Samudera Biru

Samudera Biru
Ide konyol Phiu


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Terimakasih" ucap Biru pada seorang kasir perempuan usai ia melakukan transaksi pembayaran dua cup ice cream.


"Sama sama, Nona, silahkan datang kembali"


Biru hanya mengangguk sambil tersenyum lalu pergi menemui kedua anaknya yang di jaga Rini.


Embun yang tiga puluh menit lalu baru keluar dari sekolah langsung mengajak Mhiunya mampir ke Mall hanya untuk menikmati ice cream, Biru tentu menyetujuinya karna si sulung mendapatkan nilai terbaik untuk tugas menggambarnya hari ini.


"Coklat dua-duanya, jadi gak boleh rebutan" tegas Biru terutama untuk Rain yang biasanya akan iseng pada Embun.


"Iya, Mhiu. Terima kasih" ucap si sulung sebelum menyuapkan satu sendok berisi ice cream kedalam mulutnya.


Acih miyuuuuhh..


Rain yang tadi menoleh tentu melakukan hal yang sama manisnya seperti sang kakak, itulah yang kadang membuat Embun harus bersikap baik di depan adiknya.


"Sama-sama, Sayang" balas Biru yang sangat terharu.


"Diminum, jusnya Rin" titah sang Nona muda pada pengasuh Embun yang sudah di anggap nya seperti adik sendiri.


"Iya, Nona"


Keduanya banyak berbincang seputar hal umum karna Biru tak pernah mau membahas yang sifatnya terlalu pribadi, jika di luar rumah ia akan memposisikan dirinya sebagai teman untuk Rini karna Biru tahu jika Rini tak dekat dengan ART lain di rumah utama karna kesibukannya mengurus Embun ditambah Rini tak tinggal di rumah belakang seperti yang pelayan lainnya.


"Sudah yuk, kita pulang. Nanti kalian di cariin Moy loh kalau pulang sore" ajak Biru mengingat kan jika kehadiran mereka selalu di tunggu oleh keluarga.


Bumi, bobo ya...


"Iya, tapi gak boleh nyenyeh ya"

__ADS_1


Iyaaa .. nda


"Eh, tumben" ujar Rini, ia yang reflek sampai menutup mulutnya sendiri.


"Haha, iya ya. Harus di kasih hadiah kayanya nih Bum-Bum makin pinter" puji Biru, hal biasa yang ia lakukan jika anak-anaknya melakukan hal baik.


Rini menuntun Embun sedangkan Biru menggendong Rain, bocah tampan itu tanpak diam tak banyak tingkah seperti biasa.


Sampai mereka pun masuk kedalam mobil nyatanya Rain sudah terlelap dalam dekapan Mhiunya.


.


.


Mobil melesat dengan kecepatan sedang, tak butuh waktu lama kendaraan mewah itupun sydah terparkir di garasi rumah utama.


Embun yang sudah masuk kedalam kamarnya langsung di urus oleh Rini, sedangkan si bungsu di bawa oleh Biru ke kamarnya.


Ceklek..


Sam yang ternyata tak tidur tentu langsung menoleh saat mendengar suara.


"Tidur, Bee?" tanya Sam pada istrinya yang kini berjalan mendekat ke arah ranjang tempat ia duduk bersandar.


"Iya, kamu udah enakan belum?" tanya Biru sambil meniduri Rain di tengah ranjang.


"Udah kok, abis makan juga tuh" jawab Sam sambil melirik nampan berisi piring kotor di atas nakas.


"Syukur kalau begitu"


Tring...

__ADS_1


Satu notifikasi pesan di dalam tas Biru membuat wanita itu cepat meraih dan membacanya.


"Siapa?"


"Onty Chacha, katanya aku suruh bawa Embun kerumua Onty yayang, dia mau kasih sesuatu buat Embun" jelas Biru.


"Ya udah, tapi jangan lama-lama, nanti aku kangen" ucap Sam yang malah mendapat cibiran dari istrinya.


.


.


.


Satu menit, sepuluh menit hingga tiga puluh menit semua aman. Namun tidak setelah empat puluh tujuh menit, Rain bangun dan menangis mencari wadah gizi alaminya. Anak itu berontak dan mengamuk terus memanggil Mhiunya.


"Sebentar lagi pulang ya sayang" rayu Sam agar putranya tak terus meronta.


Ta buy naaaaa...


"Lagi pergi dulu sama Mhiu"


Mahu Ta Buuuuy..


Sam yang pusing akhirnya menemukan ide lain agar anaknya mau diam merengek mencari sang kakak yang sudah enam puluh menit pergi bersama istrinya.


.


.


.

__ADS_1


Yuk main, Phiu udah mirip kak Bul-Bul, belum?



__ADS_2