
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Biru yang baru saja selesai mencuci sprei langsung mengajak Rain keluar menuju kamar sang putra yang sebenarnya jarang sekali di tempati jika bukan untuk bermain karna Rain masih tidur dengannya sepanjang malam atau dengan MiMoynya sesekali. Anak laki-laki sang pewaris utama itu berjalan lebih dulu, ia yang sudah sampai hanya tinggal menunggu Mhiunya membuka pintu.
Acih yaaa
"Sama-sama, Sayang" balas Biru saat Rain mengucapkan Terima padanya.
Keduanya masuk kedalam, Rain melanjutkan langkahnya menuju tempat dimana semua mainannya berada dan kini semua sudah tumpah ruah di lantai.
Satu menit... dua menit hingga empat puluh lima menit semuanya aman, Biru yang bersamanya pun cukup senang karna Rain tak rewel tapi tiba-tiba bocah itu mendekat dan menarik dress bagian atas Mhiunya, drama pun di mulai.
.
.
.
Miyuuuuuh...
itit... itit... nyeh ya.
Rain terus saja berguling di karpet depan TV, ia menangis sudah lebih dari satu jam lamanya dan Biru masih tetap mengabaikan keinginan sang putra.
__ADS_1
Tiga bulan lalu Rain sudah merayakan hari ulang tahunnya yang kedua, tapi nyatanya sampai detik ini bocah tersebut masih enggan untuk meninggalkan si wadah gizi alami favoritnya.
Sudah berbagai cara dilakukan Biru, mulai mengalihkan perhatian sampai menakutinya juga.
"Sedikit, apa? kamu tuh kalau udah dikasih gak mau lepas" oceh Biru yang masih duduk bersandar di sofa sedangkan Rain di bawah.
"Sini bangun, Mhiu peluk aja sambil minum susu ya " tawarnya lagi yang entah sudah keberapa kalinya.
Nda.. Bum nyeh ya...
Drama itu pun terus berlanjut sampai Hujan datang menghampiri cucu laki-lakinya itu.
"Sini sama Moy, minum susu sama Moy ya" ajak Hujan saat masuk kedalam kamar Rain yang berantakan oleh mainannya.
Rain yang menangis sampai mengigit ujung dress Biru, ia semakin kesal saat Mhiu nya itu tetap bergeming tak merespon.
"Jangan sekaligus, Bi. Kasihan" ucap Hujan yang sebenarnya tak tega.
Wanita bergelar dokter bedah itu memang tak punya pengalaman soal menyapih anak, karna Sam dulu berhenti sendiri saat Hujan hamil anak kedua. Ia pun tak rewel dan langsung mau saat di alihkan ke susu formula malah semua itu berlanjut sampai masuk sekolah taman kanak-kanak.
"Nurun ke siapa ya, Moy bingung" kekeh Hujan sambil mengusap kepala Rain yang masih mengamuk.
"Kalo gak dimainin mungkin aku masih kasih, Moy." adunya pada sang mertua.
__ADS_1
"Men TiL ya, ya udah kasih aja dulu tapi jangan lama-lama, kayanya juga itu ngatuk banget. Sebentar juga pasti tidur" ucap Hujan memberi pengertian. Ia pun serba salah dalam mengambil sikap karna bagaimana pun Hujan takut membuat Biru tersinggung.
"Iya, Sih. Belum tidur juga"
Biru yang pasrah juga kasihan akhirnya luluh. Ia angkat tubuh Rain keatas pangkuannya, bocah itu pun langsung diam meski masih sedikit terisak sedih.
Biru langsung membukan dua kancing atasan dress nya kemudian mengeluarkan salah satu wadah gizi alami kesukaan putranya tersebut.
Rain yang senang langsung bertepuk tangan, sorot matanya seakan menyiratkan banyak ucapan terimakasih pada sang Mhiu yang kali ini rela mengalah lagi untuknya.
Rain menyes Ap dengan sangat kuat karna haus di tambah dekapannya Biru yang semakin membuat bocah itu merasa nyaman.
Nak kaaaan... Nyeh nak kaaan!
"Iya enak, udah cepetan" ucap Biru antara gemas dan kesal, apalagi senyum dan mata senang Rain yang selalu membuat Biru akhirnya kembali mengalah.
.
.
.
Gak usah senyum-senyum, jadi mirip Phiu nya banget, kan!
__ADS_1