
Berkali-kali meminta dan berkali-kali juga di tolak itulah yang terjadi pada Samudera dan Biru saat ini.
Keduanya sedang sama-sama egois mempertahankan keinginan mereka masing-masing tentang keinginan Biru untuk pulang ke kampung padahal baru sepuluh hari lalu ibu dan bapak datang dan manginap dua hari di rumah utama.
Sam yang malas berdebat lagi langsung keluar dari kamar membawa dasinya yang belum di pakaikan oleh sang istri. Biru hanya menoleh sekilas lalu melanjutkan lagi mengurus Rain yang baru saja selesai mandi.
Dirasa sudah rapih, kini Biru menuntun putranya untuk keluar dari kamar menuju ruang makan untuk sarapan, tapi keduanya malah berpapasan dengan Air yang sama juga baru keluar dari kamarnya. Pria baya itu tentu langsung menggendong Rain, cucu kesayangannya yang akan menjadi pewaris utama Rahardian Group kelak saat dewasa nanti.
"Sam mana?" tanya Air saat menuruni tangga.
"Udah duluan, pAy."
Air kembali melanjutkan candaanya dengan Rain. bocah laki-laki yang semakin hari terlihat pintar dan lucu dan jahil karna target utamanya selalu sang kakak.
"Bum-Bum mau sarapan?" tanya Hujan sambil meraih tubuh mungil Rain dari gendongan sandaran hatinya yang kini menua bersama.
Iyaah.. mam.
"Mau makan sama apa, Sayang?"
utel... iyuy..
"Ish, bahasa Sansekerta keluar, hayo siapa ini yang paham" kekeh Air, ia memang sejak dulu paling sulit paham dengan bahasa bayi hanya bisa tertawa.
"Wortel dan telur, kak" timpal Reza sambil mengusap pipi Sam dalam pelukannya, ia tahu jika cucunya kini sedang galau tingkat dewa. Tapi sang Tutut belum mau bercerita apapun padanya.
"Telur apa, Bum?"
__ADS_1
Iyuy apa ya....
"Telor buaya" sahut Sam masih dengan nada menahan kesal.
Sarapan di mulai dengan obrolan ringan sambil mendengarkan Embun dan Rain berceloteh tak jarang mereka juga berteriak saat saling berebut.
Sam yang tak menghabiskan sarapannya langsung bangun dari duduk, ia berpamitan pada semua yang ada di meja makan tak terkecuali dengan dua buah hatinya.
Biru yang biasanya bergelayut manja kini hanya berjalan di belakang suaminya sampai di depan mobil yang sudah siapkan salah satu supir.
"Aku berangkat ya" pamit Sam pada istrinya yang ia tahu sedang memaksa senyum.
"Iya hati hati di jalan, aku nanti akan bawa Rain buat jemput Embun di sekolahnya" izin Biru pada sang suami.
"Iya, tapi langsung pulang ya"
"Hem. Iya!" jawab Biru penuh penekanan, itu bagai kode jika ia memang tak boleh keluar rumah lagi.
Setelah melepas kepergian suaminya ke kantor tetap dengan drama cium sana sini, Biru pun kembali masik kedalam. Sudah ada Embun dan Air yang bersiap juga untuk berangkat, gadis cilik itu bersikeras ingin diantar oleh papAynya kesekolah.
"Kaliah hati hati di jalan ya" pesan Hujan pada suami juga cucu perempuannya yang begitu nampak sangat cantik.
"Iya, Moy"
Embun memang paling manja dengan Air, berbeda dengan Rain yang pastinya dekat dengan Reza terbukti jika bocah itu kini sudah di bawanya ke kamar untuk di ajak bermain.
.
__ADS_1
.
"Anak ganteng, udah besar mau jadi apa sih?" tanya Reza seperti biasa, ia kan terus banyak bertanya dan mengobrol agar para keturunannya pintar berceloteh.
Wawat.. ebang yuk.
"Wih, hebat mau jadi pilot bawa pesawat, iya?"
Iyahh..
"Emang Bum-Bum udah bisa berhitung?"
Dah..
"Masa, ayo berhitung, Appa mau denger" ucap Reza siap untuk tertawa.
.
.
.
Atu.. uwa uwa.. tida.. mpat.. Ima..Nenem...Ne nE n... apek!
🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵
__ADS_1
Serah lo dah.. itu kenapa ritual pundung di bawa2 sih 🤣🤣🤣
Turunan Gajah emang gk ada yang beres oey!