
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Miong ana ya.....
Bum apek ali ali...
Upet ana iiiiiiih...
Rain terus saja berputar putar di lantai bawah, ia mencari si Ireng yang tak kunjung di ketemukan.
"Ireng nya bobo di kandang, Bum" ujar Reza yang dari tadi ikut berjalan mengekor di belakang cicit kesayangannya.
Dadang na? cinci buwung.
"Kandang kelinci dong, masa iya kandang burung" kekeh si pria baya yang kini hidupnya hanya fokus pada keluarga saja..
Rain memutar lagi arah langkahnya. Ia berjalan terus ke arah belakang rumah utama dimana ada kandang kucing dan kelinci milik Embun.
Bocah menggemaskan itu langsung tertawa senang sambil bertepuk tangan saat melihat hewan berbulu hitam keabuan itu sedang terlelap dalam kandang ukuran besar yang bisa di masuki oleh Rain atau juga Embun.
Miong, Ain yuuuuuuk
Rain mengusap usap bulu halus si Ireng dengan sangat lembut meski sesekali ia masih sering usil dan iseng menarik bahkan meremas bulu-bulunya.
"Ajak keluar kandangnya pelan pelan, gak boleh di tarik gitu, Bum"
Ayu Miong, anun ya..
Anan bobo, keh
__ADS_1
Si Ireng pun akhirnya bersuara, lalu bangun dan berjalan bersama Rain masuk kembali ke rumah utama. Reza terus menatap punggung kecil Rain yang sangat menggemaskan, di atas pundaknya kelak akan ada tanggung jawab tinggi yang harus ia pegang sebagai pemilik perusahaan Rahardian Group.
"Bum, mau mana?" tanya Embun saat ia keluar dari lift bersama Rini.
Ain.. Ain.. Miong yuk..
"Enggak ah, kakak mau ke halaman, mau gambar sama mbak Rini. Bum mahu ikut gak?" tawar si sulung dengan ramahnya.
Nda, Ain miong.
Bocah itu malah berlari mengejar Si Ireng ke ruang tengah, ada begitu banyak mainan yang berserak di sana.
"Hallo anak ganteng" sapa Hujan saat Rain melewatinya.
Didong Moy.
"Kalau gendong sama papAy, Bum"
Mau tak mau Hujan menggendongnya, anak itu semakin hari semakin berat di rasa, paling hanya lima belas menit wanita itu sanggup mengangkat tubuh berisi sang cucu.
Rain yang di ciuimi oleh Hujan pipinya sampai tertawa geli, tak di sangka rumah Utama yang begitu megah dan besar itu masih terdengar suara gelak tawa dari malaikat kecil Rahardian Wijaya.
Apek..
"Biru belum pulang?" tanya Reza pada menantunya.
"Belum, Pah. Udah lebih dari satu jam padahal" sahut Hujan, sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
Biru yang mengantar Khayangan ke salah satu desa pinggir kota nyatanya memang belum kembali, padahal bisanya cukup satu jam ia pergi.
__ADS_1
"Asal Rain gak nangis, gak apa-apa, Jan"
"Iya, Pah. Biar juga dia keluar rumah"
Hujan tersenyum simpul, ia tahu betul bagai mana menantunya menjalani hari harinya hanya mengurus anak dan suami.
"Papah istirahat aja, biar Rain di jaga Hujan."
"Hem, iya. Papa mau menemui mamamu di kamar" pamit Reza yang pergi setelah mencium kedua pipi Rainerly Rahardian Wijaya.
Tuwun...
Hujan menurun kan Rain dari gendongannya, ia biarkan anak itu kembali bersama si kucing kesayangan yang selama ini pasrah di perlakuan apapun oleh Rain termasuk di fitnah oleh Samudera.
"Bum tunggu sini ya, Moy ambil buah pisang dulu" pesan Hujan saat mendudukkan cucunya.
Keh, Moy.
Rain yang di tinggal di karpet malah pindah ke dekat pintu sambil mengajak si Ireng untuk ikut dengannya.
.
.
.
Bum upet ya...
Moy Ali ali Bum, keh...
__ADS_1