Samudera Biru

Samudera Biru
Belanja yuk


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Dadaaaah piyuuuuh...


Anan akal, keh.


Sam dan Biru pun langsung tertawa, Rain mengucapkan apa yang biasanya Sam katakan sebelum berangkat ke kantor. Bocah pintar itu sudah semakin pintar menirukan gaya orang lain.


"Bum, juga jangan nakal ya, gak boleh nangis juga berantem sama...?"


Miong.


Lagi lagi tawa pun pecah di depan pintu utama. Mainan Rain memang hanya si Ireng, karna Embun belum pulang dari kediaman Biantara.


"Miongnya udah gak nakal, tapi Bum yang nakal nih tarikin bulunya terus" timpal Biru.


Bocah balita itu sering mengamuk jika si Ireng tak mau menjawab ucapannya. Padahal Biru sudah memberi penjelasan jika hewan berbulu hitam keabuan itu tak bisa bicara sepertinya, tapi Rain tetaplah Rain ia tetap kesal jika si Ireng mengacuhkannya jadilah bulu bulu kucing tersebut ia tarik.


"Gak boleh ya, nanti dede di gigit"


Didit nyeh Bum ya...


"Hem, iya!" sahut Sam.


Rain dan Biru melambaikan tangan saat Sam masuk kedalam mobil mewahnya yang sudah di siapkan sedari pagi. Kereta besi itu akan mengantar sang putra mahkota ke perusahaan Rahardian Group bagian pusat di tengah kota.

__ADS_1


.


.


.


Hujan dan Melisa yang sedang duduk di ruang tengah pun di hampiri oleh Biru. Ia biarkan Rain bermain di dekat sofa dengan satu dinosaurus ditangannya. Anak laki-laki tampan itu tak lagi serewel kemarin-kemarin.


"Udah gak minta nyusu, Bi?" tanya Melisa.


"Enggak, sih. Kalau lagi inget aja, kaya mau tidur atau bangun tidur kalau lagi main begini udah enggak paling minta minum atau pisang" sahut Biru.


"Phiunya dulu berenti sendiri, jadi bingung juga kalo Rain ngamuk" timpal Hujan.


"Apalagi dulu mama, Jan. Tadinya mau ASI semua tapi karna suamimu itu serakah dan cengeng jadi mama terpaksa selingi dengan sufor. Kasian adik adiknya gak ke bagian terus" ucap Melisa dengan kekehan kecil karna masa puluhan tahun silam nyatanya masih membekas di otaknya.


Keterbukaan para menantu membuat Melisa lebih mudah merangkul para pasangan keturunannya itu. Tak pernah ada selisih paham atau perdebatan tentu bonus paling berharga di keluarga Rahardian. Semua saling menggenggam dan membantu dalam hal apapun itu.


.


.


Miyuh... Num.


"Jus atau air putih?"

__ADS_1


Num putih.


Ya, sampai saat ini Rain belum mau beralih ke susu formula, hanya satu atau dua kali teguk ia langsung memuntahkannya. Padahal semua jenis susu sudah di coba mulai dari rekomendasi dokter, keluarga hingga teman-teman.


"Mhiu ambil dulu ya sebentar"


Biru bangun dari duduknya, mengambil air putih ke dapur bersih tanpa ia sadar jika Rain malah mengekor di belakangnya.


"Nah, kan. Malah ikut Mhiu"


Ntut.. ntut...


"Kan Mhiu bilang tunggu, kenapa malah ikut"


Rain hanya tersenyum lebar hingga terlihat semua deretan gigi putihnya yang kecil kecil. Ia pun langsung meneguk setengah gelas kecil yang di berikan Biru padanya. Anak dan ibu itupun kembali ke ruang tengah, tapi belum sampai disana Rain malah membelok kan langkahnya menuju salah satu mainan Embun. Diambilnya benda tersebut dan berjalan ke arah ruang tengah.


Tiga wanita para menantu Rahardian itu pun tak kuasa saat melihat kelakuan Rain yang hampir mengocok perut mereka.


.


.


.


Ba' anja yuk... bolong bolong

__ADS_1



__ADS_2