Samudera Biru

Samudera Biru
Merah dan banyak loh!


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Samudera yang harus tetap pergi ke kantor karna ada beberapa pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan terus saja menghubungi istrinya dirumah hanya untuk menayakan keadaan Embun, si sulung yang sedang demam itu awalnya merengek tak mau ditinggalkan, tapi beruntungnya Air mampu merayunya dengan candaan juga janji luar biasa yang akhirnya membolehkan Phiunya itu pergi menuju perusahaannya.


"Masih demam, Bee?" tanya pria tampan tersebut saat melakukan panggilan telepon.


"Hem, udah enggak. Makan juga udah mau sedikit sedikit cuma masih lemes banget" jawab Biru yang sangat mengerti kekhawatiran suaminya.


"Syukur lah. Udah panggil dokter kerumah?"


"Belum, kan udah mendingan. Tadi di uap juga sama MiMoy biar napas sama bapilnya enakan"


Entah akan jadi apa hidupnya jika ibu mertuanya itu tak ada di saat anak-anaknya sakit karna ia termasuk orang yang lumayan panikan dalam segala hal apalagi ini menyangkut putrinya sendiri yang menjadi Ratu di keluarga sang suami, Rahardian Wijaya.


"Kamu nanti langsung pulang kan, Bee?"


"Tentu, setelah rapat dengan perusahaan XY aku langsung pulang ke rumah utama. Aku benar-benar khawatir pada putriku" jawab Samudera.


"Ya sudah, aku tunggu dirumah"


"Iya, Sayang. Aku mencintaimu" ucap Samudera sebelum panggilan telepon mereka berakhir.


Biru menyimpan lagi ponselnya keatas nakas, ia lalu begegas ke kamar Embun untuk melihat anak-anaknya yang sedang di tamani oleh keluarganya juga.


Senyum terukir di ujung bibirnya saat melihat Rain dan Embun di atas ranjang yang sama.

__ADS_1


Ta Buy, Auh ya.??


Pucing ya..


Bum uga pucing nih.. aduuuuuuh..


Rain yang mulai melakukan dramanya malah mengundang gelak tawa, ia berbaring di samping Embun yang demamnya sudah sedikit mereda.


Gadis kecil itu hanya tersenyum simpul, melihat tingkah adiknya ia tentu begitu gemas tapi untuk bercanda rasanya masih sangat lemas. Ia biarkan Rain berguling di ranjang yang penuh dengan boneka, ada yang memang miliknya ada juga yang baru hadiah dari orang-orang terdekat termasuk keluarga besarnya agar Embun semangat untuk sembuh.


"Awas jatuh, sinian" kata Embun saat Rain duduk terlalu tepi.


Atoh ya, ntal angis taya miyuuuuh...


"Memang Mhiu nangis kenapa?" tanya Hujan sambil melirik kearah menantunya.


"Enggak, Moy. Aku mana pernah nangis" sergah Biru sedikit panik, ia tentu takut jika mertuanya itu berpikir yang tidak-tidak.


"Kalian bertengkar?" selidik Hujan lagi yang langsung dijawab gelengan kepala cepat oleh Biru.


Rain yang turun dari ranjang Embun langsung naik ke atas pangkuan MiMoynya. Bocah menggemaskan itu menatap kearah Hujan sambil tersenyum siap untuk membongkar aib orangtuanya.


"Apa?"


Miyuh, angis ya..

__ADS_1


"Kenapa? Phiu Bum nakalin Mhiu?"


Hujan menautkan kedua alisnya saat melihat cucu laki-laki nya itu juga menggeleng kan kepala.


"Lalu? Bum yang nakal ya?


Nda iiiiih.. Bum baik ya.. manis ya.. pitel yaaaa


Protes dan percaya diri bocah tersebut membuat Semua yang ada di kamar Embun tertawa gemas.


" Terus yang bikin Mhiu nangis siapa, ganteng?"


Miong..


"Miong???!" seru semuanya bingung dan tak paham.


Miong didit-didit Miyuh. Miong Bum akal, Bum didit Piyuuuuh deh.


"Miong yang gigit Mhiu, kenapa Phiu yang di gigit, Bum? Emang Miong gigit apanya?" tanya Hujan.


.


.


Nyeh uwa uwa, melah melah mua, banak banet loooooh..

__ADS_1



__ADS_2