
"Huaaaa.... udah dong cemongin muka kakak nya.
Ish, kalian jahat. Udahan ah main LUDO nya!!" protes Air saat Langit terus mencoret wajah tampannya dengan tinta pulpen berwarna hitam.
"Enak aja udahan!" protes Bumi yang malah melanjutkan permainan.
Air tetap bangun dari duduknya, ia yang mau beranjak di tarik tangannya oleh Langit.
"Mau kemana? lanjut!"
"Gak, liat nih gantengnya kakak malah musnah gegara kalian. Dasar anak bawang sama rujak bonteng" cetus Air kesal namun tetap ia tetap duduk dan kembali bermain.
Sam yang tertidur tak perduli lagi dengan apa yang sedang tiga pria baya itu lakukan. Sampai akhirnya ia mendengar suara teriakan beberapa orang yang cukup membuat ia terkejut.
Aaaaaaa...
"Kalian!" pekik Hujan, Khayangan, Cahaya dan Biru.
Tiga pria yang wajahnya tak lagu berbentuk itupun menoleh secara bersamaan sambil menelan saliva mereka masing-masing.
Mampus!
Biru langsung menghampiri suaminya di ranjang pasien. Tak ada luka di tubuh tinggi Samudera hanya ada sedikit memar akibat benturan dan untungnya itu tak terlalu parah karna mobil mewahnya memiliki standar safety diatas rata-rata
__ADS_1
"Bee, aku mencemaskan mu, Sayang" lirih Biru yang tangisnya pecah di samping suaminya yang tak bisa banyak bergerak. Tubuh Sam rasanya sakit semua jika sedikit saja ia bergeser dari posisinya.
"Maaf, aku sudah membuatmu khawatir"
"Jangan begini lagi, aku bisa mati karna begitu khawatir" Biru terus saja meluapkan rasa kesal, sedih, takut dan lega karna Sam jauh dari perkiraanya.
Empat wanita itu tak lagi mampu menahan rasa penasaran saat tak satupun pesan mereka dapatkan. Entah apa yang di lakukan si para suami sampai bagai hilang di telan bumi.
Biru menoleh kearah belakangnya saat jerit kesakitan saling bersahutan dari para tiga pria yang sedang di aniaya oleh para wanita halalnya.
***Ampun Moy
Sabar Umi, jangan marah-marah gitu
Sakit, Mih. Kita Beli bulan yuk, sekarang***.
***Kebiasaan!
Gimana Umi gak marah, Abu tuh kebangetan.
Bulan? oh maaf, aku akan udah matahari, Bang***!
Biru semakin tertawa saat para pawang menimpali dan belum memberi maaf atas kesalahan mereka yang mengabaikan dan juga tak memberi kabar sama sekali.
__ADS_1
"Anak-anak gimana? sama siapa?" tanya Sam.
"Ada Senja yang temenin. Ola jagain Amma dan Appa" sahut Biru dengan suara serak.
"Amma, Appa!" lirih Sam, ada tetesan cairan bening di ujung matanya yang lolos begitu saja saat ia mengingat pasangan baya itu.
"Mereka lebih sangat mengkhawatirkan mu. Berjanjilah untuk cepat sembuh dan pulang" ucap Biru yang masih menggenggam tangan pria yang selama bertahun-tahun ini menjadi sandaran hati dan hidupnya.
"Tentu, Aku akan rajin dan makan agar cepat sehat" Sam menjawab dengan senyum yang selalu meneduhkan hati sang istri.
Drama perdebatan para pasangan suami istri itu pun terus berlanjut. Biru dan Samudera hanya menjadi penonton yang raut wajahnya kadang tegang, meringis sampai terasa geli.
Cek lek
Pintu ruangan rawat inap Samudera di buka oleh cucu ketiga Rahardian, siapa lagi kalau bukan Aurora ArMikha Rahardian Wijaya.
"Papah!" pekik anak dan menantu Rahardian.
Air, Bumi dan Langit langsung meringsek ke belakang istri mereka masing-masing.
.
.
__ADS_1
.
Yuk, kita ke kamar mayat.