Samudera Biru

Samudera Biru
Ritual mandi.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Miyuuuuh


Nyeh, ikit buweh nda??


"Gak boleh, sayang. Nyeh nya masih sakit loh" sahut Biru yang kini sudah duduk di tepi ranjang. Ia usap punggung Rain yang masih berguling sambil berceloteh manja.


Auh ya..


Num Buweh?


"Boleh, Mhiu ambil dulu ya minumnya ya. Rain tunggu sini, Ok"


Bubum.


"Ah, iya, Bum-Bum. Bukan Rain" kekeh Biru. Anak itu selalu protes jika di panggil Rain mungkin karna sejak bayi jarang ada yang memanggilnya dengan nama itu, hanya orang-orang yang baru pertama kali atau yang tak terlalu dekat saja yang memanggilnya Rain.


Bum-Bum adalah panggilan kesayangan Reza untuk cicitnya. Sama halnya dengan Embun yang di panggil Bul-Bul. Entah kenapa pria baya itu tak memanggil dengan nama yang Samudera dan Biru berikan. Mungkin alasan kasih sayang, bisa jadi kan?


Biru bangun dari duduknya dan berjalan menuju meja kecil yang terdapat satu botol air putih, di tuangnya langsung dan diberikan pada Rain. Anak balita tampan itu pun meraihnya sambil tersenyum.


Suara tegukannya cukup terdengar keras seolah pertanda Rain benar-benar kehausan sebab ia pun tertidur saat drama ingin menyusu. Hati Biru berdesir dan bagai tersayat saat air putih habis tandas tak tersisa di dalam gelas.


Dah.


"Lagi gak minumnya?" tawar Biru sambil mengambil gelas kosong yang di sodorkan putra bungsunya itu.


Dah... ain ta buuuy.


Biru mengulurkan tangan, lalu menggendong Rain menuju sofa depan TV. Di duduk kannya bocah itu sambil di berikan satu crayon dan kertas kosong, Rain tak pernah mau di berikan mainan lain ia seringkali ingin melakukan apa yang di lakukan kakaknya.

__ADS_1


"Bum, gambar apa?" tanya Embun.


Abang apa


"Di tanya kok balik tanya" ucap Biru seraya mengelus kepala Rain.


Keduanya begitu asik mewarnai meski kadang di selingi teriakan Embun yang di ganggu oleh adiknya atau Rain yang tiba-tiba menggigit dan menjambak rambut kuncir dua sang kakak.


Hingga sore menjelang, kedua keturunan Rahardian itupun mandi bersama berendam di bathup.


Uget uget tuiing tuing... wah


"Jangan di mainin, gak boleh di tarik tarik gitu nanti pipisnya sakit" ucap Biru saat Rain menarik bagian inti miliknya.


"Udah, Mhiu. Dingin" Embun merentang kan tangannya pada Biru yang memegang handuk. Di belitnya tubuh mungil sang Ratu agar tak kedinginan.


"Bul keluar duluan ya, Mhiu handukin Bum-Bum dulu" titahnya pada si sulung.


Embun yang sudah lebih dulu keluar dari kamar mandi tinggal menyisakan Biru yang harus ekstra sabar merayu Rain agar menyelesaikan ritual mandinya. Wanita itu kini bingung karna tak punya alasan atau ancaman apapun lagi agar Rain mau menurut padanya.


"Ayo, Kaka Buy mau pakai baju" rayu Biru lagi.


Bendem yaaaaaa


"Iya, udahan berendemnya. Yuk mau ikut gak?"


Nah..


"Kasih makan kucing Ireng Bum-Bum" jawab Biru.


Miong akal.

__ADS_1


"Enggak, sayang. Kucing nya gak nakal loh" Biru tersenyum simpul masih merasa bersalah pada hewan berbulu hitam tersebut.


Rayuan terus di layangkan Biru, hingga sepuluh menit berlalu anak itupun akhirnya mau bangun dan merentangkan tangannya. Dengan sigap Biru memeluk Rain yang berbalut handuk, dibawanya bocah itu ke luar dari kamar mandi.


Embun yang sudah memakai baju sendiri nampak duduk dengan sisir di tangannya. Rambut ikal basah itu begitu harum menggelitik indera penciuman Biru.


"Mhiu pakein baju Rain dulu ya, habis itu kuncir rambut Kakak" ucap Biru yang di balas anggukan kepala oleh putrinya.


Seperti biasa, Rain akan terus berceloteh sesuka hatinya tak terkecuali kali ini yang menyebut kan seluruh anggota tubuh yang ia tunjuk sambil Biru memakaikan baju.


Nih.. Ata uwa uwa


Nih endung


Nih mulut


Nih piping uwa uwa


Nih apa ya..


Nih Tantik


Nih Nyenyeh...


"Ini Nyenyeh siapa?" tanya Biru saat telunjuk Rain menekan bagian dadanya.


.


.


.

__ADS_1


Nyeh Miong....


__ADS_2