Samudera Biru

Samudera Biru
Pulang yuk, Bee..


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Al, aku Biru?"


Sam langsung membalikkan badannya. Raut terkejut tentu sangat terlihat di wajah pria beranak dua tersebut. Keduanya saling menatap dengan sorot mata yang jelas berbeda.


"Bee"


"Siapa yang datang barusan?" selidik Biru tanpa senyum.


"Alisha, Bee.. aku bisa jelasin sama kamu" jawab Sam sambil mencoba meraih tangan istrinya tapi Biru menepis nya dengan cepat sambil mundur beberapa langkah.


Nama yang selalu ia hindari untuk di dengar nyatanya hari ini lolos begitu saja dari mulut Samudera, pria yang sangat ia banggakan rasa setianya selama ini.


"Bee, dengerin aku dulu"


"Aku datang kesini buat bilang kalau aku mau jemput Embun. Aku pamit"


Dengan sedikit berlari Biru keluar dari ruangan suaminya membawa rasa kecewa luar biasa, hatinya sakit saat tahu ada wanita lain yang menemui suaminya. Entah apa yang di pikirkan Pria itu sampai harus salah memanggil nama.


.


.


.

__ADS_1


"Kenapa, Bee?" tanya Hujan saat menantunya masuk kembali ke dalam mobil.


"Gak apa-apa, Moy"


"Sam ada? kamu udah minta izin?"


"Udah kok, boleh katanya" sahut Biru yang sebenernya Sam tak mengatakan apapun sebelum ia pergi.


Rain yang sudah berpindah ke pangkuannya terus memandangi Mhiunya. Yang biasa ia sangat aktif kini nampak diam tak melakukan apapun kecuali menyandarkan kepala di dada Biru. Hujan hanya sesekali menoleh dengan banyak pertanyaan di kepalanya.


Sampai di kediaman Biantara, Embun langsung bertingkrak senang saat melihat, Mhiu, Moy dan Rain datang. Ia sampai berkali-kali menciumi pipi sang adik untuk menyalurkan rasa rindunya.


udah ih... anan ium ium.


"Kakak kangen, gak ada yang narikin kunciran kakak lagi loh" kata Embun sambil mencubit pelan kedua pipi di bungsu.


Rain turun dari sofa lalu menghampiri Biru yang sedikit melamun, sikapnya begitu aneh karena terus mengaduk jus jambu di tangannya tanpa di minum sedari tadi. Tatapan wanita itu begitu lain hingga semua orang bisa merasakan perubahannya.


Miyuh.. didong.


"Hem, apa?"


"Gendong, Bee. Rain minta gendong katanya" ucap Hujan, matanya terus saja menyelidik kearah sang menantu.


"Oh, Iya. Kita lihat ikan yuk"

__ADS_1


Yuk...


"Bubut, ikut" seru si sulung yang malah berlari lebih dulu sambil tertawa senang.


Biru langsung berjalan menyusul putrinya sambil menggendong Rain meninggalkan Hujan dan Cahaya yang saling pandang belum mendapat jawaban.


Di tepi kolam ikan, Biru hanya memfokuskan dirinya pada Embun dan Rain. Ia sedang berusaha sekuat hati melupakan kejadian beberapa jam lalu yang sudah mengoyak hatinya sampai sesakit ini. Berkali-kali ia melihat ponselnya tapi tak ada sekali pun Sam menghubungi untuk sekedar menjelaskan. Semua nampak tak terjadi apapun.


Biru terus menarik napas dalam-dalam dan membuangnya secara kasar, sebisa mungkin menjaga suasana hatinya saat si buah hati bertanya ataupun mengajaknya bercanda. Senyum yang Biru berikan semata agar orang lain tak tahu bagaimana perasaannya kini.


Ibu dan dua anak itu masih sibuk saling berceloteh sembari memberi makan ikan ikan sang Tuan besar Biantara sampai tak menyadari ada seorang pria di belakang mereka sedang mempertahankan air matanya agar tak tumpah sama sekali.


"Bee.."


Biru yang kenal dengan suara itu tak mau menoleh, berbeda dengan Embun dan Rain yang langsung berteriak senang.


"Kita pulang ya, Bee" ajak Sam saat istrinya tak kunjung membalikkan badan.


.


.


.


.

__ADS_1


Aku ingin menginap disini...


__ADS_2