
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Drama menyapih sudah masuk hari ketiga. Tak banyak perubahan karna Rain masih sesekali bertanya apakah wadah gizi alaminya masih terasa sakit? Dan disini lah peran Sam sangat di butuhkan untuk menambah warna merah hasil karyanya di kedua dada sang istri.
Sambil menyelam minum air, mungkin itu pribahasa yang cocok untuk si Tutut.
"Masih bengkak gak?" tanya Sam saat pagi hari.
"Enggak, kamu kerja aja. Aku gak apa-apa kok" kata Biru yang tak mau menganggu urusan kantor suaminya yang di tinggalkan selama putra mereka begitu rewel.
"Gak, semua udah ada yang urus. Kamu tenang aja ya gak usah mikir macem macem, Ok"
Biru tak bisa berkata apapun lagi. Menolak pun rasanya tak mungkin karna memang itu adalah perusahan milik keluarga pribadi yang jatuh turun menurun entah dari generasi yang mana. Dan Rain adalah Penerus berikutnya, sudah banyak yang di wariskan pada bocah itu sejak masih ada dalam kandungan.
"Hari ini kita jemput Embun sekolah. Aku udah janji mau bawa dia beli crayon baru"
"Crayon baru?" tanya Biru dengan kedua alis saling bertautan.
"Iya, katanya ada berapa yang di patahin dan dilempar Rain" jelas Sam.
__ADS_1
Biru hanya menangguk, ia ingat beberapa waktu lalu si bungsu memamg melakukan hal itu. Biru pikir Embun. akan marah tapi justru ia tak melakukan hal tersebut. Dan kini malah meminta crayon baru pada Phiunya.
"Ya udah aku bilang Rini dulu buat gak siap siap jemput Embun."
Biru keluar dari kamarnya, ia berjalan menuju bangunan dua lantai di belakang rumah utama. Disana lah tempat tinggal para ART, pelayan, para penjaga dan juga tukang kebun termasuk Rini yang bertugas mengasuh Embun selama ini.
Tok.. tok.. tok...
Biru mengetuk pintu kamar Rini yang ada di lantai bawah, ia sengaja tak menempati ruangan di lantai atas karna jika di butuhkan tentu akan jauh lebih cepat dan mudah.
"Nona, ada apa?" tanya Rini saat membuka pintu.
"Bukannya ke kampung itu tuh minggu depan ya Nona?" tanya Rini.
"Iya, harusnya. Tapi malah di majuin lusa. Makanya buruan kamu beresin kaya biasa ya. Kalau ada Embun pasti rame yang ada kamu gak bisa buru buru misahinnya"
"Iya, Nona, saya akan langsung ke kamar nona Embun sekarang"
Biru pun langsung keluar dari banguanan tersebut dan kembali ke rumah utama. Kali ini langkahnya belok ke dapur bersih untuk mengambil buah pisang untuk Rain dan strawberry untuk suaminya.
__ADS_1
Satu nampan berisi dua macam buah itupun sudah ada di tangannya siap di bawa ke kamar.
Cek lek
Biru membuka pintu dengan sedikit kasar karna tak ada yang sedang tidur dalam sana. Ia menghentikan langkah saat baru saja masuk kedalam ruangan luas tersebut.
"Kamu lagi apa, Bee?" tanya Biru pada suaminya yang sedang berdiri menghadap tembok.
"Lagi maen petak umpet sama Bum-Bum" sahut Sam pelan.
"Lah, terus dia ngumpet dimana?" tanya Biru lagi.
.
.
.
Noh di belakang TV...
__ADS_1