
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Bahagianya seorang perempuan yang tulus mencintai itu bukan berada di tempat mewah dengan limpahan harta, cukup dihargai dan di jaga perasaannya."
Sam tersenyum simpul, ia tahu jika istrinya sedang gusar tapi Sam tak sadar jika Biru sedang menaruh curiga padanya. Ia raih tangan mungil yang sudah mengurusnya selama ini untuk Sam ciumi berkali kali.
"Aku tahu, senyummu tak bisa ku tukar dengan harta yang ku miliki. Dan satu yang harus kamu tahu juga, bahwa aku sangat sangat mencintaimu" ucap Sam tak kalah berucap dengan penuh penegasan.
Keduanya sarapan di tempat tidur, tapi Biru tak menghabiskan apa yang sedang ia nikmati meski Sam berulang kali merayu, ia tetap menggelengkan kepalanya dan menutup rapat mulutnya.
"Ya, sudah. Kamu bisa istirahat saja selagi Rain sama Moy. Aku tak suka melihat mu murung seperti ini, Bee"
"Sudah siang, aku mau mandi" sahut Biru, ia memang tak bisa menyembunyikan apa yang tengah ia rasakan di depan suaminya.
"Ok, aku berangkat dulu ya. Hubungi aku jika kamu merindukanku" goda Sam yang lalu mengecup kening Biru dan sedikit lama, tak lupa juga dengan kedua pipinya dan bibir meski hanya sekilas.
Biru melepas kepergian suaminya dengan berat hati, punggung lebar itu entah kenapa mengundang tangis pelan namun cukup menyayat hatinya.
Aku kenapa sih?!
Biru buru buru menepis pikiran buruknya, Ia hapus cairan bening di ujung mata dan bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
__ADS_1
.
Hampir jam makan siang, Sang mertua dan dua buah hatinya baru sampai di rumah utama. Hujan membawa Rain ke salah satu kediaman temannya dekat sekolah Embun. Bocah tampan itu begitu senang karna kini tak lagi bergantung pada wadah gizi alaminya. Apapun bisa ia makan saat terasa lapar tapi Rain tetap akan menangis dan mengamuk saat ia mengantuk.
"Mhiu.... Bubuy pulang" teriak Embun saat di ruang tamu.
"Di jemput Moy ya, Sayang"
"Iya, sama Bum-Bum juga. Mhiu sakit? kok Bubuy sekolah Mhiu belum bangun bobo?" tanya Si sulung penuh perhatian.
"Enggak, sayang. Mhiu cuma kesiangan"
Bum, puwaaaang.
"Oh, iya. Bum juga baru pulang, maaf ya ganteng mhiu belum nyapa Bum-Bum" ucap Biru yang lalu menggendong si bungsu.
Embun langsung di urus oleh Rini di kamarnya, sedangkan Biru, Hujan dan Rain duduk di ruang keluarga lantai bawah. Rumah utama nampak sepi karna Tuan dan Nyonya besar Rahardian di jemput si bungsu usai sarapan pagi tadi.
"Kamu sakit?" tanya Hujan.
"Enggak, Moy. Cuma perasan lagi gak enak aja" sahut Biru dengan mata masih memperhatikan putranya bermain dengan berbagai macam mainan miliknya yang berserak di atas karpet.
"Ada masalah dengan Sam?"
__ADS_1
Biru menggelengkan kepalanya. Ia pun tak tahu harus berkata apa pada ibu mertuanya itu karna seakan semua bergemuruh dalam hati tapi tak mampu ia utarakan seolah tercekat di tenggorokan.
"Ya sudah, mungkin itu hanya pikiranmu saja.. Jangan terlalu larut masuk kedalam perasaanmu sendiri, paham" pesan Hujan sambil mengelus punggung menantunya.
"Paham, Moy. Terimakasih"
Rain yang bosan akhirnya merengek, ia menarik Biru kearah lift menuju lantai atas kamarnya.
"Ngantuk ya, pengen bobo?"
Iyaaah..
Biru pun langsung menggendong Rain, sampai di dalam kotak besi bocah menggemaskan itu malah ingin turun dar gedongan Mhiu nya.
.
.
.
***Miyuuuuh...
Bum uwa uwa ya***...
__ADS_1