
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Mahu, na???
Rain yang sedang asik main dengan si Ireng tentu langsung protes saat Biru membawanya masuk kedalam kamar secara tiba-tiba.
Ia di gantikan baju dan di rapihkan seolah ingin pergi dari rumah. Rain melirik kearah Embun yang sedang di kuncir rambutnya oleh Mbak Rini.
"Kita pergi ya, kerumah teman kakak"
Ta buuuuy??
"Kakak Embun, Bum" protes Si sulung.
Ta buy ya... ucil uwa uwa yaaa..
"Enggak, kuncir kakak cuma satu" jawab Embun, rambutnya yang kini sudah hampir sepinggang lebih sering terurai begitu saja.
Selesai merapihkan dua anaknya, kini tinggal Biru yang berganti pakaian. Beruntungnya ia yang sudah memiliki wahah cantik alami jadi tak butuh polesan macam macam untuk menunjang penampilannya.
Biru yang menuntun Rain keluar dari kamar pamit lebih dulu pada MiMoynya.
"Hati-hati di jalan, dan cepat kembali jika urusan mu sudah selesai ya" pesan Nyonya besar Rahardian tersebut karna tak ingin kesepian di rumah utama.
"Iya, Moy. Cuma sebentar aja kok."
"Jaga Rain, jangan sampai terjadi apapun padanya" ucap Hujan lagi yang kadang sangat khawatir pada cucunya itu.
Rain yang aktif dan tak mau diam selalu menjadi prioritas utama semua keluarga saat menjaganya.
.
.
.
__ADS_1
Selama di jalan menuju rumah teman Embun, Rain melakukan panggilan telepon dengan Samudera melalui video call di ponsel Biru.
Bocah itu selalu menjawab apa yang di katakan Phiunya entah paham atau tidak.
"Jangan nakal ya, ganteng"
Iyah, piyuuuuuuuuh.. Ta Buy akal iiih.
"Kok, kakak?" sahut Embun saat namanya di sebut.
Rain malah tertawa saat melihat kedua pipi Embun mengembung.
Anan malah-malah yaaaa... ntal nda danteng.
"Eh, kalau kak Buy nanti gak cantik. kalau gak ganteng itu kamu, Bum" ucap Biru membenarkan.
.
.
.
Ia di sambut dengan sangat ramah karna siapapun tak akan berani bersikap tak sopan jika tahu siapa keluarga Rahardian Wijaya.
"Mari masuk, aku sudah menunggumu sejak tadi" ujar Sofia, ibunya teman Embun.
Keduanya masuk langsung kearah ruang tengah, melihat ada temannya Embun tentu langsung bermain berbeda dengan Rain yang masih anteng diatas pangkuan Mhiu nya.
"Rain, ayo main dengan Nadia." ajak Sofia agar bocah tampan itu mau bergabung main dengan putri keduanya juga.
Tapi bukan Rain namanya jika langsung mau. Ia akan memainkan dramanya dulu sebelum turun dari atas paha Biru.
"Beda sama Embun, ini tuh susah banget. Tapi kalau udah nempel sama satu orang susah juga buat lepas" bisik Biru saat sang putra justru terasa semakin nyaman bersamanya.
"Gak apa-apa, pelan-pelan aja dulu. Kita ke belakang yuk ke halaman" ajak Sofia lagi.
__ADS_1
Dua ibu muda yang terlihat dekat karna berlatar belakang sama itu pun kini berjalan ke arah taman belakang. Membiarkan anak-anak main dengan bebas namun tetap di awasi.
"Main sama Nadia ya" titah Biru pada Rain.
Ain apa?
"Main kejar-kejaran sana" timpal Sofia.
Nda, apek
Biru dan Sofia langsung tertawa mendengar jawaban Rain yang sangat menggemaskan tersebut.
Miong, na?
"Nadia gak punya kucing, Bum main sama Nadia aja ya. Tuh duduk di bawah pohon sana"
Nadia yang sejak tadi memang sangat ingin main langsung menarik tangan Rain.
"Main ya" ucap Nadia.
Iyaaaah.
Rain yang seolah pasrah akhirnya setuju, keduanya duduk di bawah pohon bersama.
Cup..
Nadia yang mencium pipi Rain secara tiba-tiba sontak membuat bocah itu menjerit
.
.
.
Otong Miyuuuuuuh..
__ADS_1
Bum, apa nih.. aduuuuuuh!! Iyum-iyum akal iiih!!!