Samudera Biru

Samudera Biru
Tangkep ikan.


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁


Semua yang berada didalam kamar Sam dan Biru akhirnya turun ke lantai bawah hanya untuk melihat Samudera menangkap ikan Platinum AROWANA seharga 5,5 Milyar rupiah.


Reza menghela napas berat saat berdiri di tepian kolam tempat dimana ada tiga ekor ikan kesayangannya sedang berenang bebas.


Entah yang mana yang akan di tangkap oleh Sam, bagi Biru itu sama saja asalkan berasal dari Rumah utama.


"Aku gak pernah kepikiran kalau ikan papah bakal mati karna cucumu, kak" bisik Hujan yang ikut menyaksikan juga.


"Lupa kasih makan aja, papa ngamuk loh bulan kemarin sama Pak Nono. Lah ini malah berakhir di penggorengan." balas Air sambil berbisik juga.


"Iya, mana minta di potong nya kecil-kecil" kekeh Hujan lagi.


Air merangkul bahu istri tercintanya, si mantan playboy itu mencium pucuk kepala Hujan dengan lembut.


Masih bagusan kamu, cuma cinta pahlawan endonesah doang ya, Jan Hujan Dereeeeeeees!!!


*******


Samudera yang akhirnya mendapatkan apa yang di inginkan Biru sampai harus bernapas lega karna si ikan termahal di dunia itu kini sudah ada di tangannya.


Hewan berwarna putih nan cantik itu begitu indah di pandang maka tak salah memang jika harganya begitu fantastis karna alasan keberadaannya yang langka juga.

__ADS_1


"Udah nih, mau di apain?" tanya Sam pada istrinya.


"Ya ampun, Lima Milyar" gumam Melisa yang akhirnya bisa menyentuh apa yang selama ini menjadi kesayangan suaminya.


Reza sampai menitikan air mata, setiap pagi ia selalu rutin memberi makan para ikannya sebelum ia sendiri mengisi perutnya, ia tak pernah menyangka jika Platinum AROWANA miliknya yang di cari dengan susah payah harus berakhir tragis di pisau dapur.


"Amma, Moy atau kamu yang bersihinnya, Bee?" kata Sam.


"Amma gak tega" jawab Melisa sambil melirik kearah suaminya yang menatap sendu si ikan sambil sesekali juga melirik kearah perut rata cucu mantunya.


"Moy, aja deh" titah Sam lagi.


"Moy mana bisa, kalo bedah tubuh orang baru Moy ahlinya" sahut Hujan, ia menang tak pernah bisa memasak meski mertuanya sudah sangat sabar mengajari, Masakan Hujan jauh berbeda dari masakan Melisa maupun Kahyangan.


"Mau kamu aja sendiri yang masak?"


"Bee, kok bengong sih!"


"Eh, Iya!" jawab Biru sedikit terbata.


Biru tersenyum lalu berhambur memeluk suaminya sembari mengucapkan banyak terima kasih, hal kecil namun terlihat begitu manis oleh siapapun yang melihatnya.


"Sama-sama, Sayang. Bilang makasih juga sama Appa" titah Sam pada Biru karna tentu semua ini tak mungkin terjadi terjadi jika bukan atas izin Sang Tuan besar Rahardian Wijaya.

__ADS_1


"Appa, Terima kasih banyak untuk ikannya ya." ucap Biru sedikit menunduk dengan tangan yang reflek menyentuh perutnya sendiri seakan justru si cabang bayi lah yang sedang mengucapkan terima kasih pada Reza.


Biru melirik kearah Sam yang tersenyum padanya.


"Udah, Bee. gitu kan bilang Terima kasihnya?" tanya Biru untuk memastikan jika ucapannya sudah benar atau belum.


"Salah, bukan gitu bilangnya" sahut Sam dengan menahan tawa.


"Gimana?" tanya Biru lagi, tak hanya gadis itu yang bingung karna empat orang lainnya pun sedikit dibuat penasaran.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Appa, makasih ya gak pecat Tutut jadi cucu..



__ADS_2