
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rain yang sudah merasa kenyang belum juga melepas sesapannya. Ia terus memainkan wadah gizi alami Mhiunya dengan berbagai gaya sampai kadang Biru merasa jengkel sendiri karna pegal di bagian punggungnya dan leher jika terlalu lama berbaring dengan posisi miring.
"Udah yuk, bangun ya. Kita main" tawar Biru yang langsung di jawab gelengan kepala tanda tak mau.
Bocah bawel itu terus saja melakukan apa yang membuatnya senang tanpa perduli dengan si pria dewasa yang semakin merajuk kesal padanya.
"Nanti, kalau udah jadi hak milik Phiu lagi, Phiu gak akan pinjemin!" umpat Sam kesal, karna kedua area favoritnya itu terpampang jelas di depan matanya.
Plak...
Nyenyeh Bum ya..
Rain tak akan membiarkan siapapun ikut menikmati wadah gizi alaminya itu.
Biru yang tak mau ambil pusing membiarkan dia pria kesayangannya itu terus bertengkar tak mau ada yang mengalah hanya demi memperebutkan bagian atas tubuhnya.
"Phiu mau mandi ah"
Ntut Piyuuuuuuuuuh...
Akhirnya Rain mau juga turun dari atas tubuh Mhiunya, ia juga turun dari ranjang untuk menyusul Sam yang sudah masuk kedalam kamar mandi. Keduanya memang sangat senang berendam di barthup, sesuai dengan nama mereka yang tak jauh dari AIR.
__ADS_1
Jam Sebelas siang, Sam benar-benar berpamitan untuk berangkat ke kantor. Ia ciumi seluruh wajah anak dan istrinya itu sebelum masuk kedalam mobil mewahnya.
"Jangan nakal ya, nanti pulang kerja Phiu bawakan susi coklat, ok"
Nda, Nyenyeh aja
Berbagai cara sudah mereka lakukan, tapi Rain tetap menolak dan hanya ingin wadah Asi alaminya.
"Sabar, tinggal beberapa bulan lagi" ujar Sam sambil mengelus dadanya sendiri yang membuat Biru tertawa.
Selepas kepergian suaminya, Biru yang masuk kedalam rumah utama berpapasan dengan Melisa. Wanita baya yang sedari tadi melempar senyum itupun mengusap pipi cicit kesayangannya.
"Amma boleh minta tolong?" pinta Melisa.
"Aunty Kayangan sedang tak enak badan, kirimkan sup ayam untuknya ya ke sana"
"Oh, iya. Biru siap-siap dulu. Nanti Biru balik lagi ke dapur bersih"
Melisa hanya mengangguk paham, ia berlalu ke tempat dimana tadi ia meminta salah satu Chef membuatkan makanan untuk sang menantu. Melisa yang tak lagi turun tangan ke dapur hanya mengarahkan lalu mencicipi. Meski rasanya berbeda tapi tak apa, dari pada tidak berkirim makanan sama sekali.
Tak sampai dua puluh menit, Biru sudah kembali bersama Rain yang hanya di pakai kan jaket dan topi. Bocah itu begitu menggemaskan saat berjalan jalan sambil mengoceh.
"Titipkan salam Amma, maaf belum bisa menjenguknya kesana" pesan Melisa untuk si menantu keduanya.
__ADS_1
"Iya, Amma. Akan Biru sampaikan"
Dengan menuntun Rain, Biru berjalan menuju pintu utama. Disana sudah ada satu mobil yang sudah di siapkan untuk mengantarnya ke kediaman adik kembar mertuanya. Jarak yang memang tak begitu jauh membuat kendaraan mewah itu cepat sampai di tujuan.
"Assalamu'alaikum" sapa Biru saat memasuki rumah. Tak ada siapapun di lantai bawah kecuali satu ART yang tadi menyambutnya.
Biru memilih naik ke lantai dua, dimana kamar Aunty nya berada. Ia masuk kedalam ruangan tersebut setelah mengetuk pintu beberapa kali.
"Biru bawa makanan untuk Aunty, lekas sembuh ya" ucapnya saat duduk di tepi ranjang.
"Terimakasih kasih, sayang"
Dua wanita para menantu Rahardian itupun kini berbincang sambil menunggu Cahaya yang akan datang juga menjenguk. Dengan sesekali Biru memperhatikan Rain yang asik bermain di dalam kamar Aunty nya. Memang tak ada mainan untuk anak bayi sepertinya di rumah tersebut tapi disana ada se ekor kucing berwarna orange milik Aurora yang terus di kejar oleh sang pewaris Rahardian Group.
.
.
.
Miong apa? ayu ain ain...
__ADS_1