Samudera Biru

Samudera Biru
Godaan Tutut


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Ada apa ini, Mah?" tanya Hujan saat berjalan mendekati ibu mertuanya yang berdiri di pintu utama.


"Entah, barang yang datang semua atas nama Biru" jawab Melisa tanpa menoleh karna matanya terus fokus pada barang-barang yang sedang di bawa masuk oleh dua pria dari mobil pickup.


"Semuanya?" tanya Hujan lagi.


"Iya, sudah tiga mobil yang datang. Ada apa dengan Biru, Jan?" Melisa menoleh sambil bertanya penuh selidik.


"Aku gak tau, tadi memang mau pergi. Tapi aku juga gak nyangka kalo dia belanja sebanyak ini, Mah" jelas Hujan yang ikut tak percaya dengan yang ada di depannya. Entah apa saja isi dalam setiap paperbag yang berserak di ruang tamu rumah utama Rahardian.


"Kalau Cahaya sama Ameera sih gak aneh kaya gini, tapi ini Biru loh?" ucap Melisa lagi seraya menggelengkan kepalanya masih bingung.


Jika Hujan dan Kahyangan masih di maklum karna setidaknya mereka dari kalangan menengah yang biasa berbelanja meski tak banyak, berbeda dengan Biru yang dulu hanya satu kali setahun ia mendapat baju baru. Jadi tak salah jika Melisa punya pikiran jika cucu mantunya itu sedang dalam masalah.


"Apa ini hasutan adek?"


"Hah? aku gak tau mah" jawab Hujan cepat.


"Awas saja anak itu, Cukup BulBul yang selalu ia kompori untuk menutup Mall"


.

__ADS_1


.


.


#Kantor.


Sam yang memeluk istrinya dari belakang terus saja tersenyum kecil, ia begitu bahagia ternyata Biru bisa juga berpikir negatif tentangnya. Dan itu tentu di luar dugaan Sam yang tahu sifat kepolosan sang istri.


"Masih marah?"


"Enggak, kan udah tahu kalau itu bukan jasmu" jawab Biru setelah Jero dan Sofia keluar dari ruangan Direktur Utama usai di sidang.


"Harusnya aku yang bertanya, apa kamu marah padaku, Bee?" tanya Biru yang menoleh sedikit ke arah suaminya.


"Aku sudah menghabiskan uangmu, Bee"


Sam tertawa kecil, ia tangkup wajah cantik Biru dengan kedua tangannya yang halus.


"Yang kamu habiskan itu seperempat dari kekayaan dari satu kartu. Kamu tenang aja, masih banyak yang lain. kalau habis juga tinggal minta lagi ke Appa" jawab Sam santai lalu ia menarik tubuh Biru untuk di peluk.


"Memang di kasih kalau minta sama Appa?"


"Dikasih lah, apa sih yang enggak buat cucu pertama dari anak pertama ini?" sahutnya bangga.

__ADS_1


"Jadi aku boleh melakukannya lagi?"


"Habiskan kalau kamu mampu, tapi jangan pikirkan diri sendiri. Kamu harus membeli juga untuk keperluan orang lain, orang lain yang ku maksud disini adalah orang yang membutuhkan bukan kamu membelikan sesuatu pada keluargaku, jelas mereka itu mampu" ucap Sam memberi pengertian. Karna bagi keluarga Rahardian apa yang mereka miliki saat ini sebenarnya adalah sebagian milik orang yang jauh di bawah mereka.


Biru langsung mengulum senyum, ia senang karna sikapnya kali ini benar menurut sang suami, apa yang ia beli hari ini memang tak sepenuhnya untuk ia pakai secara pribadi karna ia ingin mengirim sebagian barang tadi ke kampung halaman khususnya untuk keperluan anak-anak disana.


"Kamu masih sibuk? kita pulang yuk. Aku kangen Embun dan Rain" ajak Biru yang kini dadanya mulai berde nyut.


"Pulang? enak aja!" cibir Sam.


"Loh, terus?" tanya Biru aneh.


.


.


.


Goyang dulu dong..


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Eh... nakal si tutut 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2