Samudera Biru

Samudera Biru
Putri sehari.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Anaknya yang nyuruh aku duduk disini, Ra" ucap Biru sambil melirik kearah sang suami lewat sorot matanya.


Sam yang masih berdiri di dekatnya pun hanya bisa membuat pria tampan itu menelan Salivanya kuat kuat.


Bukan hanya Ira dan Biru yang menatapnya tapi semua orang yang mendengarnya pun melakukan hal yang sama termasuk Embun.


"Phiu apa?" tanya Bul-Bul.


"Hah? gak apa apa, sayang" jawab Sam dengan senyum yang sedikit di paksakan.


Ira yang akhirnya paham pun harus kuat menahan tawanya. Ia begitu gemas dengan pasangan suami istri yang nampak begitu serasi di tambah dengan hadirnya Embun yang cantiknya benar-benar perpaduan antara Samudera Biru.


"Nona, mau cicipi kue atau mau makan?" tawar Ira, karna ini suatu kehormatan baginya kedatangan sang Direktur Utama meski bukan tepat di hari bahagianya. Ira memang turut mengundang Samudera tapi ia cukup tahu diri untuk tidak banyak berharap dari sang bos besar.


"Aku mau Pisang, boleh" pinta Biru, ia menunjuk satu tandan kecil buah berwarna kuning yang menggantung di atas meja. Itu memang sengaja di gantung agar memudahkan untuk siapapun yang ingin mengambilnya.


"Boleh, Nona. Ayo" ajak Ira sambil bangun dari duduknya.


"Gak mau, aku mau makan pisangnya disini" tolak Biru sembari menggeleng kan kepalanya.

__ADS_1


"Saya ambilkan dulu kalau gitu pisangnya, Nona" Ira benar-benar bahagia karna bisa berdekatan langsung dengan Biru yang biasanya hanya menunduk malu saat datang ke kantor.


"Bawa semuanya ya, satu tandan itu kamu bawa kemari, Ok" pinta Biru yang membuat kedua mata Ira membulat sempurna karna terkejut.


"Hah?!"


Sam yang tahu jika istrinya semakin jadi bertingkah konyol pun datang menghampiri bersama Embun, ia pun langsung duduk di sisi Biru di kursi pelaminan.


"Banak buna buna, tantik taya Bubuy ya" ucap Embun yang duduk diantara kedua orang tuanya.


"Bul-Bul suka?"


"Cuka, halum banet" jawabnya pada Sam yang tadi bertanya.


"Ini, Nona" Ira berkata sembari menyodorkan pisang kearah Biru yang nampak begitu senang.


Sam hanya bisa tersenyum pasrah dengan mengusap tengkuknya sendiri, malu, gemas, lucu dan kesal bercampur jadi satu saat ini.


"Gak apa-apa, Tuan. Namanya juga Bumil" seru Ira yang paham dengan salah tingkah Bosnya itu.


Ira yang sudah menarik satu kursi ikut bergabung dengan Samudera dan Biru, ia juga begitu senang saat Embun begitu ramah padanya padahal yang ia tahu jika tak pernah ada satu orang pun yang bisa menyentuh gadis kecil berusia tiga tahun itu.

__ADS_1


Biru membuka satu persatu si pisang yang mirip dengan benda keramat sang mertua yang sampai detik ini masih ada di kamar Air dan Hujan. Benda yang tak boleh dipinjam oleh siapapun termasuk cucunya sendiri.


Sam yang ikut memakannya karna terus disodorkan oleh sang istri akhirnya menggelengkan kepala karna sudah sangat merasa kenyang, lambungnya tak lagi mampu menampung si pisang yang entah sudah berapa biji masuk kedalam perutnya.


"Ntal, Ate jadi puteli?" tanya Embun, ia mengendarkan pandangannya ke seisi tenda pelaminan yang memang terbilang mewah karna calon suami Ira adalah anak dari seorang pengusaha kayu yang cukup terkenal.


"Iya, besok tante jadi putri sehari, Nona kecil besok kesini lagi ya" jawab Ira.


.


.


.


Wah, boleh tuh. Nanti kita foto foto ya, Ra.



🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Gak gue Acc.. biarin dah ileran juga 🤣🤣

__ADS_1


kapan lagi turunan Gajah makin gemoy pake celemek di lehernya buat elap iler 😂😂


Fix ini halu ya 😏


__ADS_2