Samudera Biru

Samudera Biru
Berepelukan.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Sabar ya sayang" ucap Hujan ada menantunya yang merintih menahan nikmat yang tak bisa ia ungkapkan rasanya dengan kata kata.


"Ini lebih dari pada saat Embun mau lahir, Moy"


"Rasanya memang berbeda beda, sayang. Kamu kuat ya" ucap Hujan masih terus berusaha menenangkan.


Kali ini hanya Air dan Hujan yang menemani Biru di rumah sakit tepatnya di ruang observasi, karna Melisa juga Reza bertugas menjaga Embun di rumah utama. Dan baru berniat datang kerumah sakit esok pagi, mereka cukup berdoa dan bertukar info lewat sambungan telepon atau pun pesan singkat.


Sam yang belum juga datang membuat Biru semakin kesal pada pria itu karna si donat kacang merah seakan sudah ada di pelupuk matanya ingin segera ia nikmati.


"Dede mana sih, masa aku mau begini terus" ujar Air yang menutupi tubuhnya dengan selimut rumah sakit.


"Coba di telepon" titah Hujan yang mulai khawatir juga karna pembukaan sudah memasuki angka delapan kurang dari dua jam biasanya bayi akan lahir.


"Gak bawa ponsel, Moy" sahut Biru dengan menggigit bibir bawahnya.


Air dan Hujan hanya bisa membuang napas kasar, karna nyatanya putra mereka hanya membawa sang istri dan kunci mobil dari dalam kamar, bahkan baju pun tak sempat Sam pakai lagi, entah apa yang sedang anak itu lakukan sebelum istrinya merintih kesakitan tentu masih menjadi satu pertanyaan yang belum terjawab bagi Air yang jiwa keponya selalu meronta meronta.


CEKLEK.

__ADS_1


Pintu terbuka sedikit keras, dan itu tentu membuat semua yang ada didalam ruangan ikut menoleh kearah suara dari benda berwarna coklat itu.


"Lama banget sih, kamu dari Arab?" pertanyaan konyol yang sering berakhir perdebatan.


"Iya, dede abis ngeramasin onta, Eh shamponya abis jadi deh kewarung dulu" sahut Sam sambil berlalu begitu saja di depan papAynya.


"Bawa donatnya?" tanya Biru yang begitu sangat berharap.


"Iya, maaf nunggu lama karna Onty Yayang bikin dulu" jawab Sam sambil mengeluarkan satu kotak donat kacang merah dari dalam paperbag.


Wangi harumnya membuat siapapun yang mencium makanan itu pasti langsung tergoda, jadi tak salah jika bukan hanya Biru saja yang lahap menikmatinya karna Air dan Hujan pun entah sudah habis berapa, dan jangan tanyakan Sam karna ia sampai bersendawa karna saking kenyangnya.


"Bagamana Dok. Apa sudah saatnya?" tanya Hujan yang tak selangkahpun jauh dari sang menantu.


"Kita tunggu sepuluh menit lagi, pembukaannya hampir sempurna" ucap Dokter usai memeriksa.


Hujan hanya mengagguk paham begitupun dengan suami dan anaknya, sekaya dan seberpengaruh apapun mereka di dunia tetap saja tak bisa berbuat apapun jika Tuhan belum menghendaki sang penerus Rahardian untuk segera lahir jika melewatinya dengan jalan normal.


"Baiklah, kita pindah keruang persalinan sekarang ya" ucap Dokter lagi sambiil meminta perawat lebih bersiap.


"Kak, aku mau temenin Biru ya, kakak mau di sini aja?'' tanya Hujan pada sang suami.

__ADS_1


"Memang kamu pikir kakak mau kemana? gak pake baju begini? mending sedekah harta dari pada harus sedekah dada" jawabnya yang merengut kesal karna baby bearnya belum juga mengembalikan kaosnya.


"Uuuuugh, cayangnya AIRHUJAN" seru wanita baya itu sambil berhambur memeluk sang suami.


.


.


Astaga..Ini cucunya mau berojol Oey!!!!


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Drama aki aki jeung nini nini masih cuit aja 🤣🤣🤣


Disini sengaja di tulis rasa NIKMAT di banding rasa


SAKIT ya pas mules karna kalo kata si mamah mah, Nyeri nyeri tapi nyien deui 😝😝😝😝🤭🤭🤭


#BuatYangPahamAja.


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2