Samudera Biru

Samudera Biru
Mulai...


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Drama pertengkaran terus saja terjadi antara cucu pertama dan anak bungsu sang Gajah.


Cahaya yang senang menggoda terus saja membuat Sam mengeluarkan tanduk kecilnya karna kesal.


"Ayo pulang, gak usah lama-lama disini" ajak Sam pada Appanya saat matahari kian menanjak tinggi.


"Katanya malam, ini jam makan siang juga sebentar lagi, de " jawab Reza yang masih duduk santai disofa ruang tamu usai menerima kerabatnya yang tadi datang ingin bertemu dengannya.


"Onty tuh keenakan kalo Appa disini kelamaan" protesnya kesal seperti biasa.


Reza hanya tertawa kecil, sikap posesif sang Tutut memang tak ada yang bisa menandingi termasuk Khumairahnya sendiri.


Pusing dan tak tega mendengar rajukan cucunya, Reza pun mau tak mau menuruti keinginan Sam untuk pulang dengan segera tanpa menunggu jam makan malam yang masih lebih dari setengah hari lagi.


.


.


.

__ADS_1


#Rumah Utama Rahardian.


Bangunan mewah yang selalu nampak ramai karna menjadi tempat berkumpulnya keluarga tentu ada saja cerita menyenangkan disana. Entah itu dari anak, cucu hingga cicit yang saling berteriak atau menangis. Rumah yang awalnya jatuh ke tangan Langit kini menjadi turun menurun mulai dari Reza sampai ke Samudera. Sudah empat generasi Rahardian yang mengisi rumah yang layaknya istana itu.


"Kamu urus deh, papAy gak ada waktu" pinta Air pada Sam saat sarapan pagi sebelum mereka pergi ke kantor.


Sudah sedari tadi Air meminta Samudera atau Biru mengurus kos-kosan miliknya yang tak lagi sempat ia urus dengan benar, begitu pun dengan Hujan yang sekarang sibuk memantau beberapa klinik barunya di beberapa daerah dalam dan luar kota.


"Gak ada waktu apa sih? papAy sekarang kan jarang ke kantor. Kalau ke kesana juga sebentar" protes Sam sambil mengunyah roti bakar buatan sang istri.


Bukan menjawab, Pria yang tak bisa mengucapkan Nyamuk, Kerupuk dan kelengkeng itu malah menciun pipi pemilik hatinya. Embun yang melihat itu pun langsung menutup matanya dengan tangan.


"Appa dede, papAy ganteng sama Phiu seneng cium cium, ih" ucapnya polos yang langsung mengundang gelak tawa.


"Cantik harus jalan-jalan ya, kan...Appa" seru sang Ratu yang menoleh kearah pria baya yang sedang menegak air putih.


Hem....


.


.

__ADS_1


Sam yang pamit ke kantor pun langsung menciumi seluruh wajah cantik anak dan istrinya, tapi hanya ada Rain karna Embun sudah lebih dulu berangkat ke sekolah bersama Rini.


Si bungsu yang kini senang sekali berceloteh itu pun sempat tak ingin di tinggalkan saat Sam mengucapkan bye bye ganteng.


"Jangan nangis ya, nanti Phiu pulang cepet" rayu Sam yang malah membuat Rain menangis.


"Eh kok tumben sih" seru Biru mencoba menenangkan.


"Nyenyeh aja yang kenyang tapi jangan gigit gigit, ya" titah Sam karna ia sudah telat sepuluh menit dari waktu biasanya berangkat.


Iyaah..


Setelah Sam benar-benar pergi, Biru kembali masuk bersama Rain. Kini langkah kakinya langsung menuju kamarnya di lantai dua.


Diatas sofa depan TV ia mencoba memposisikan tubuhnya senyaman mungkin lalu membuka tiga kancing baju atasannya untuk mengeluarkan wadah gizi alami sang putra. Alih alih ingin segera menyu sui Rain malah turun dari pangkuan Mhiunya.


Langkah kaki kecilnya kini menuju samping box tempat penyimpanan semua barang barangnya.


.


.

__ADS_1


Bum.. mulai deh ke pojokan, nanti gigit muk muk loh!



__ADS_2