
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
10.17
Angka yang di lihat Sam saat ia mengerjapkan matanya yang terasa begitu berat akibat menangis semalam di punggung Biru. Tubuhnya terasa lemas bagai tak bertulang dengan kepala yang sedikit berdenyut sakit.
"Bee..." lirih Sam sambil mengusap sisi ranjang yang kosong, tempat yang biasanya menjadi area panas mereka, tapi semalam justru berubah dingin seakan tak bergairah.
Sam bangun dari tidurnya, kakinya meringsek turun dari ranjang kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dibawah guyuran air shower ia berharap semua ini mimpi, rasanya tak sanggup dua hari di abaikan oleh sang pemilik hati.
Cek lek
Dia pintu di buka secara berbarengan, pandangan mata pasangan suami istri itupun kini saling bertemu tanpa senyum.
Sam yang keluar dari kamar mandi langsung merapihkan diri, begitu pun dengan Biru yang membaringkan Rain di box nya karna tertidur saat bermain dengan Embun di gazebo halaman belakang.
"Aku siapkan makanan untukmu" ucap Biru sembari berjalan hendak keluar dari kamar.
"Aku makan di kantor saja nanti" sahut Sam yang membuat langkah wanita beranak dua itu berhenti lalu menganggukkan kepala.
__ADS_1
Sam yang tak menoleh kearah sang istri hanya bisa mengehela napas kasar, Berliana Birunya benar-benar merajuk lebih dari yang ia bayangkan.
"Sebenarnya salahku dimana?" lirihnya sambil mengusap wajah kasar.
.
.
Tanpa pamit, pria berusia tiga puluh tahun itu pergi ke kantor untuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang sedikit menumpuk usai liburan dadakan nya kemarin ke luar kota. Hingga sampai di ruangannya pun kedua mata Sam tetap fokus pada layar laptopnya.
Tok.. tok.. tok..
Ceklek..
"Selamat siang, Tuan"
"Hem, ada apa?" tanya Sam tanpa menoleh.
"Agenda Tuan hari ini bisa saya bacakan sekarang? agar saya bisa mengatur dan mengubahnya lebih awal jika Tuan ada keperluan lain di luar?" ucap Jero dengan Tab di tangannya.
__ADS_1
"Tidak usah, lakukan semua sesuai jadwal"
"Tapi, ada empat pertemuan hari ini, dan yang terakhir saat jam makan malam" jelas Jero dengan sedikit heran, pasalnya sang direktur utama selama ini tak pernah mau pulang lebih dari jam lima sore.
"Lakukan saja, lebih cepat beres bukankan lebih bagus" tegasnya.
"Baiklah, Tuan"
Sam dengan seksama mendengarkan apa yang di ucapkan asistennya tanpa membantah sama sekali, hari ini Ia turuti semua yang sudah di atur oleh Jero termasuk makan malam bersama dengan rekan bisnisnya di salah satu resto yang cukup terkenal dengan club malamnya.
Tiga pertemuan selesai, di penghujung sore kini saat Sam dan Jero melesat ke pertemuan terakhir dimana waktu dan tempatnya sudah di tentukan.
"Apa anda ingin beristirahat sejenak, Tuan?" tawar Jero yang melihat gurat lelah di wajah bos besarnya.
"Tidak, lanjutkan saja pertemuannya" tolak Sam sambil meraba layar ponsel yang terdapat poto Biru, Lima tahun ini hanya wanita itu yang menjadi pemanis benda pipih miliknya tanpa di minta. Itu adalah salah satu pengobat rindu mana kala ia sibuk atau tak adanya satu pesan pun dari Biru seperti hari ini yang benar-benar tanpa kabar, bahkan tadi Embun meneleponnya menggunakan ponsel sang ibu.
.
.
__ADS_1
Di saat kamu masih mengabaikan ku saja, aku masih merindukan mu.