
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari yang di nanti Embun pun tiba, ia terus diam sambil menunduk di kursi menunggu gilirannya tampil yang tinggal dalam hitungan menit. Sesekali netra yang sedang menahan kecewa menoleh kearah pintu utama berharap sosok pria kesayangannya hadir karna hanya Phiunya yang belum terlihat sedangkan semua keluarga Rahardian Wijaya hadir di deretan kursi depan.
"Kali ini aja, Buy mohon" lirih Embun.
Biru yang bisa menangkap raut sedih putrinya langsung di rengkuh oleh Hujan, wanita itu terus menenangkan menantunya yang pasti sedang mengumpat kesal karna Sam belum juga bisa di hubungi.
"Dia pasti datang"
"Tapi ini udah jam berapa, Moy" jawab kesal Biru, ia bahkan menutup matanya untuk menahan sesak dalam dada.
Miyuh, apa?
Anis anis apa.
Ta Buy auh ya..
Ninih, anan auh auh.
Celoteh menggemaskan Rain sedikit membuat hati Biru melumer, ia tak sekesal sebelumnya. Biru masih terus menghubungi suaminya yang entah mengapa bagai hilang tertelan bumi secara mendadak.
Satu persatu teman teman Embun sudah tampil di pentas dan kini gilirannya yang akan unjuk kemampuan bernyanyi sambil memainkan piano. Lagu anak anak ia pilih untuk memudahkan meski ia bisa yang lain.
"Buaya ku, Moy" seru Air dengan bangganya saat melihat Embun berjalan kearah Piano.
__ADS_1
"Heh, cucu cantikku itu" sahut Hujan yang membuat Air mencibir, perdebatan kecil pun terjadi pada pasangan suami istri tersebut.
Embun mengedarkan pandangan, ia masih berharap Phiunya hadir dan ada di salah satu kursi penonton seperti yang lain, tapi ia harus menunduk kecewa saat benar-benar tak menemukan sosok pria tinggi kesayangannya.
"Meski Phiu gak lihat, Buy tetap kasih yang terbaik. Buy mau kalian semua bangga dan senang punya Buy" lirih Embun memantapkan hati.
Biru yang tak kuasa akhirnya menitikan air mata sedih dan teharu, ia tak habis pikir suaminya akan tega melewatkan momen putrinya yang begitu membuat bangga.
Ta buy anyi ya...
Bum anyi, buweh??
"Iya, nanti Bum nanyi di kamar mandi ya" sahut Air yang memang memangku cucu laki-lakinya itu.
Nda, ninin.
Ninin, amang andi Ninin..
"Iya, deh. Dingin!!!" cetus si pria paruh baya yang enggan menimpali lagi, ia akan fokus pada Embun yang masih tampil di depan sana.
Satu lagu selesai, semua berdiri dan bertepuk tangan karna tahu siapa yang kini berada di atas sana yaitu seorang anak, cucu dan cicit pertama Rahardian Wijaya.
Embun kini menjadi pusat perhatian, semua pasang mata tertuju padanya termasuk seorang pria berjas hitam yang beberapa menit lalu berdiri di ambang pintu utama menyaksikan gadis kecilnya tampil.
"Phiu---" seru Embun dengan senang sampai semua yang hadir akhirnya menoleh.
__ADS_1
Embun berlari melewati semua orang menuju pria kesayangannya yang kini sedang berjongkok sambil merentang kan tangan siap menerima pelukan.
"Maaf, Phiu terlambat"
"Tak apa, yang penting Phiu lihat, Buy" jawab Embun yang masih mengalungkan tangannya di leher Samudera.
Samudera lekas berdiri dan langsung menggendong putrinya menuju kursi kosong tepat di sebelah sang istri.
"Kupikir kamu gak dateng, Bee" ucap Biru dengan satu tetes air mata yang jatuh ke pipinya.
"Mana mungkin aku tak datang, kamu nya saja yang terlalu khawatir." jawab Sam sambil menghapus kebasahan di wajah cantik sang pemilik hati.
.
.
Dua jam berlalu, kini acara sekolah Embun berakhir dengan sambutan penutup dari pihak sekolah. Masing-masing anak murid mulai pulang bersama keluarga mereka termasuk Embun.
"Hari ini mau kemana lagi?" tanya Air saat di parkiran mobil.
"Pulang ah, mau makan" jawab Cahaya sambil melirik kearah Sam.
"Pulang kemana?" tanya Langit yang tak bisa menebak kata pulang dari istri tercintanya tersebut.
"Pulang kerumahku dong" jawab Cahaya sambil berlari kearah Reza yang di apit oleh Bumi dan Khayangan.
__ADS_1
"Ets.. Appa dede! Gak boleh dia ambil!!"