Samudera Biru

Samudera Biru
Tungguin nya, disini ya...


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Liburan ke pulau pribadi adalah pilihan Sam dan Biru saat mereka di beri waktu oleh kedua orangtuanya untuk menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan si dua bocah menggemaskan. Meski awalnya menolak tapi akhirnya Biru luluh juga saat ia terus di serang oleh berbagai rayuan maut dari suaminya yang terus memaksa.


Dan malam kurang lebih pukul 22.15 mereka berangkat meninggalkan rumah utama.


"Aku gak tega sama anak anak" lirih Biru saat keduanya sudah ada di dalam mobil yang siap mengantar mereka menuju bandara.


"Kenapa? Embun sama Rain udah gede. Apalagi besok ada acara di rumah temen MiMoy. Gak apa-apa ya"


"Iya, tapi aku akan sering telepon mereka" balas Biru, mengurus sendiri sang buah hati membuat wanita itu memang tak pernah kuat berjauhan dengan waktu lama. Biru akan bingung sendiri akan melakukan apa jika sedang tak bersama si sulung atau si bungsu.


Sam menarik tubuh sang istri agar masuk ke dalam dekapannya. Ia usap kepala Biru sambil di ciuminya berkali-kali seolah berterimakasih karna sudah selalu membahagiakannya.


.


.


.


Pagi menjelang, Embun yang bangun lebih dulu sudah di bawah oleh Air bermain. Sedangkan Hujan masih menunggu Rain bangun dari buaian mimpi indahnya. Dua bocah lucu itu memang tidur di kamar MiMoy dan PapAynya.


Hiks...


Hujan yang memainkan ponselnya langsung menoleh saat mendengar rengekan cucu laki-lakinya itu. Di letakkannya si benda pipih ke atas nakas agar ia bisa meraih tubuh mungil Rainerly.


Miyuh, na???

__ADS_1


"Mhiu lagi pergi dulu ya sama Phiu" jawab Hujan.


Na, iiih....


"Cari kodok" Hujan yang asal menyahit membuat Rain bingung.


Odok ucat ucat


"Nah, iya " tawa si calon nyonya besar Rahardian itu sampai menggema ke seisi kamar.


"Mandi yuk?"


Nda, ninin... Ta Buy, na???


" Main sama papAy, yuk mandi dulu. Nanti kota main sama Kak Embun "


"Ya ampun, kenapa malah nanyain kuncirnya sih" Hujan yang gemas akhirnya menciumi sang pewaris Rahardian tersebut.


.


.


Seperti biasa, Rain akan berhitung saat menuruni tangga. Bukan karna ia tak bisa, tapi bocah itu selalu mengeluh capek saat berada di hitungan angka empat. Sudah menjadi kebiasaannya meski sudah di minta untuk meneruskan tapi Rain sering memilih mengulang di banding melanjutkan sampai angka sepuluh.


"Ayo terusin, lima... enam.. tujuh.. delapan.. sembilan.. sepuluh, Bum" ujar Hujan yang masih menggandeng tangan Rain.


...Atu.. uwa uwa, tida, empat.. dah ya... Bum apek ya... ...

__ADS_1


Hujan membuang napas kasar, antara gemas dan ingin mencubit.


"Iya deh, hitung sampe empat capek tapi duanya selalu double" guman Hujan sambil menggelengkan kepalanya.


Rain melepas tangannya saat anak laki-laki itu melihat si Ireng sedang berjalan juga kearahnya. Dua sahabat baik itu pun berpelukan sebagai sapaan selamat pagi.


Miong, andi ya...


"Miong udah mandi kemarin sore, sekarang Bum yang mandi"


Nda, ntal ya... Bum mahu susu buweh?


"Boleh dong, Moy bikinin dulu ya. Bum tunggu disini, ok" titah Hujan sambil mengusap kepala cucunya yang di jawab anggukan kepala.


Hujan yang berlalu kearah dapur meninggalkan Rain dan Si Ireng. Bocah menggemaskan itu malah mengajak kucing peliharaannya menuju jendela besar, ia duduk disana bersama si Ireng.


.


.


.


.


Uwin uwin Moy na nini ya....


__ADS_1


__ADS_2