gak nengok" sungut Sam sambil menghampiri anaknya yang kini malah merentangkan tangan


Didong...


"Apa didong?" tanya Sam bingung dengan kedua alis yang saling bertautan.


Didong Bum-Bum, ayu iiih..


"Gendong?" tanya Sam lagi memastikan.


Iyah...

__ADS_1


"Huh, kebanyakan Nyenyeh nih, gak ica omong kan!" ucap Sam menggoda sambil menciumi pipi Rain, bocah itupun tertawa karena geli.


Keduanya keluar dari kamar menuju lantai bawah sesuai keinginan Rain saat di rasa ruang tengah lantai dua nampak sepi tak ada siapa pun.


Waah.... Nda ada ya...


"Ya ampun! kan dari tadi juga udah di bilangin kalo gak ada. Mhiu sama Kakak Embun belum pulang" jelas Sam yang entah sudah keberapa kalinya sampai ia gemas sendiri.


Perdebatan Sam dan Rain terhenti saat Hujan baru saja pulang dari panti asuhan mengurus semua kegiatan sosial sang mama mertua yang kini tak lagi terlalu aktif mengingat kesehatannya yang tak sebugar dulu.


"Kamu apa-apaan de?" tanya Hujan sambil memegang salah satu kunciran di kepala putra semata wayangnya.


"Lagi nyamar jadi Embun, tapi gak berhasil" jawab Sam.


"Maksudnya gimana?"


"Memang mereka kemana?" tanya Hujan.


"Kerumah Onty Yayang, aku udah bilang jangan lama-lama tapi udah satu jam gak balik. Kayanya keenakan Ghibah nih ada Onty Chaca juga disana" cetus Sam mulai kesal.


"Hust, kalo ngomong suka bener" kekeh Hujan sambil berlalu meninggal kan anak dan cucu laki-lakinya itu.


Miong olen yuk, Bum ain ain Miong.


"Kucing dimana?" tanya Sam.


Onoh Miong Ate Ola.


"Emang Ante Ola punya kucing?" Sam nampak berpikir sejenak, ia ingat ingat lagi tentang hewan yang di maksud putranya.

__ADS_1


Iyaah.


Sam akhirnya memutuskan menyusul anak dan istrinya itu ke kediaman Bumi yang memang tak jauh dari rumah utama. Dengan menggunakan motor matic, ia pun mengendarai nya bersama dengan Rain yang berdiri di depan.


Naaak...


Kekehan Rain yang menikmati angin di sore hari membuat Sam tertawa kecil, hal ini baru pertama kalinya mereka lakukan berdua karna biasanya kendaraan roda empat lah yang selalu mengantar kemanapun.


"Seneng ya naik motor?"


Iyah... Ninin ih..


Hanya beberapa menit keduanya pun sampai di rumah adik kembaran papAynya. Bangunan mewah dua lantai itu begitu kokoh dan megah khas keturunan keluarga konglomerat.


Sam yang menggendong Rain langsung masuk kedalam, tapi salah satu pelayan mengatakan jika semua anggota keluarga sedang berkumpul di lantai atas dan itu pasti termasuk anak dan istrinya.


Satu demi satu anak tangga di naiki oleh Sam, hingga saat di ujung, Rain pun meronta ingin turun dari gendongan Phiunya. Bocah tampan itu langsung berlari menghampiri dan memeluk kaki Biru sambil merengek manja.


.


.


.


.


Miyuuuuh... Nyeh na anan auh auh ya....


__ADS_1


__ADS_2