
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Bee.... aku bunuh diri nih ya, kalau kamu cuekin aku terus!" ancam Sam dengan cara mencekik lehernya sendiri.
"Waktu dan tempat di persilahkan, Tuan muda Samudera ErRainly Rahardian Wijaya" jawab Biru dengan santainya, saking santainya ia sampai melipat tangan di dadanya.
"Ish, emang siap jadi JAHE?" tanya Sam.
"Apa tuh?" Biru balik bertanya dengan kening mengernyit.
Janda Herang...
Perdebatan terus mereka lakukan, tapi tentu tak seperti pada umumnya karna disini tentu Samudera lah yang merajuk. Cintanya yang begitu besar pada sang pemilik hati membuat Sam akan panik sendiri jika Biru sudah mengeluarkan tanduknya.
Salah paham sudah sangat biasa terjadi, tinggal bagimana caranya mereka menyelesaikan dengan tak memakai emosi apalagi kekerasan fisik.
"Bee... Rain loh yang mau Mhiu nya dua, aku engak" kata Sam masih meyakinkan istri tercintanya.
"Yakin gak mau, kirain bakal di turutin, gitu?" sahut Biru sambil melengos ke arah ranjang.
"Aku cukup satu, kalau anak aku dua" balas Sam lagi.
Sam bersimpuh di lantai dengan tangan ia letakkan diatas pangkuan Biru, entah kenapa kali ini wanita itu begitu sulit untuk di rayu. Sam hanya ingin Biru kembali tersenyum seperti beberapa saat sebelum Rain mengoceh yang akhirnya mengundang Pertengkaran.
__ADS_1
"Bumbum itu jangan di percaya, Tukang menebar hoak dia tuh, Bee" kata Sam meyakinkan.
"Heh! anakku itu" cetus Biru tak Terima.
"Ya udah, jangan ngomel lagi. Aku sayang kamu. Ok"
Beberapa detik Biru diam sejenak, ia tatap kedua mata pria yang berstatuskan suaminya itu dengan cukup intens, begitu banyak pancaran cinta dan kejujuran disana yang mampu Biru rasakan.
"Awas! aku mau mandi"
Biru bangun dari duduknya meninggalkan Sam yang di tepi ranjang.
"Ya ampun!" rutuknya kesal sambil mengacak rambutnya sendiri.
Sam yang keluar dari kamarnya langsung menuju kandang sang Gajah. Entah ada atau tidak ia pun belum tahu karna terakhir bersama saat di lantai bawah.
"Appa...?"
"Masuk, dek" sahut suara seorang wanita yang tak lain pasti Ammanya.
Cek lek
Sam membuka pintu, matanya langsung tertuju pada sosok pria baya yang sedang mendekat balita mungil diatas ranjang, kenangan puluhan tahun pun seolah kembali ia ingat.
__ADS_1
Dulu dede ya, yang di peluk sama Appa.
Sam melanjutkan langkahnya sambil tersenyum, ia duduk di tepi ranjang lalu mengusap pipi putranya yang sedang terlelap, begitu pun dengan Reza yang menutup matanya tapi Sam yakin jika itu hanya pura pura.
Melisa yang sedari tadi di sofa pun kembali meneruskan aktivitas rajutan nya.
"Kenapa? masih ngambek?" tanya Reza pelan saat mata teduhnya terbuka.
"Hem, lagi ngoceh aja. Gak biasanya loh Biru begitu" adu Sam yang sebenarnya ingin bertukar posisi dengan Rain.
"Udah biasa, gak usah di ambil pusing, nanti juga baik sendiri" kekeh Reza yang seolah sudah sangat paham dengan rajukan yang bernama kaum wanita.
"Tapi, Appa? dede gak nyaman banget" liriknya yang kini sambil menunduk kan kepala.
Reza menarik napas dalam-dalam saat ia mencoba melepas pelukannya dari sang cicit kesayangan, hanya dalam pelukannya bocah itu bisa tidur tanpa ribut ingin wadah gizi alami.
"Dengerin Appa baik baik ya de" pinta Reza sambil sedikit terkekeh.
.
.
.
__ADS_1
Laki-laki kalau marah 2 atau 3 jam selesai, beda sama perempuan yang justru gak pernah lama, paling cuma 5 menit tapi sisanya 23 jam 55 menit itu di pake buat ngambek.
Lalu di kali 7 hari 7 malem, perempuan juga ahli sejarah, di bakal mengungkit semua masa lalu hingga sedetail mungkin. Jadi, Hati-hati ya sama makhluk yang namanya PEREMPUAN