
Triiiing...
Suara lift dan pintu terbuka membuat Biru terpaksa menghentikan tawanya. Wanita cantik itu terkekeh saat Rain mengatakan jika dirinya ada dua ketika bercermin di dalam kotak bensi.
Meski bukan satu dua kali, tapi nyatanya Biru tetap gemas pada bocah itu
Cek lek..
Rain berjalan dan masuk lebih dulu, di susul Biru yang mengekor di belakang si bungsu yang terlihat sudah sangat lelah. Rain yang hendak naik keatas ranjang pun langsung di cegah oleh Biru.
"Ganti baju dan cuci tangan juga kaki"
Keh..
Biru membawa putranya lebih dulu untuk di bersihkan dan tak lupa di ganti semua pakaian yang melekat di tubuh bocah tersebut. Rain akan tidur nyaman dan lama jika bersih dan harum.
"Bobonya di kamar Bum, yuk"
__ADS_1
Nda.. auh auh miyuuh.
"Mhiu temenin, gak jauh jauh kok. Bum kan udah besar, udah gak Nyenyeh lagi, anak baik dan juga anak pintar. Bobonya sendiri ya kaya kakak Embun" rayu Biru lagi dengan pelan.
Ta Buy ndili..
"Iya, Bum sendiri, Ok"
Nda, keh..
Biru menyunggingkan senyum di ujung bibirnya yang ranum merah muda. Dua anak yang lahir dari rahimnya itu jelas sangat berbeda. Rain begitu menempel pada Mhiunya berbeda dengan Embun yang meski manja namun bisa mandiri di saat waktu yang tepat.
Entah kenapa tidur siang siang pewaris tak begitu nyenyak siang ini, berkali kali ia merengek dan berguling seperti orang yang gelisah. Biru yang bingung akhirnya menggendong Rain. Ia usap punggung anak itu agar cepat terbuai mimpi.
"Bum, kenapa? bobonya jangan nangis terus ya sayang" bisik pelan Biru di telinga Rain yang hampir saja menutup rapat matanya.
Dirasa bocah bawel itu sudah cukup tenang, Biru langsung merebahkannya di tengah ranjang. Masih dengan mengusap paha Rain Biru ikut berbaring di sisi putra keduanya tersebut.
__ADS_1
Tap.. tap... tap..
Biru menuruni anak tangga dengan langkah malas dan gontai, ia baru saja mengakhiri teleponnya bersama sang suami. Sam yang mengabari jika ia akan telat pulang tentu membuat Biru tak begitu bersemangat apalagi untuk menikmati makan malam. Jika tak ingat putra putrinya mungkin saat ini ia akan memiilih berdiam diri dirumah.
"Phiu belum pulang?" tanya Embun saat Biru menarik kursi meja makan.
"Belum, sayang. Phiu pulang malam. Embun gak boleh nunggu Phiu pulang ya" pesan sang suami pun di sampaikan pada si sulung.
"Beberapa hari ini Sam akan sibuk, papAy harap kalian mengerti" ucap Air yang kini semua mata justru tertuju pada padanya.
"Sesibuk apa?" tanya Hujan, tentu ia orang pertama yang akan protes.
"Ada masalah di perusahaan, tapi gak cuma Sam kok. Ada Gala bahkan Awan yang bantu di kantor pusat. " jawab Air sambil mengusap lengan istri tercintannya.
Biru hanya menganguk paham, ia tak berani angkat bicara jika menyangkut soal pekerjaan. Biru yang tak paham hanya bisa menurut saja di minta tak banyak menuntut karna jika pekerjaan lengang pun Sam tentu akan menghabiskan waktu bersamanya.
Semuanya makan malam seperti biasa, hanya Biru yang terlihat lebih banyak diam. Tangannya bahkan bergetar karna perasaan yang tak karuan.
__ADS_1
Hingga suara dering ponsel sang mertua seolah membuyarkan lamunannya, Biru menatap Air dengan begitu lekat saat wajah tampan pria baya itu terlihat tegang dan khawatir.
Sam kecelakaan!