
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Be....
Biru yang sudah di rebahkan di atas ranjang hanya bisa pasrah di bawah kungkungan sang suami, Sam yang seakan tak bisa menahan hasratnya terus saja merang saNG titik sensiTIf si pemilik hati, perlahan namun pasti kini suara De. sahan mulai keluar dari mulut Biru. Wanita cantik yang kini mulai terbakar biarahi bagai penari ero tiS yang terus meliuk kan tubuh seksinya. Satu persatu pakaian lengkap Biru di tanggalkan sampai semua berserak di lantai. Sam seolah tak ingat apapun lagi, termasuk tak ingat dengan Embun dan Rain yang kini di titipi pada orangtuanya.
Bibir dan tangan Sam bagai berlomba di tubuh Biru. Pria tampan yang kini semakin dewasa itu terus menjelajah inci demi inci tanpa ada yang terlewat. Mulai dari kening, leher, dua bukit hingga sepetak sawah yang begitu rimbun yang kini menjadi sasaran utamanya.
Semua di mainkan secara lembut jangan sampai wanita halalnya itu merasakan sakit karna aksi luar biasanya itu.
"Cukup, Bee" lirih Biru saat pelepasan pertamanya tanpa penyatuan tubuh. Sam yang begitu pintar bermain di awal membuat Biru selalu terbang ke puncak nirwana lebih dulu.
"Sekarang ya" ucapnya dengan suara berat yang langsung di balas dengan anggukan kepala oleh sang istri yang siap menerima serangan.
Sam bangun dari bawah sana untuk memposisikan dirinya, gerbang kenikmatan itu kini terbuka lebar dan pastinya sudah menunggu untuk di obrak-abrik oleh bagian inti miliknya yang sudah tegak berdiri.
Ia menerobosnya dengan sangat mudah dan lancar tanpa hambatan, bermain sesukanya sampai mereka berada di puncak tujuan secara bersama.
.
.
.
"Mandi bareng yuk" ajak Sam yang berkata sambil mengeratkan pelukannya. Mereka benar-benar sudah melewati malam panjang berdua tanpa gangguan dua bocah kecil.
"Kamu aja duluan, aku nanti mau sekalian beresin tempat tidur" tolak Biru, ia menggeser tangan suaminya yang mulai kembali nakal bermain di dada kanannya.
__ADS_1
"Tapi dingin"
"Kebiasaan! gak usah banyak alasan"
Biru bangun untuk mencoba menghindar saat di rasa sesuatu menyentuh pahanya.
Sedangkan Sam hanya tertawa kecil menyadari sikap istrinya.
Tubuh tinggi polos itu melenggang dengan percaya diri tanpa benang sehelaipun, sampai Biru yang melihatnya hanya bisa menggeleng kan kepala.
Dasar Tutut...
.
.
Setelah melepas kepergian suami dan anak sulungnya, Biru dan Rain kembali masuk kedalam kamar. Si bungsu yang semalam tak tidur dengan Mhiunya itu seolah balas dendam dengan menyu su dua kali lebih lama dari biasanya.
"Bum-Bum kayanya mainan deh, gak Nyenyeh kan?" ucap Biru yang mulai curiga dengan kelakuan Rain.
"Ayo lepas, gak boleh kaya gitu. Kalau sudah kenyang jangan di mainin" tegasnya lagi karna punggungnya sedikit ngilu karna menyu sui cukup lama.
Rain tersenyum sebab sudah tertangkap basah, ia melepas sesapannya dan turun dari atas pangkuan Biru.
"Hayo, mau kemana?"
Ain yuk Ain.
__ADS_1
Biru yang mendengar ajakan putranya hanya tersenyum kecil lalu menghampiri Rain yang berdiri tepat depan boxnya.
"Bum-Bum mau main?"
Iyaaah..
"Tapi Mhiu mau cuci sprei dulu, mainnya sambil Mhiu nyuci ya"
Iyaaah...
Seperti biasa, para wanita Rahardian selalu membereskan ranjang dan sprei mereka usai ber cInta. Semua itu di lakukan karna jangan sampai ada yang melihat atau menyentuh ceceran lahar menikmatan yang keduanya keluarkan secara bersama.
Biru yang sibuk merapihkan tempat tidurnya di buat kaget saat Rain tiba-tiba tak ada di dekatnya. Bocah menggemaskan itu hilang dari jangkauan Biru entah saat kapan.
"Bum, dimana, Nak" teriak Biru
Yah... ninih...
Biru yang mendengar sahutan Rain langsung menoleh kearah kamar mandi yang terbuka pintunya. Ia segera berlari dan masuk kedalam. Tubuhnya hampir jatuh lemas saat melihat kelakuan sang putra yang ia bingung harus marah atau tertawa saat ini.
.
.
.
Kamu lagi apa, Bum?
__ADS_1