Samudera Biru

Samudera Biru
Nyeh nih...


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Treekk..


Sam yang baru menutup mata harus mengerjap kembali saat mendengar bunyi yang begitu nyaring di telinganya. Ia yang sudah bersembunyi di balik selimut dengan ragu menyibak kan kain tebal itu untuk mengintip.


"Suara apa ya, bisa gak sih sekali aja kalau nginep disini jangan denger yang aneh-aneh" umpat kesal Samudera yang berusaha menutup lagi matanya.


Ia melirik kearah Biru yang sudah terlelap usai menyusui Rain, wanita cantik itu terlihat begitu damai mengarungi mimpi setelah seharian ini banyak melakukan banyak hal yang tak ia lakukan di rumah utama. Sam pun langsung merubah posisi tidurnya menjadi kesamping.


Pria tampan yang di nobatkan sebagai putra mahkota Rahardian itu mengusap lembut pipi istri tercintanya.


"Seneng ya disini, meski harus nyapu dan bakar sampah. Belum lagi mungutin ranting dan ngepel. Aku sebenernya gak suka, tapi aku juga gak boleh egois kan, Bee. Benar katamu, jika disini kamu adalah Berliana Biru anak bapak dan ibu bukan seorang nona muda Rahardian seperti di rumah utama." ucap Sam pelan. Ia begitu bangga dengan wanita halalnya yang tak pernah sombong meski kini berubah menjadi cinderela.


"Sehat sehat dan bahagia terus ya, Sayang. Aku benar-benar mencintaimu. Sangat dan akan terus seperti itu" tambah nya lagi seraya tersenyum lalu sekilas mencium kening Biru.


Awalnya ia ingin minta jatah membajak sawah malam ini karna si tutut mulai meronta tapi semua urung di lakukan saat Si bawel Bum-Bum tak juga melepas sesap annya, malah bocah tampan itu menikmati dua-duanya sampai Sam merengut kesal merasakan iri yang luar biasa, bohong sekali jika ia tak ingin juga tapi Biru selalu menolak dan mengancamnya untuk menyegel area atas dan bawah sekaligus jika suami tampannya itu nekat.


.


.

__ADS_1


Pagi hari, saat yang lain masih terlelap Biru justru sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan bersama Embun. Si cantik berkuncir dua itu duduk di meja makan memperhatikan Mhiu nya memasak.


"Ulelnya panjang banet" ucap Embun, mata bulatnya begitu fokus pada apa yang di lihatnya kini.


"Bukan uler, ini usus Ayam, kak" jawab Biru sambil terkekeh, ia membenarkan tebakan putrinya yang salah.


"Tapi panjang panjang banet kan kaya ulel"


"Iya, ini kan lagi di potongan-potong sama Mhiu biar pendek, jadi dimakannya enak"


"Anan pedes ya, ntal Buy nda mahu makan loh"


Kali ini Biru akan memasak usus ayam krispi dengan sup baso ayam kesukaan Rain, anak itu akan sangat lahap jika ia atau Ammanya yang memasak. Bukan hanya karna rasanya yang pasti enak tapi Rain senang juga menghitung jumlah baso di mangkuknya yang sudah pasti tak beraturan.


Tap... tap... tap..


Suara langkah kaki menuruni tangga membuat Biru dan Embun menoleh secara bersamaan. Senyum mengembang di wajah dua wanita cantik saat melihat Sam menggendong Rain.


"Kok udah bangun?"


"Gak tahu, kayanya nyari kamu" Jawab Sam sambil menyerahkan sangat putra pada istrinya.

__ADS_1


Miyuh nyenyeh yuuuuk


Biru yang tahu jika putranya mulai merengek langsung memfokuskan mata Rain pada Embun.


"Bum-Bum lihat kak Buy, Kak Buy punya apa tuh?" ucap Biru agar Rain lupa dengan permintaannya.


"Apa, Bubuy nda puna apa apa nih" jawab Embun bingung, pasalnya ia memang tak memegang apapun.


Biru dan Sam langsung membuang napas kasar saat mendengar jawaban polos sang ratu Rahardian.


Apapun Biru lakukan demi teralih nya fokus Rain, tapi semua terasa sia-sia saat mendengar jerit kesal Rainerly.


.


.


.


Aduuuh.. otong otong mahu nyenyeh nih...


__ADS_1


__ADS_2