Samudera Biru

Samudera Biru
Entut Miong


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Melisa yang membuka pintu langsung tersenyum lebar saat melihat siapa yang datang. Seorang bocah kecil berpipi bulat putih itu memperlihatkan giginya yang berderet kecil dengan satu robot di tangannya.


"Anak ganteng mau kemana? kok sendiri?" tanya Melisa saat sudah berjongkok di ambang pintu. Kini keduanya pun saling berhadapan dengan saling melempar senyum.


Appa, na?


"Ada, Bum mau main sama Appa?"


Yah.. ain-ain ya.. Tejal-tejal buweh?


"Udah gak bisa kejar-kejar dong, main sama Appa di tempat tidur aja, Keh"


Keh, Amma...


Nyonya besar Rahardian itupun menggandeng cicit laki-lakinya masuk ke kamar dengan pelan. Ia sedikit bingung karna Rain datang sendiri.


"Bum, sama siapa?"


"Sendiri tadi ketuk-ketuk pintu" jawab Melisa saat ia dan Rain sudah ada di ranjang.


"Kok? Biru kemana?" tanya Reza lagi.


"Entah, aku juga kaget"


Reza mengangkat tubuh montok Rain agar lebih dekatnya, dan mulailah tangan bocah itu tak mau diam. Ada saja yang ia mainkan di setiap wajah Appanya yang tak lagi muda, namun meski begitu mak othor tetep cinta.


***Bum, upet ta buy.


Anan bicik, keh***


"Hem, nih anak malah ngumpet disini. Nanti kakak nangis loh nyariin Bum" ujar Melisa yang akhirnya tahu alasan kenapa Rain datang ke kamarnya.

__ADS_1


Ta Buy nda Anis... Ta Buy malah


Ya, Ratu Rahardian itu memang sering tak sabar dan berakhir kesal jika tak kunjung menemukan adiknya yang bersembunyi.


Rain memang paling pintar jika soal menghilang kan dirinya sendiri, bahkan kadang di tempat yang tak terpikirkan oleh siapa pun.


"Keluar yuk, kita main sama kakak" ajak Reza yang tak ingin cicit sulungnya nanti merajuk karna Rain ternyata bersembunyi di dalam kamar.


Nda, Bum mahu bobo, keh


Reza dan Melisa saling menatap, jika melihat mata bocah itu, memang terlihat jelas mengantuk bahkan sudah menguap.


"Ya udah, Bum bobo sama Appa. Amma bilangin Kakak dulu ya" ucap Melisa sambil mengelus kepala Rain yang mengangguk pelan.


Sang Pewaris Rahardian itu pun langsung meringsek masuk kedalam dekapan sang Gajah. Untungnya Si Tutut Markentut sedang sibuk di kantor karna jika ada di rumah, sudah bisa di pastikan jika dua pria beda generasi itu akan saling berebut pelukan.


.


.


.


"Belum bangun, Mas?"


"Belum, malah makin pules banget" Jawab Reza sambil memandang cicitnya yang menggemaskan. Dan ia tak tentu pernah ingin melewatkan nya.


Melisa yang duduk bersandar ikut mengelus pelan kepala Rain, tapi sentuhan itu malah membuatnya menggeliat pelan.


Amma...


"Iya, Sayang"


Nyeh.. ih...

__ADS_1


"Nah, kan. Dia minta susu" ucap Reza yang langsung mencium pipi Rain yang gembil.


"Nanti ya, Amma minta Mhiu buatkan dulu"


Iyaaah...


Selama menunggu susunya datang, Rain masih berguling di kasur bersama Reza. Celotehnya yang lucu tentu membuat siapa pun gemas dan tak puas menciumnya.


Cek lek


Biru datang dengan sebotol susu untuk putra bungsunya. Rain yang sudah bertepuk tangan senang langsung menerimanya dengan senang hati.


Acih miyuuuuh..


"Sama-sama, Sayang. Habisin ya"


Iyaah.


Rain menyedot susunya sambil bersandar setelah melambaikan tangan kearah Biru yang kembali keluar dari kamar mertuanya.


"Enak banget, Appa minta dong" goda Reza.


Nda buweh yaaa.


"Eh, kok pelit sih, Appa cobain sedikit"


.


.


.


Nda enak, nih Nyeh na bau entut miong...

__ADS_1



__ADS_2