Samudera Biru

Samudera Biru
Baby....


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Biru yang sudah masuk lebih dulu bersama suaminya langsung di susul oleh Hujan, kini tinggal ada Air yang sudah pindah menunggu di ruang rawat yang dulu juga di pakai usai melahirkan Embun.


Cek lek


Pintu terbuka dengan sedikit keras, Air yang sedang duduk di sofa berselimut kan kain tipis pun menoleh. Dua pria kembar berwajah mirip namun beda karakter itupun saling padang dengan alis saling bertaut.


"Ngapain selimutan?" tanya Bumi yang akhirnya masuk disusul juga oleh Kahyangan dan kedua orang tuanya.


"Loh, kakak Sakit?" seru Melisa yang langsung saja panik, tak perduli kini putaranya sudah memiliki dua cucu tapi Air tetaplah Air yang selalu menjadi anak kesayangannya yang cengeng.


"Enggak, mah" jawab si sulung yang berhambur memeluk sang pawang gajah.


"Ini kenapa?"


"Kakak gak pake baju nih" ucapnya sambil menyibakkan selimut yang menutup tubuhnya.


"Astaghfirullah" pekik Kahyangan yang kaget, ia sampai membuang pandang dan mengusap dadanya.


"Yaelah yang, sama aja kali sama kaya Bumi" ejek Air pada adik iparnya.


"Aku tuh cuma kaget!" sahut si cantik solehah.

__ADS_1


Bumi yang langsung memeluk istrinya pun hanya bisa terkekeh gemas, wanitanya benar-benar menjaga pandangan matanya.


"Bajumu kemana kak?" tanya Reza yang sedang memangku Embun, si cantik yang tak banyak bicara karna mengantuk.


"Dipake dede!"


"Lah, kok bisa?" tanya Bumi lagi.


"Au ah!"


*****


Biru yang sudah bersiap menyambut anak keduanya terus berdoa dalam hati dengan tangan terus saling menggenggam, Sam sesekali menghapus cairan bening di sudut mata sangat istri yang menyipit karna lelah dan mengantuk. Hal yang wajar namun harus di hindari.


Rasa dimana rasa takut pasti terselip dalam hatinya, entah itu takut kehilangan atau takut yang lainnya. Sam menciumi pipi dan kening Biru berkali-kali berharap ia bisa memberikan wanita halalnya itu sedikit kekuatan.


"Pembukaannya lengkap, Nona sudah siap?" tanya salah satu dokter sambil mengusap perut buncit menantu pemilik rumah sakit.


"Lakukan yang terbaik, Dok" pinta Hujan penuh harap meski ia tahu dokter pilihannya itu adalah salat satu dokter yang bisa di andalkan di bidangnya.


"Tentu, Nyonya"


Biru memposisikan dirinya sama seperti saat dulu ia melahirkan Embun, karna sudah pernah mengalaminya tentu kali ini ia tak lagi kebingungan atau banyak bertanya. Insting keibuannya jauh lebih kuat apalagi saat ia juga tak sabar menyambut buah hati keduanya.

__ADS_1


"Kamu pasti bisa, adeknya Bul-Bul sebentar lagi kita peluk. Kamu bahagia kan?" bisik Sam, pria tiga puluh tahun itu terus meneteskan air mata yang tak lagi kuat ia tahan.


"Iya, Bee. Aku pasti bisa demi kalian semua aku bisa" jawabnya meski dengan napas tersengal karna kenikmatannya kini tiada henti dan jauh berlipat ganda.


"Tarik napas dan hembuskan perlahan ya Nona, dan Mulai menge Jan" titah dokter yang juga sudah bersiap.


Doa tak henti Hujan dan Sam ucapkan dalam hati, genggaman yang begitu kuat Sam rasakan benar-benar seolah menjadi pertanda betapa gigihnya perjuangan sang istri dalam melahirkan keturunannya, hasil kerja kerasnya saat menggapai puncak pelepasan.


Hujan yang terus menguatkan dengan mengusap kepala dan perut Biru merasakan juga apa yang sang menantu rasakan saat ini, Biru justru lebih beruntung karna bisa melahirkan dua anaknya.


Lima menit berselang dengan perasaan yang campur aduk, tangis bayi pun pecah menggema ke seisi ruangan bersalin. Rasa lega pun dirasakan oleh semua yang ikut tegang dalam proses lahirnya keturunan Rahardian.


Sam Langsung menoleh kearah dokter yang membawa anaknya untuk di letakan di dada Biru.


Bayi mungil dengan rambut hitam dan berkulit putih bersih itu begitu terdengar nyaring tangisnya.


.


.


.


Welcome Baby RainerLy Rahardian Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2