Samudera Biru

Samudera Biru
Diem-Diem, Ok.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Mhiu... boleh gak, nanti Bubuy lagi yang kasihin semua makanan buat mbak?" pinta sang Ratu Rahardian.


Jika soal berbagi, Embun akan jadi orang pertama yang ada di depan. Ia senang memberi dalam hal apapun dan sekecil apapun itu.


Embun sudah terbiasa melakukannya, seringnya ia ikut dalam acara bakti sosial di keluarga Rahardian seakan tertanam sendiri dalam otak pintarnya.


"Boleh kok, sayang. Seperti biasa ya" sahut Biru.


"Iya, Mhiu"


Iyaah Miyuh.


Rain yang ikut menjawab malah membuat Biru, Embun dan Rini tertawa bersama. Bocah tak paham tapi selalu saja ikut-ikutan berkata iya.


Selesai makan di resto cepat saji, mereka pun langsung pulang. Rini yang membawa beberapa bungkusan tetap berjalan di belakang Embun. Sedangkan Biru menggendong Rain yang merengek karna lelah, si tampan yang kini menjadi lebih manja saat mulai merasa mengantuk.


"Kita pulang sama siapa?" tanya Embun saat di Lobby utama Mall.


"Tuh, sudah di jemput" jawab Biru sambil menunjuk satu mobil mewah berwarna hitam yang datang menghampiri.


Embun pun buru-buru membuka pintu belakang dann duduk disana bersama Biru juga Rain, berbeda dengan Rini yang akan duduk di depan di samping sang supir.


"Bul-Bul mau bobo?"

__ADS_1


"Enggak, nanti aja di rumah. Rain bobo ya?" Embun malah balik bertanya.


"Iya, capek banget dia"


.


.


Beberapa menit di perjalanan, kini kereta besi yang mereka tumpangi sudah masuk kearea garasi rumah utama. Biru langsung masuk kedalam menuju kamarnya. Tapi tidak dengan Embun yang ikut Rini ke rumah belakang untuk membagikan apa yang di beli Mhiu nya di resto cepat saji barusan.


Huaaa.... miyuuh.


Tangis Rain pecah saat ia di baringkan di tengah ranjang. Sulit bagi Biru kini membuat anak itu terlelap nyenyak saat tidur siang.


"Ssst.. diem. Nanti kalau nangis di gigit kecoa" bisik Biru sambil mengusap punggung Rain dalam pelukannya.


"Ya udah, diem. Gak boleh nangis, Ok. Tutup lagi matanya ayo bobo" titah Biru yang merasakan lelah dan pegal. Ia ingin berbaring sebentar sambil menemani putranya.


Nda keh, ucah ucah melem.


Biru menarik napas dalam-dalam. Jika sudah begitu berarti Rain gagal melanjutkan tidurnya.


Ia pun bangun dan membawa Rain untuk mandi karna sebentar lagi waktunya makan malam.


"Udah ganteng, udah wangi sekarang kita ke Moy ya. Mhiu juga mau mandi"

__ADS_1


Iyaaah.. Moy yuk...


Rain berjalan pelan menuju tangga, ia turun dengan sangat hati hati. Satu demi satu ia tapaki sambil bertepuk tangan dan berhitung secara acak atau berurutan namun hanya sampai empat karna setelah itu ia akan mengeluh capek dan mengulang lagi dari angka satu, begitu saja terus hingga mereka sampai di lantai bawah.


Embun yang sudah ada di pangkuan Air langsung di hampiri oleh Rain, lagi lagi bocah itu tak mau kalah dari kakaknya sampai Embun mengalah dan turun.


Miyong, na ya?


"Hayo, miongnya hilang" sahut Air menakut-nakuti


Ali... ali miyong Bum yuuuk


"Ada di kandang lagi bobo" sahut Hujan dengan sorot mata tajam kearah suaminya yang terkekeh kecil.


Bum, mahu miyong.


"Kakak ambil ya, Bum diem sini" ucap Embun berbaik hati.


Iyaaaah Ta Buuuy.


Rain yang ada di atas pangkuan Air malah turun, ia masuk kedalam pojokan sofa yang duduki Reza juga Melisa.


.


.

__ADS_1


Appa... iyem iyem keh, Bum upet ya..



__ADS_2